Pendidikan Komdik Keuskupan Malang Gelar Diklat, Luluskan Calon Kasek Kreatif dan Kompeten

Komdik Keuskupan Malang Gelar Diklat, Luluskan Calon Kasek Kreatif dan Kompeten

KOMPAK: Ketua Komdik Keuskupan Malang, Frater. Dr. M. Monfoort, BHK., SE., M.Pd., MM., MH., MAP., M.Ak., (1) dan Dr. Dwi Ilham Raharjo, M.Pd (2) selaku nara sumber bersama para peserta Diklat Calon Kepala Sekolah dan panitia penyelenggara

MALANG, NewMalangPos – Komisi Pendidikan (Komdik) Keuskupan Malang kembali dipercaya menyelenggarakan Diklat Calon Kepala Sekolah. Bekerjasama dengan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur dan Lembaga Pengembangan Dan Pemberdayaan Kepala Sekolah Dan Pengawas Sekolah (LP2KS-PS). Bertempat di

Rumah Retret Andreas Fey Jalan Bandulan Barat.

Diikuti sebanyak 12 peserta. Dan digelar secara luring atau offline. Demi kenyamanan dan keamanan bersama seluruh peserta dan tim penyelenggara telah dilakukan Swab. Dan keseluruhan dinyatakan negatif.

Kegiatan yang digelar empat hari sejak (18/8) ini, merupakan puncak diklat setelah enam kali pertemuan mulai Februari 2021 lalu. Selama masa itu, para peserta digembleng dan diasah kemampuanya untuk menjadi calon kepala sekolah sesuai harapan.

Ketua Komdik Keuskupan Malang, Frater. Dr. M. Monfoort, BHK., SE., M.Pd., MM., MH., MAP., M.Ak., menyampaikan kegiatan Diklat lebih dititik beratkan pada skill dan leadership. Arahnya pada pengembangan kemampuan kepala sekolah yang mampu menjalankan tugasnya secara kompeten dan profesional.

“Tujuan kami dari Diklat ini nantinya dapat menghasilkan sosok kepala sekolah yang kompeten untuk menghadapi situasi saat ini,” katanya.

Peran sentral kepala sekolah sangat penting demi kemajuan lembaga yang dipimpinnya. Ini nantinya berkaitan dengan kualitas layanan pendidikan yang dijalankan. Sehingga perlu adanya sosok pribadi kepala sekolah yang ideal sebagai seorang pemimpin atau leader.

Karenanya, Komdik Keuskupan Malang merasa perlu  mengajukan diri kepada LPMP agar dapat memfasilitasi kegiatan Diklat. Dan pelaksanaanya dipilih secara offline. Dengan alasan pendekatan kemanusiaan agar para peserta mendapat sentuhan yang tidak biasa.

Kalaupun ada beberapa kesalahan selama dalam penugasan dapat langsung diperbaiki. “Lebih dari itu peserta Calon Kepala Sekolah ini merasa diteguhkan,” ucap Frater Monfoort.

Jumlah 12 orang peserta yang ikut diklat ini berasal dari 8 lembaga. Meski digelar oleh Keuskupan Malang, peserta juga banyak dari Keuskupan Surabaya. Awalnya ada 30 orang yang mendaftar.

Setelah dilaksanakan seleksi administrasi terjaring 22 orang. Kemudian yang lolos seleksi substansial sebanyak 12 orang. “Sebenarnya yang lolos seleksi substansial ada 16 orang. Tapi ada beberapa lembaga yang merasa keberatan secara finansial sehingga yang lanjut ada 12 orang,” terangnya. 

Rektor Universitas Katolik  Widya Karya Malang ini menjelaskan, seleksi substansial dilaksanakan dengan konsep wawancara. Materinya berkaitan dengan teknis dan psikotes.

Meliputi pengetahuan peserta tentang empat kompetensi seorang kepala sekolah. Yakni kompetensi sosial, kepribadian, profesional dan pedagogik.

Pria yang juga Ketua Komisi Pendidikan Katolik Keuskupan Malang ini menegaskan arah pelatihan diantaranya menekankan pada dua hal. Yakni penguatan jiwa entrepreneurship dan tugas supervisi.

Kemampuan entrepreneurship kepala sekolah nantinya akan dapat mengembangkan unit-unit yang ada di sekolah. Setiap potensi yang dapat dikembangkan ke arah dunia usaha dapat dijadikan satu kekuatan untuk menunjang finansial sekolah.

Sedangkan supervisi dijadikan satu tugas kepala sekolah untuk menilai keterampilan dan kompetensi guru. Dalam hal ini kepala sekolah perlu memberikan pendampingan guru dan pegawai. “Dari situ akan terjadi evaluasi terhadap kinerja guru dalam menyikapi kemajuan di dunia pendidikan,” terang Frater Mon.

Selain itu menurutnya seorang kepala sekolah harus punya profil yang ideal. Minimal mampu memahami pengelolaan administrasi dan manajemen sesuai peraturan. Juga dapat membaca perubahan yang terjadi karena faktor kemajuan zaman. “Dengan begitu kepala sekolah mengerti apa yang harus dilakukan dan mampu mengambil keputusan yang tepat,” jelasnya.

Frater Monfoort merasa bangga terhadap terselenggaranya kegiatan ini. Karena menjadi satu-satunya keuskupan yang dipercaya pemerintah untuk menyelenggarakan Diklat calon kepala sekolah. Ada 37 keuskupan di Indonesia. Hanya keuskupan Malang yang mendapat kepercayaan ini.

Tak lupa Pria ramah ini menyampaikan terimakasih kepada pihak yang terlibat dalam kegiatan diklat. “Terimakasih atas kepercayaan LPMP dan LP2KS-PS yang sangat familiar dan profesional. Kepercayaan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” ucapnya.

Diklat kali ini menerapkan model terbaru. Peserta harus melalui seleksi administrasi dan seleksi substansial. Baru kemudian mengikuti Diklat sebanyak 300 jam pelajaran.

Kegiatan diklat dilaksanakan sudah lebih dari empat bulan. Karena banyak sesi yang tertunda akibat pandemi covid-19. “Kami ditawarkan untuk online tapi kami lebih memilih offline karena Diklat ini harus benar-benar serius, golnya untuk melahirkan calon kepala sekolah yang tangguh, kreatif dan kompeten,” tegasnya. 

Peserta yang lulus nantinya akan mendapat Nomor Unik Kepala Sekolah (NUKS) dari Kemendikbud. Tentu setelah dilakukan penilaian oleh LPPM dan LP2KS-PS.

Frater Monfoort memastikan bahwa kualitas pelaksanaan diklat tidak berbeda dengan yang dilaksanakan oleh lembaga pemerintah. Pasalnya kegiatan ini mendapat pembinaan langsung dari LPMP dan LP2KS-PS.

Kedepannya, kata dia, kepala sekolah yang tidak punya NUKS sudah tidak boleh menandatangani ijazah. Aturan ini sebenarnya berlaku sejak 2020. Namun karena pandemi, hingga saat ini kebijakan tersebut belum berlaku sepenuhnya. Pemerintah masih memberikan kelonggaran. Tapi yang pasti akan berlaku di tahun 2022 atau 2023. (sir/imm)

Exit mobile version