KARTU MERAH

NEW MALANG POS – Kartu Merah! Ya, dua minggu ini kartu merah menjadi perbincangan menarik di kalangan masyarakat, khususnya Aremania dan pecinta bola di Malang Raya dan sekitarnya.

Kartu merah itu menyulut dan mengaduk-aduk emosi pecinta bola di Malang. Tuduhan pada wasit pun beragam. Wasit kejam, wasit emosional dan wasit tidak profesional.

Pada pertandingan perdana Arema melawan PSM Makassar di Stadion Pakansari Bogor, Minggu (5/9) malam, Jayus Hariono dikartu merah wasit pascapelanggaran kepada Sutanto Tan. Akibatnya Arema harus pontang panting meladeni Tim Juku Eja. Beruntung Dendi Santoso dkk berhasil mencuri poin dengan sekor imbang 1-1.

Ekspektasi publik terhadap tim Singo Edan sedang tinggi-tingginya. Namun fakta di lapangan menyuguhkan hal lain. Salah satu penyebabnya adalah Kartu Merah yang dicabut secara dini oleh wasit terhadap Jayus Hariono. Sontak Jayus pun sangat tertekan. Padahal tentu, setiap pemain berusaha untuk tampil sangat baik demi kebanggaan timnya. Tak ada satupun pemain yang punya ambisi timnya kalah. Pasti semua ingin menang. Dan menangnya besar.

Baca Juga :  KPK Sampaikan Hasil Penggeledahan di Pemkot Batu

Pada pertandingan kedua, Arema FC melawan Bhayangkara FC di Stadion Pakansari Bogor, Minggu (12/9) sore. Kondisi berbalik, bukan pemain Arema yang diganjar kartu merah. Tapi pemain lawan. Ekspektasi warga Malang tetap tinggi. Arema harusnya bisa menang karena bermain melawan 10 orang.

Tapi fakta di lapangan menyajikan permainan yang kurang enak dinikmati. Tiga striker Arema Carlos Fortes, Dedik Setiawan dan Kushedya Hari Yudo yang turun bersamaan tidak mampu menjebol gawang lawan. Lagi-lagi skor berakhir imbang 1-1. Tentu hasil ini membuat siapa pun, termasuk Presiden Arema FC Gilang Widya Permana kecewa. Tapi itulah sepak bola.

Baca Juga :  Memerdekakan Buruh Dari Belenggu Pandemi

Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah Kartu Merah. Kartu maut ini bila dikeluarkan memberikan atmosfir kalah, pesimisme, dan loyo bagi sebuah tim yang sudah solid dan siap menang. Sebaliknya bagi lawan, Kartu Merah ini adalah kekuatan, semangat dan peluang kemenangan untuk menghajar lawan. Kesempatan yang sangat besar untuk membombardir pertahanan lawan karena jumlah tidak imbang.

Pertanyaannya, apakah benar wasit yang menghukum Jayus Hariono dengan Kartu Merah pada pertandingan itu sudah benar keputusannya? Sudah adilkah keputusannya? Sudah profesional kah saat menjalankan tugasnya sebagai pengadil di lapangan hijau? Tidak perlukah wasit bermusyawarah dengan dua asisten wasitnya dan pemimpin pertandingan? Apalagi ini era digital, wasit bisa berkomunikasi sebelum memutuskan keputusannya.

Baca Juga :  PKS Kota Malang Berduka, Ir H Achmad Zainuddin Berpulang

Menjawab pertanyaan ini, pasti kita juga harus adil. Karena pada posisi mana kita berada untuk memberikan jawaban itu juga sangat menentukan. Bagi sang wasit, tentu keputusan ini dianggap dan diyakini benar. Bahkan Kartu Merah harus dikeluarkan karena pemain dianggap membahayakan lawan.

Tapi jawaban ini bisa dibantah. Kenapa langsung Kartu Merah? Tidak bisakan kartu kuning dulu, baru kemudian Kartu Merah? Karena saat itu pertandingan baru berjalan beberapa menit dan tensi pertandingan memang berlangsung seru. Tidak adakah maaf dengan mengeluarkan kartu kuning dulu? Pertanyaan kritis ini juga layak disorongkan ke wasit.

Pilihan Pembaca