Penyandang Disabilitas Blitar Masih Mampu Berkarya di Tengah Pandemi

Disabilitas ini mampu berkarya di tengah pandemi (Foto: Erliana Riady/Detik News)

NewMalangPos – Lia Dwi Purwanti, sosok penyandang disabilitas yang terus maju mendobrak batas. Pandemi COVID-19 pun tak menghalanginya untuk tetap berkarya.

Meja sederhana berukuran 1×2 meter itu, menjadi tempatnya menuangkan kreativitas. Berbagai peralatan menjahit termasuk mesin jahit manual, selalu menemani mengekplorasi ide-ide segarnya merajut boneka.

Ya, warga Desa Butun, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, ini sangat lihai membuat kerajinan boneka rajut dari Jepang, yakni Amirugumi. Boneka mulai ukuran mini hingga maksi ini adalah hasil tangan terampil penyandang tuna rungu ini.

Ketrampilan merajut Lia itu didapat saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) pada 2011. Kala itu, merajut menjadi salah satu materi ketrampilan pembelajaran para siswa. Lia begitu tekun mempelajarinya.

Baca Juga: Lebih Sreg Pelatih Asing

Selepas lulus SMA, ketrampilannya merajut itu terus diasah. Berbagai karya dari seni merajut itu dihasilkan. Semua hasil karya boneka rajut yang dibuatnya itu ternyata tidak asal-asalan. Ada perhitungan rumusnya terlebih dulu agar boneka yang dihasilkan baik

“Memang ada ilmunya. Di sekolah diajari itu. Biasanya digambar sketsanya dulu baru dihitung, ada rumusnya,” kata Windya Wahyuningsih, adik Lia menterjemahkan bahasa isyarat yang diungkapkan sang kakak, seperti dilansir Detik News, Selasa (16/2).

Beragam boneka karakter banyak diproduksi penyandang tuna rungu sejak lahir itu. Seperti sponge bob, mickey mouse, hingga mario bros. Seringkali juga, boneka dibentuk berdasarkan pesanan calon pembelinya. Untuk membuat boneka tersebut, bahan utamanya adalah dakron. Baru kemudian dilapisi dengan untaian benang rajut policeri.

Satu karakter boneka, biasanya dikerjakan empat hingga lima hari. Tergantung tingkat kerumitannya. Menurut Widya, kakaknya selalu total bekerja ketika ada pesanan datang. Kerapkali dia melihat sang kakak telaten mengerjakannya hingga malam.

“Saking semangatnya membuat, tangannya sampai lecet. Bahkan juga sampai sering begadang,” ujar Widya.

Sementara untuk harga bonekanya bervariasi. Tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Jika tingkat kerumitannya tinggi maka harganya juga semakin mahal. Namun Lia mematoknya di kisaran Rp 75-150 ribu.

Selain menjual boneka rajut, Lia juga menjual produk lain. Seperti tas rajut dan konektor masker hijab yang sekarang banyak diminati di masa pandemi COVID-19. Dibantu sang adik, Lia mempromosikan produknya di berbagai media sosial.

“Alhamdulillah pemesanan sampai Solo dan Semarang. Walaupun selama pandemi turun jumlah pesanan, tapi kakak terus berkarya dan masih saja ada yang pembelinya,” pungkasnya. (fat/dtk/nmp)