Kekuatan Ekor Biru Nataga

50

Dongeng sebelum tidur,

Ceritakan yang indah biar kuterlelap

Dongeng sebelum tidur

Mimpikan diriku,

Mimpikan yang indah

(Reff lagu “Dongeng” grup band Wayang)

NewMalangPos – Mendongeng di era digital? Rasanya hal ini sudah lama ditinggalkan. Apalagi untuk pasangan muda yang sibuk bekerja. Mengapa harus mendongeng? Kan sekarang ada youtube yang sudah menyediakan  segala yang kita perlukan? So it’s easy, ngapain repot-repot mendongeng sendiri?

          Beberapa orang pasti berpikiran begitu. Tak dipungkiri memang era digital memberi kita banyak kemudahan. Namun, jangan terlena dengan kemudahan itu sendiri. Rasa kemanusiaan perlu dilatih dengan komunikasi. Terbayang, apa yang akan terjadi pada anak kita seandainya dia diasuh oleh youtube yang notabene segalanya ada di youtube. Tak ada keresahan sedikitpun kah ketika semua tersedia dengan mudah?

          Ada banyak hal yang tanpa disadari hilang dalam kehidupan bermasyarakat dengan hadirnya digitalisasi. Salah satunya adalah sentuhan kemanusiaan dalam diri manusia itu sendiri. Penelitian yang dilakukan Nur Rahmatul Azkiya dan Iswinarti, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang berjudul ‘Pengaruh Mendengarkan Dongeng Terhadap Kemampuan Bahasa Pada Anak Prasekolah’ membuahkan hasil bahwa mendongeng merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak. Karena dalam mendongeng terjadi proses mendapatkan kosa kata baru, mengevaluasi serta memahami informasi baru.

          Penelitian tersebut juga menyebutkan tentang penelitian yang mendukung bahwa peningkatan kemampuan bahasa dapat diperoleh dari pemberian dongeng. Penelitian itu dilakukan oleh Lamuningtyas (2012) yang membuktikan bahwa adanya peningkatan kemampuan bahasa yang sangat signifikan. Aspek kemampuan bahasa yang diteliti adalah kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

          Keempat aspek ini dinilai sangat penting untuk digunakan sebagai sarana komunikasi. Di jenjang SMP peserta didik diajarkan tentang cerita fantasi. Hal itu tertuang dalam salah satu tujuan Kurikulum 2013 yaitu membentuk dan meningkatkan sumber daya manusia. Yaitu peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan komunikatif dalam proses pembelajaran serta mampu memproduksi beragam jenis teks berdasarkan Kompetensi Dasar (KD) yang dipelajari sesuai dengan Kurikulum 2013.

          Siswa diwajibkan memproduksi teks pada Kurikulum 2013, dalam hal ini yaitu teks cerita fantasi yang dipelajari siswa kelas VII pada Sekolah Menengah Pertama (SMP). Cerita fantasi secara teori memiliki beberapa unsur intrinsik yang biasa juga disebut unsur pembangun cerita. Yaitu tema, tokoh, alur, setting, sudut pandang, dan amanat (pesan moral).

          Di pesan moral inilah diajarkan mengenai kehidupan, perjuangan, kebaikan, dan cinta. Pesan moral dapat dilihat juga lewat watak-watak tokoh dalam cerita. Selain itu cerita fantasi juga mengajak pembaca untuk berimajinasi yang bisa juga memberi manfaat rekreasi. Apalagi sekarang di masa pandemi saat semua aktivitas ke luar rumah serba dibatasi. Membaca cerita fantasi dapat memberikan makanan bagi jiwa-jiwa yang mulai jenuh dan bosan berdiam di rumah.

          Keajaiban Ekor Biru

          “Serbuuuu…!” teriak Nataga sambung-menyambung dengan seluruh panglima.

          Pasukan terdepan dari binatang-binatang hutan segera mengepung para serigala dengan lemparan bola api. Namun, pemimpin pasukan tiap kelompok serigala langsung mengatur kembali anak buahnya pada posisi siap menyerang.

