Kampung Gribig Religi Lestarikan Tradisi Bubur Sapar

Kampung Gribig Religi bertempat di komplek Pesarean Ki Ageng Gribig menggelar kegiatan Tradisi Bubur Sapar secara terbatas.

MALANG, NewMalangPos – Sebagai orang Jawa pastinya mengetahui dengan istilah Safaran. Di setiap daerah terkadang mempunyai tradisi Safaran yang berbeda, tergantung daerah masing-masing

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa pada umumnya, sifat Bulan Safar hampir sama dengan bulan sebelumnya yang merupakan kelanjutan dari Bulan Suro (Muharram).

Tak terkecuali hari Kamis Kliwon Malam Jum’at legi (16/9), kemarin Pokdarwis KGR (Kampung Gribig Religi) bertempat di destinasi komplek cagar budaya dan pesarean Ki Ageng Gribig menggelar kegiatan secara terbatas, yaitu “Mbabar Bubur Sapar.”

Baca Juga :  Kurang 8.300 Orang, Pendaftaran KPPS Diperpanjang

Kegiatan Mabar Bubur Safar ini sebuah even promosi pariwisata Kota Malang yang berasal dari Kampung Tematik yang ada di Kota Malang. Kampung Gribig Religi salah satunya kampung wisata yang berbasis religi satu satunya kampung yang paling ramai dikunjungi bagi para peziarah di Kota Malang.

Tentu kegiatan ini tidak seramai dengan tahun tahun sebelumnya, maklum karena masa Pandemi Covid- 19.

“Safar ini mengingatkan pada kita semua, bahwa (bulan) Sapar adalah bulan kedua dalam kalender Jawa. Bulan Sapar setelah bulan pertama yaitu Bulan Suro,” kata Sekertaris KGR Agus Ahmad Saichu.

Baca Juga :  Tingkatkan Kemandirian, Gelar Pekan Ketahanan Pangan

Bubur Sapar atau disebut jenang grendul berbentuk bundar-bundar, itu mengandung makna, ada kalanya siklus kehidupan manusia ada di atas, kadang ada pula di bawah. Jadi, seperti konsep bola (roda kehidupan).

Sementara itu Ki Demang yang merupakan Pengggas Kampung Budaya Polowijen memberikan tanggapan bahwa Bulan Safar sebenarnya banyak diyakini sebagai bulan yang penuh bencana, malapetaka dan kesialan.

“Mayoritas masyarakat Jawa hingga saat ini masih mempercayai bahwa bulan ini dipenuhi dengan hal-hal yang bersifat ketidakberuntungan,” katanya.

“Masyarakat Jawa sendiri yang beraliran Kejawen, menganggap hari Rabu Legi pada Bulan Safar dianggap sebagai hari yang jelek sekali sehingga tidak boleh dibuat bepergian. Hari Rabu Pahing yang dipercaya sebagai Dina Taliwangke yaitu hari yang sebaiknya disirik (dihindari),” tambah pria yang bernama Asli Isa Wahyudi yang juga ketua Forkom Pokdarwis Kampung Tematik Kota Malang.(jon/nmp)

artikel Pilihan