Jiwa Bisa Dipasung, Tapi Pikiran Tidak

idea opini
Maharina Novi Humas UMM, RBC Institite A. Malik Fadjar

NewMalangPos – Sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964. Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan menetapkan hari lahir Kartini, 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini.

Sebagai perempuan pribumi, Kartini adalah perempuan pendobrak feodalisme dan patriarki. Dia tumbuh dengan jiwa kritis yang tinggi, dia berani memperjuangkan pendidikan untuk dirinya dan memajukan sekitarnya. Dia berani mengkritisi tradisi perkawinan Jawa yang memperbolehkan poligami.

Meskipun pada akhirnya, dia menjadi istri keempat dari seorang bupati Rembang, tetapi beberapa tradisi yang dianggapnya meremehkan perempuan tidak dilakukannya, seperti tradisi cium kaki suami pada saat menikah. Kartini juga menentang Kolonialisme. Karena Belanda sudah memperlakukan kaum pribumi dengan tidak manusiawi seperti kerja rodi. Berbagai penindasan itulah yang menumbuhkan sifat kritis kartini.

Baca Juga :  TZU HIS DAN PILKADA

Kartini Masa Kini

Peringatan hari kartini menjadi ajang yang ditunggu-tunggu bagi siapapun, mulai dari lembaga pendidikan, perkantoran, hingga berbagai produk kecantikan. Berbagai event digelar untuk menyambut hari penuh makna itu. Banyak event yang sengaja dipilih agar sama dengan tanggal diperingatinya hari kartini sehingga tema Kartini dapat menjadi packaging dari acara tersebut. Baik dari lomba memasak, merias wajah, fotogenic, hingga fashion show digelar.

Baca Juga: Laksana Angin Berhembus

Berbagai atribut akan dikenakan untuk menunjukkan bahwa mereka aware terhadap perayaan hari kartini. Bagi para perempuan mereka menggunakan pakaian kebaya dan sanggul, bagi laki-aki mereka mengenakan pakaian adat seperti beskap. Euforia tersebut bukan hanya terjadi di pramuniaga pertokohan atau di kalangan pramugari saja. Namun yang paling sering melakukan adalah siswa-siswi yang ada di Paud, TK, hingga SD.

Baca Juga :  Seniman Tak Berjejaring Bakal Tertinggal

Tak banyak dari mereka yang mengetahui tentang makna dari euforia yang telah lakukan itu, bahkan saya juga yakin, tidak semua wali murid mengetahui makna di balik dikenakannya pakaian adat di setiap perayaan kartini digelar. Beruntungnya trasidi seperti itu pada dua tahun ini mungkin tidak begitu ramai dilakukan karena masih ada Covid-19.

Baca Juga: Solidaritas Lintas Generasi Untuk Bumi

Ini saat yang tepat untuk melakukan edukasi lebih baik lagi tentang perayaan hari kartini. Di Indonesia, ada setidaknya tiga persoalan yang belum selesai dan harus diperjuangkan oleh perempuan terlebih pada masa pandemic. Yaitu terkait keluarga, ekonomi dan politik.

artikel Pilihan