Kampus Pilih Wisuda Online

foto firman/nmp

Malang, NewMalangPos – Perguruan tinggi negeri dan swasta langsung apresiasi kebijakan Wali Kota Malang Sutiaji membolehkan wisuda tatap muka. Salah satunya dari ITN Malang yang akan gelar wisuda ke-65 Sabtu (27/3) mendatang.

Namun demikian Rektor ITN Malang Prof Dr  Eng  Ir Abraham Lomi, MSEE menilai Surat Edaran (SE) Wali Kota Malang No 13 tahun 2021 itu terlambat. Sebab ITN Malang sudah memutuskan wisuda digelar full daring. “Tentu kita menyambut baik (kebijakan wali kota). Tapi terlambat, kita akan tetap gelar secara daring,” ucapnya.

Waktu yang tinggal tiga hari tidak cukup untuk mengubah teknis acara. Apalagi mahasiswa dan lulusan yang akan wisuda sudah pulang ke daerah masing-masing. Untuk kembali ke Malang juga tidak mungkin dalam waktu sesingkat itu.

Mereka harus mengikuti prosedur perjalan jauh. Seperti swab test dulu dan sebagainya. “Akhirnya kita memutuskan kegiatan nanti berlangsung full daring,” tegasnya.

Baca Juga :  Banjir Rendam 24 Rumah di Sumawe

Baca Juga: Satu Sudah Dikuburkan, Pemakaman Jenazah Covid-19 Tertukar

Ia menjelaskan di tempat wisuda kali ini tidak ada perwakilan dari mahasiswa. Termasuk mahasiswa lulusan terbaik. Karena jumlah wisudawan yang cumlaude pun bersama pendampingnya melebihi batas ketentuan protokol kesehatan. “Andaikan kita bisa menerima lebih cepat mungkin masih bisa dikondisikan,” imbuhnya.

Aturan SE wisuda baru bisa dilaksanakan ITN Malang untuk kegiatan wisuda selanjutnya. Rencananya pada September 2021 mendatang.

Lomi berharap pandemi segera berakhir. Sehingga juga berdampak baik pada sistem pendidikan. Termasuk event-event penunjang. “Kalau wisuda selanjutnya bisa full offline, maka kita hadirkan semua wisudawan di kampus. Semoga nanti kondisinya semakin membaik,” harapnya.

Meski wisuda kali ini full online, ITN Malang juga melakukan komunikasi dengan Satgas Covid-19. Karena rektor dan anggota senat tetap berkegiatan di kampus. “Kalau izin sudah kita komunikasikan dengan pihak satgas. Kami tidak mau mengambil risiko akan terbentuknya klaster baru Covid-19,” tandasnya. 

Baca Juga :  Insentif Nakes Covid Diduga Disunat, Dinkes Turun Tangan

Sementara untuk sistem perkuliahan ITN mulai semester ini sudah menerapkan sistem hybrid. Yakni perpaduan daring dan luring. Ditambah dengan beredarnya SE Wali Kota semakin mematahkan sistem hybrid ini.

Di tahap awal semua materi disampaikan dosen secara daring. Baru setelah kuliah ke sembilan dilanjutkan dengan luring. “Ini sebagai upaya kita untuk menjaga kualitas pendidikan dan pengajaran. Apalagi di semester akhir materinya lebih banyak pada praktikum,” terang Lomi.

Baca Juga: Tim Pansel: Kapabilitas Keenam Calon Sekkota Malang Seimbang

Berbeda dengan ITN, Universitas Negeri Malang (UM) berpendapat sebaliknya. UM belum bisa menerapkan SE wali kota tersebut. Dengan alasan SE itu tidak cukup efektif untuk menghindari penyebaran Covid-19.

Baca Juga :  Hardiknas Yayasan Mardi Wiyata Sub Perwakilan Malang, Bersinergi, Serentak Tanam Toga

Hal itu disampaikan Wakil Rektor III UM Dr Mu’arifin, M.Pd. Ia mengatakan, saat ini pemerintah sudah mulai memberikan izin untuk beberapa kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Sebut saja sepak bola. Sudah mulai bergulir sejak pekan ini. Hanya aturannya ketat. Tanpa penonton dan setiap pemain wajib swab test. “Nah, kalau wisuda ini kan tanpa swab. Mengumpulkan 200 wisudawan dan 400 pendamping dari berbagai daerah. Tentu masih rentan,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut Mu’arifin untuk gelaran wisuda selanjutnya UM masih menggunakan sistem daring. Ada 800 lebih mahasiswa yang sedang proses menuju wisuda. Mereka sedang merampungkan urusan ijazah.

Terkait kapan waktu wisuda tahap berikutnya, Mu’arifin belum bisa menentukan. “Mungkin sebagian calon wisudawan kecewa akan keputusan ini, tapi kami berharap mereka memahami dan bisa memaklumi,” tandasnya. (imm/van)

artikel Pilihan