Keistimewaan Bulan Sya’ban di Era Pandemi

13

Oleh : Prof. Dr. H. Maskuri Bakri,M.Si

Rektor Universitas Islam Malang

Malang, NewMalangPosBulan Sya’ban merupakan bulan sebelum Ramadan yang sangat dinantikan kehadirannya oleh kaum muslimin. Banyak ritual untuk taqorrub kepada Allah di bulan ini, sebagai ‘pemanasan’ menjelang Ramadan. Ada beberapa keistimewaan pada bulan Sya’ban, yakni; Pertama, segala amal perbuatan manusia diangkat ke hadlirat Allah SWT., Allah mengawasi hamba-hamba-Nya, mengampuni mereka yang memohon ampunan, mencurahkan kasih sayang bagi mereka yang mengharapkannya, dan menyingkirkan sifat-sifat yang kurang terpuji bagi hambanya.

Keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasa disebut sebagai “Nisfu Sya’ban”. Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam Nisfu Sya’ban, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT., dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengutip sebuah hadits riwayat An-Nasa’i yang meriwayatkan dialog Usamah bin Zaid dan Nabi Muhammad SAW., dijelaskan bahwa; “Wahai Nabi, aku tidak melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Banyak manusia yang lalai di bulan Sya’ban,  Padahal di bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah SWT., dan aku suka ketika amalku diserahkan kepada Allah, aku dalam keadaan puasa.”

Penyerahan amal yang dimaksud adalah penyerahan seluruh rekapitulasi amal kita secara penuh. Walaupun, menurut Sayyid Muhammad Alawi, ada beberapa waktu tertentu yang menjadi waktu penyerahan amal kepada Allah selain bulan Sya’ban, yaitu setiap siang, malam, setiap pekan. Ada juga beberapa amal yang diserahkan langsung kepada Allah tanpa menunggu waktu-waktu tersebut, yaitu catatan amal salat lima waktu.

Sisi lain, Sya’ban adalah bulan yang penuh dengan ampunan, menurut Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Para Ulama menyatakan, Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT., menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang shaleh.

Kedua, peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Sya’ban. Menurut Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surat al-Baqarah ayat 144 dalam kitab al-Jami’ li Ahkāmil Qur’an dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti mengatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban yang bertepatan dengan malam nisfu Sya’ban.

Peralihan kiblat ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad SAW., bahkan diceritakan Nabi Muhammad SAW berdiri menghadap langit setiap hari menunggu wahyu turun perihal peralihan kiblat itu seperti Surat Al-Baqarah ayat 144, yang artinya; “Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai, palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

Ketiga, Penurunan ayat tentang anjuran Shalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW., pada bulan Sya’ban juga diturunkan, ayat anjuran bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu Surat Al-Ahzab ayat 56, yang artinya “Sungguh Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, wahai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Ibnu Abi Shai Al-Yamani mengatakan, bulan Sya’ban adalah bulan shalawat, karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran shalawat diturunkan. Pendapat ini dikuatkan oleh pendapat Imam Syihabuddin Al-Qasthalani dalam Al-Mawahib, serta Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mengatakan bahwa ayat itu turun pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriyah.

Dari segi linguistik, Al Imam ‘Abdurraḥmān As Shafury dalam kitab Nuzhatul Majâlis wa Muntakhabun Nafâ’is mengatakan bahwa kata Sya’bān merupakan singkatan dari huruf shīn yang berarti kemuliaan, huruf ‘ain yang berarti derajat dan kedudukan yang tinggi yang terhormat, huruf ba’ yang berarti kebaikan, huruf alif yang berarti kasih sayang, sedangkan huruf nun yang berarti cahaya.

Bila ditinjau dari segi amaliyah, termaktub beberapa hal yang lazim dilaksanakan pada malam Nisfu Sya’bān, yaitu membaca Surat Yasin sebanyak 3 kali yang dilanjutkan dengan berdoa. Tradisi demikian selain sudah berkembang di Tanah Air “Nusantara”, juga menjadi amaliyah tahunan yang dilaksanakan secara rutin terutama oleh masyarakat Nahdlatul Ulama’.

