Kecanduan Ikatan Cinta

62
NMP
Sugeng Winarno Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

NewMalangPos – Siapa yang tak kenal sinetron Ikatan Cinta. Mulai anak-anak, remaja, ibu-ibu, hingga para bapak banyak yang gandrung pada tayangan sinema elektronik ini. Bahkan tak sedikit penonton yang kecanduan, tak ingin ketinggalan satu episode pun. Sinema televisi Ikatan Cinta ini sangat fenomenal menyedot perhatian masyarakat. Benar kata Neil Postman (1995) dalam bukunya “Amusing Ourselves to Death/Menghibur Diri Sampai Mati: Mewaspadai Media Televisi” yang menyatakan bahwa media televisi mampu menghibur diri penontonnya sampai mati.

            Tak bisa dipungkiri bahwa orang menonton televisi mayoritas guna mencari hiburan, selain untuk mendapatkan informasi dan edukasi. Segala kepenatan dan kepahitan hidup bisa sesaat sirna dengan menyaksikan televisi. Melalui beragam program acara, televisi mampu menghipnotis penontonnya agar terpikat tak hanya pada sajian utama tayangan yang disaksikan, namun juga aneka iklan yang berkelindan diantara acara yang sedang dinikmati.

            Televisi memang masih menjadi media yang cukup ampuh menghibur penontonnya. Walaupun saat ini telah muncul media baru berbasis internet, namun televisi tak lantas ditinggalkan masyarakat. Bahkan kini televisi telah bersinergi dengan aneka platform media sosial (medsos) hingga menjadikan media pandang dengar ini tetap eksis. Sukses sinetron Ikatan Cinta ini misalnya, juga didukung masifnya narasi tentang seluk beluk tayangan ini di YouTube, Instagram, dan beberapa platform medsos yang lain.

Memainkan Emosi Penonton

            Salah satu yang menjadi daya pikat sinetron Ikatan Cinta adalah cerita dan permainan peran para pemainnya. Tak jarang emosi penonton diaduk-aduk dalam mengikuti ceritanya. Sengaja disajikan adegan (scene) yang mampu membuat baper. Hingga tak jarang penonton yang sampai ikut menangis, galau, sedih, jengkel, dan marah. Apa yang terjadi dalam sinetron Ikatan Cinta hampir serupa dengan apa yang ada dalam drama Korea (Drakor).

            Pada bulan Februari ini, Ikatan Cinta menjadi sinetron yang paling populer di masyarakat. Jumlah penontonnya (rating) mencapai angka 50,5. Ikatan Cinta telah memecahkan rekor jumlah penonton terbanyak dalam 15 tahun terakhir. Angka ini jauh melampaui angka rating tayangan sinetron yang pernah sukses sebelumnya yakni sinetron Tersanjung dan Cinta Fitri. Ini membuktikan bahwa media televisi masih menjadi media yang penetrasinya masih sangat besar.

            Sinetron kejar tayang (stripping) yang disiarkan oleh stasiun televisi RCTI ini merupakan besutan MNC Pictures yang ditayangkan rutin pukul 19.30 WIB. Sinetron yang dibintangi Arya Saloka (Aldebaran), Amanda Manopo (Andin), Evan Sanders (Nino), Glenca Shysara (Elsa), Surya Saputra (Surya), Fiki Alman (Roy), Natasha Dewanti (Sarah), Henny Veronika (Mirna), Ivanka Suwandi (Chandra), dan beberapa pemeran lain berhasil dengan apik memainkan cerita yang ditulis oleh Theresia Fransisca dengan arahan Sutradara Doddy Djanas, Sendy Widodo dan Teguh Prayogi.

            Dalam sinetron ini, emosi penonton benar-benar dimainkan. Melalui sinetron ini penonton diajak bahagia melalui adegan yang romantis, melampiaskan rasa marah lewat adegan yang kejam, dan meluapkan kesedihan dengan menangis karena adegan yang menyentuh. Alur ceritanya juga dibuat naik turun. Akhir setiap episode sengaja dipotong sehingga penonton menanti dan penasaran akan kelanjutan ceritanya. Emosi penonton inilah yang selalu dimainkan dan penonton pun suka dan seperti terhipnotis mengikutinya.

Kecanduan Televisi

            Bujuk rayu televisi memang perkasa. Tak hanya membuat penontonnya terbawa permainan memikat sang pengisi acara, namun juga mampu membuat penonton kecanduan. Dalam sinetron Ikatan Cinta misalnya, cerita sengaja didesain sedemikian rupa agar penonton selalu mengikuti. Tak jarang cerita dibikin menggantung, penonton dibuat penasaran menanti kelanjutannya. Disinilah candu televisi itu begitu melenakan hingga membuat penonton tak berdaya. 

            Tayangan televisi bukan kali ini saja bikin kecanduan. Sejumlah acara lain non sinetron juga banyak yang membuat pemirsa tak bisa berpaling. Apapun bentuknya, sesungguhnya kecanduan itu dapat berdampak buruk. Orang tak bisa hanya berfikir bahwa kecanduan narkoba itu berbahaya, sejatinya kecanduan acara televisi juga bisa berakibat buruk. Tak jarang penonton televisi yang tanpa sadar diekploitasi oleh produsen tayangan.  Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya sikap kritis penonton. Tak banyak penonton yang menyadari bahwa sinetron itu hanyalah sebuah rekayasa.

            Sinetron yang tayang perdana sejak 19 Oktober 2020 ini memang muncul disaat yang pas. Situasi pandemi membuat banyak orang tak leluasa keluar rumah. Menonton televisi di rumah menjadi pilihan banyak orang. Banyak orang yang awalnya iseng-iseng mengisi waktu di rumah dengan menonton televisi akhirnya jadi ketagihan. Terutama sinetron, tayangan jenis ini memang mampu menyedot perhatian banyak pemirsa televisi. Tak sedikit orang merasa jenuh melihat berita Covid-19, akhirnya lari ke sinetron.

            Dalam kebanyakan sinetron, tak perlu mengajak penontonnya berfikir. Tak perlu juga alur cerita yang logis. Cerita khayal dan kadang tak masuk akal tak jadi masalah. Yang penting menghibur, itulah yang dicari penonton. Tak perlu ambil pusing dengan muatan edukasi, yang penting bikin happy. Sikap kurang kritis inilah yang menjadikan posisi penonton jadi tak berdaya atas eksploitasi media. Lemahnya tingkat melek media (media literacy) penonton televisi menjadikan dampak buruk televisi sulit dicegah.

            Saat pandemi Covid-19 belum usai dan saat pemerintah masih terus mengampanyekan disiplin protokol kesehatan dan sukseskan vaksinasi penting kiranya pesan-pesan kesehatan dititipkan melalui sinetron Ikatan Cinta ini. Mumpung sinetron ini lagi banyak digandrungi, menyelipkan pesan kesehatan dalam beberapa adegan sinetron ini bisa kuat menerpa penonton. Dalam beberapa adegan sinetron ini penting menampilkan visualisasi para pemainnya yang bermasker, jaga jarak, dan tak berkerumun.

            Kalau beberapa pesan penting protokol kesehatan bisa muncul dalam visualisasi sinetron Ikatan Cinta, harapannya penonton setia tayangan ini timbul kepatuhan untuk selalu memakai masker, menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan, selalu mencuci tangan pakai sabun, membatasi mobilisasi dan interaksi, serta mendukung program penyuntikan vaksin. Jika hal itu bisa terjadi maka melalui sinetron bisa berkontribusi membangun kesadaran masyarakat berdisiplin menjalankan protokol kesehatan dan mendukung program vaksinasi. (*)