Komnas PA Desak Kejari Tahan Julianto Eka Putra

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Batu, Supriyanto

Kasus Kekerasan Seksual Pelajar Batu Segera Disidangkan

Malang Posco Media, KOTA BATU – Tersangka kasus kekerasan seksual yang dilakukan kepada siswi salah satu sekolah swasta di Kota Batu baka masuk babak baru. Yakni Julianto Eka Putra (JE) bakal disidangkan di PN Malang.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Batu, Supriyanto bahwa Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur telah menyatakan berkas perkara kasus lengkap atau P-21. Sehingga berkas telah diserahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Batu per Senin 31 Januari 2021.

“Berkas perkara ini telah P-21. Sehingga mulai dari tersangka dan barang bukti telah diserahkan pada Kejari Batu dari Polda Jatim. Sekarang kami tengah melakukan proses finalisasi penyusunan dakwaan,” ujar Supriyanto kepada New Malang Pos.

Ia menjalankan, bahwa dalam sidang kekerasan seksual yang dilakukan JE nanti telah ditunjuk 10 Jaksa Penuntut Umum (JPU). Mereka terdiri dari empat JPU dari Kejati Jatim dan enam JPU dari Kejari Batu,” bebernya.

Baca Juga :  Sore Ini Pengumuman Hasil UTBK

Mantan Kajari Gorontalo ini menerangkan,  nantinya tersangka akan disidang di PN Malang. Pasalnya Kota Baru belum memiliki pengadilan sendiri. Kemungkinan pekan ini sudah bisa dilimpahkan ke PN Malang untuk dilakukan sidang.

“Tersangka akan dijerat 4 pasal dalam bentuk alternatif. Yakni pasal 81 ayat (1) jo pasal 76 D UU 23 tahun 2002 yang diubah UU 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Serta pasal 81 ayat (2) dan pasal 82 ayat (1) UU Perlindungan Anak serta pasal 294 ayat 2 KUHAP,” terangnya.

Perlu diketahui bahwa saat ini JE meski telah ditetapkan sebagai tersangka belum dilakukan penahanan. Pasalnya JE dinilai kooperatif selama masa penyidikan di Polda.

Sementara itu, Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa pihaknya akan mengawal kasus ini terus sampai di persidangan. Apalagi JE sebagai tersangka belum dilakukan penahanan.

Baca Juga :  Pengabdian Tim Dosen Ilmu Perpustakaan UM, Upgrade Kompetensi Alumni Berdasar SKKNI 2019

“Sekarang saya konsen untuk mengawal dan memastikan agar tersangka tidak melarikan diri. Selain itu saya berharap tersangka secara fisik agar segera diserahkan kepada Kejari menjadi tahanan Kejaksaan,” paparnya.

Arist menceritakan, sebelum kasus dinyatakan P-21, kuasa hukum JE melakukan praperadilan namun ditolak oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya (24/01) lantaran kurang pihak (tidak melibatkan Kejati.red). Begitu juga saat ini penasehat hukum JE kembali mengajukan praperadilan.

“Julianto alias Ko Jul yang sudah sekian lalu ditangguhkan penahanannya oleh Polda Jatim kini mempraperadikan Kapolda Jatim untuk yang kedua kalinya di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Padahal setelah praperadilan yang berlangsung pekan lalu diputuskan oleh hakim tunggal Martin Ginting hakim di PN Surabaya tidak bisa diterima atau ditolak,” tegasnya.

Baca Juga :  75 Civitas UB Covid-19, Larang Kegiatan di Hotel

Namun Selasa (25/01) Julianto melalui penasehat hukumnya mengajukan kembali praperadilan untuk yang  kedua kalinya dengan alasan putusan praperadilan yang pertama kurang bukti dan kurang pihak yakni tidak melibatkan Kejati Timur sebagai penuntut umum.

Atas dasar itulah Julianto mengajukan praperadilan yang kedua kalinya. Padahal, lanjut Arist, menurut keterangan saksi ahli pidana dari kedua belah pihak termohon dan pemohon maupun ketentuan KUHAP maupun ketentuan hukum lainnya menerangkan, keputusan praperadilan tidak dapat dibanding atau ditinjau kembali dalam objek dan perkara yang sama.

“Di sinilah diuji indepensi lembaga peradilan ini dalam menangani praperadilan ulang atas perkara kejahatan seksual yang merupakan kejahatan luar biasa dan leg specialist. Sehingga tidaklah berlebihan jika Kommas PA meminta PN Surabaya menolak dan tidak menerima gugatan Praperadilan Julianto Ekaputra tersangka pelaku kejahatan seksual terhadap Kapolda Jawa Timur,” pungkasnya. (eri/aim)

artikel Pilihan