          “Hai…! Tak ada gunanya kalian melempar bola api kepada kami!” Seru serigala dengan sorot mata tajam penuh amarah.

          “Gunakan kekuatan ekormu, Nataga!” bisik Dewi kabut di telinga Nataga.

          Tiba-tiba, Nataga pemimpin perang seluruh binatang di Tana Modo segera melesat menyeret ekor birunya. Mendadak ekor Nataga mengeluarkan api besar. Nataga mengibaskan api pada ekornya yang keras, membentuk lingkaran sesuai tanda yang dibuat oleh semut, rayap, dan tikus. Lalu, ia melompat bagai kilat dan mengepung serigala dalam api panas.

          Cerita ‘Nataga, The Little Dragon’ bercerita tentang ‘Kerinduan akan orang tua, membawa Nataga dan kelima saudaranya mencari jejak keberadaan orang tua mereka. Perjuangan yang gigih akhirnya membawa mereka menemukan keberadaan sang ibu sekaligus mengetahui seluk beluk tentang siluman iblis dan raja serigala.

          Dengan bantuan dan kerjasama serta strategi yang apik, di bawah pimpinan Nataga para binatang di Tana Modo berhasil mengalahkan siluman iblis dan raja serigala. Kemenangan ini mengukuhkan mereka sebagai Enam Sang Naga Beo.

          Keajaiban yang terjadi di cerita fantasi Kekuatan Ekor Biru Nataga adalah: Ekor Nataga mengeluarkan api besar, Nataga mengibaskan api pada ekornya yang keras, membentuk lingkaran sesuai tanda yang dibuat oleh semut, rayap, dan para tikus.

          Ugi Agustono penulis buku lewat tokoh Nataga mengajak pembaca berfantasi dan berimajinasi mengenai negeri antah berantah. Banyak pesan yang disampaikan dalam cerita ini, arti keluarga, sahabat, serta bagaimana menghadapi dan menyelesaikan sebuah masalah. Ada pula tentang perjuangan komodo-komodo kecil yang harus berjuang sendiri setelah keluar dari cangkang telurnya untuk menjalai sebuah kehidupan.

Cerita Fantasi

          Intannia Cahyasari Mahasiswa Program Studi S2 Linguistik Terapan Universitas Negeri Yogyakarta menyebut membacakan cerita fantasi adalah salah satu cara berkomunikasi dengan si anak. Dengan bercerita, pesan-pesan moral dapat diselipkan. Sebagai orang tua maupun orang terdekat anak, meluangkan waktu untuk duduk dan berkonsentrasi dengan mereka dapat memberikan manfaat yang luar biasa yang didapatnya.

          Anak-anak yang biasa mendengar atau membaca cerita biasanya tumbuh menjadi anak yang lebih pandai, lebih tenang, lebih terbuka, dan lebih stabil secara emosionalnya bila dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendapatkan cerita. Melalui cerita fantasi, daya khayal, perbendaharaan kata, daya ingat, dan cara berbicara berkembang sesuai dengan kesan yang ditangkap baik oleh si anak. Hal tersebut berdasarkan kesimpulan dari tiga orang peneliti berkebangsaan Jerman (H.G. Wahn, W. Hesse, dan U.Schaefer, 1980).

          Cerita fantasi ini merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Ajaran moral disampaikan secara simbolistik melalui sikap, perilaku, tindakan tokoh, dan berbagai aksi dan peristiwa yang mengiringinya. Sambil bercerita, dapat disuntikkan mana yang baik untuk ditiru dan mana yang tidak baik. Tentunya bercerita memiliki efek yang lebih baik daripada hanya mengatur anak dengan hanya memerintah atau dengan cara kekerasan (memukul, mencubit, menjewer, membentak, dan lainnya).

          Mari rasakan keajaiban cerita fantasi lainnya untuk meningkatkan imajinasi, dan rasakan pula manfaat rekreasi di masa pandemi dengan kreatif memilih fantasi. Yang tidak kalah pentingnya adalah pengayaan karakter yang begitu luar biasa dalam setiap cerita.(*)