Rasulullah SAW menyatakan dalam sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Dailami, Imam ‘Asakir, dan Al-Baihaqy, bahwa; ‎“Ada 5 malam di mana doa orang mukmin tidak tertolak, yaitu malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya‘ban, malam Jum’at, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha”; artinya, “Siapa saja yang menghidupkan dua malam hari raya dan malam Nisfu Sya‘ban, niscaya tidaklah akan mati hatinya pada hari di mana pada hari itu semua hati menjadi mati.”

Terdapat beberapa amalan yang afdhol di bulan Sya’ban, yakni pertama; pusa Sya’ban; kedua, meperbanyak berdo’a merupakan amalan bulan Sya’ban yang sangat mulia, hadits riwayat Abu Bakar menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW mengatakan “(Rahmat) Allah SWT., turun ke bumi pada malam Nisfu Sya’ban, Allah akan mengampuni segala sesuatu, kecuali dosa musyrik dan orang yang di dalam hatinya tersimpan kebencian (kemunafikan),” (HR. Al-Baihaqi); ketiga, membaca al Qur’an, hal ini didasarkan pada pandangan beberapa sahabat Rasulullah yang menganggap Sya’ban adalah bulannya al Quran, dalam riwayat Ibnu Rajab, Anas ra. bercerita tentang kesibukan para Sahabat Rasulullah ketika masuk bulan Sya’ban, salah satunya adalah membaca al Quran.

Anas bin Malik RA berkata, “Kaum Muslim ketika telah memasuki bulan Sya’ban, mereka mengambil mushaf-mushafnya kemudian membacanya, mereka juga mengeluarkan zakat dari hartanya agar dapat membantu menguatkan orang fakir dan miskin untuk turut serta menunaikan puasa di bulan Ramadan; keempat, memperbanyak dzikir, dzikir merupakan salah satu amalan yang bisa dilakukan saat malam Nisfu Sya’ban, memperbanyak dzikir saat malam Nisfu Sya’ban tentunya akan memperbanyak pahala, Sayyid Muhammad bin Alawi menjelaskan bahwa “Seyogianya seorang muslim mengisi waktu yang penuh berkah dan keutamaan dengan memperbanyak membaca dua kalimat syahadat, La Ilaha Illallah Muhammad Rasululullah, khususnya bulan Sya’ban dan malam pertengahannya; dan kelima, Salat malam, anjuran salat malam ini berdasarkan hadits riwayat Al Baihaqi dari ‘Ala bin Haris, yang artinya: “Sayyidah A’isyah bercerita: “Suatu malam Nabi Muhammad SAW salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Nabi Muhammad SAW telah wafat, karena curiga maka aku berdiri dan aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Nabi Muhammad SAW., selesai salat beliau berkata: “Hai Aisyah, apakah engkau menduga Nabi Muhammad SAW tidak memperhatikanmu?” Lalu Aisyah menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berpikiran yang tidak-tidak (menyangka Nabi SAW telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”, lalu beliau bertanya: tahukah engkau, malam apa sekarang ini? Aisyah menjawab, Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu, Nabi Muhammad SAW berkata, “malam ini adalah malam Nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki.

Untuk itu, melaksanakan amalan-amalan ibadah pada bulan Sya‘ban merupakan suatu anjuran dan syari’at Rasulullah Muhammad SAW., di sisi lain penting untuk diperhatikan bahwa amaliah menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban merupakan persoalan furū’iyyah, maka seluruh elemen umat Islam selazimnya memiliki semangat toleran untuk menciptakan harmonisasi, mengingat pelaksanaan amaliyah ini berfungsi untuk mempertebal keimanan hamba terhadap Allah SWT, untuk melakukan tazkiyatun nufs melalui taqorrub ‘alallah, apalagi di era pandemi Covid 19 seperti sekarang ini, hamba Allah harus banyak melakukan muhasabah, istighfar terhadap dosa-dosa yang telah di perbuatnya, sudahkan melakukan kehambaannya pada Allah dengan baik, atau justru banyak berlumuran dosa dan noda, di sinilah momentum orang muslim untuk memperbaiki diri.

Islam adalah agama yang fleksibel terkait masalah prinsip dasar (ushuliyyah) dan bergerak secara eksklusif tanpa ada perdebatan, sedangkan terkait masalah cabang (furu’iyyah) bergerak secara inklusif, siapapun bisa memiliki perspektif. Urusan-urusan yang termasuk unity of diversity (al-ijtimā’ fil ikhtilāf) merupakan bentuk keluasan dari ajaran Islam itu sendiri. (*)