Kopi Klodjen Djaya 1956, Coffee Morning Gratis di Hari Kopi Nasional

foto: Ipunk/Newmalangpos

NewMalangPos – Menyambut Hari Kopi Nasional Klodjen Djaja 1956 membagikan kopi pagi gratis, Kamis (11/3). Selama kurang lebih 3,5 jam mulai pukul 06.00 – 09.30 total kopi yang dibagikan kepada pelanggannya sebanyak 150 cup.

Kedai di jalan Cokroaminoto No. 2 Malang ini ingin mengingatkan kembali Hari Kopi Nasional yang jatuh setiap tanggal 11 Maret. Alasannya, sebagian besar masyarakat lebih familiar dengan Hari Kopi Internasional tanggal 1 Oktober.

“Kami ingin mengingatkan kembali Hari Kopi Nasional dengan program kopi pagi gratis. Total kopi yang kami bagikan ada 150 cup tetapi pelanggan kami lainnya yang datang dan tidak minum kopi pagi ada 50an lebih,” ungkap Owner Klodjen Djaja 1956, Didi Sapari.

Baca Juga :  De Telang Tongkring, Tongkrongan Baru ala eL Hotel Kartika Wijaya Batu

Perayaan Hari Kopi Nasional kali ini juga dimanfaatkan Klodjen Djaja 1956 untuk mengenalkan produknya ke khalayak umum bahwa kopi lokal Malang tak kalah nikmatnya. Untuk memeriahkan kopi pagi gratis, kedai ini mengundang Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti).

Klodjen Djaja 1956 pertama kali membuka gerainya tiga minggu lalu dengan mengusung konsep jadul tempo dulu. Nuansa lawas kedai ini dapat dilihat dari bangunannya yang masih mempertahankan keasliannya dan sepeda tua yang diletakkan di salah satu dinding ruangan.

Didi memaparkan tahun 1956 yang disematkan dalam brand kedainya adalah penanda bahwa bangunan ini mulai digunakan sebagai tempat usaha sejak tahun 1956 dimulai dari tempat penjualan daging. Untuk memperkuat 1956 tersebut kedai pun dibuat sederhana dan apa adanya.

Baca Juga :  BNI Cabang Malang Gandeng Komunitas Stasion Bantu Keuangan Startup

Selain konsep sederhana tersebut, harga menu yang ditawarkan pun sangat terjangkau. Hanya Rp 2000 per cup pada pukul 06.00-09.30 dan Rp 3000 pada pukul 16.00-22.00 untuk kopi tubruk robusta panas.

“Karena kami lokasinya di pasar, kalau pagi yang beli orang pedagang pasar atau orang yang mau ke pasar dan tukang becak. Sehingga kami berikan harga Rp 2 ribu untuk kopi pagi,” terangnya.

Meskipun satu cup hanya dibandrol dengan Rp 2 ribu namun customer dapat melihat langsung proses penyajian mulai dari biji yang sudah di sangrai. Kemudian di timbang dengan ukuran 13 gram, di giling hingga tahap penyajian. Tak jarang Didi juga memberikan edukasi singkat tentang kopi, pada akhirnya orang sekitar tertarik bahkan kini menjadi langganan setiap harinya.

Baca Juga :  Pasar Masih Cermati PSBB, Rupiah Melemah Dekati Rp 14.900

“Kami ingin mereka merasakan juga kopi yang benar-benar kopi, yang awalnya tukang becak cuma lihat-lihat aja di hari keempat mereka beli dan jadi langganan setiap harinya, buka jam 09.00-22.00 omsetnya Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu dengan harga Rp 2 ribu per cup,” urainya. (lin/ley)