Jangan Biarkan Bahasa Jawa Lesap

41
new malang pos
Dyah Normaning Poncorini, S.Pd Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 06 Batu

NewMalangPos – Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu bagi sebagian besar penduduk pulau Jawa yang memiliki keunikan tersendiri. Bahasa Jawa juga memiliki beraneka ragam dialek kedaerahan sesuai dengan wilayah daerah masing masing yang tersebar di seluruh pulau Jawa. Ragam dialek inilah yang ikut memperkaya ragam bahasa nusantara. Dalam penggunaannya, bahasa Jawa memiliki aksara tersendiri yaitu aksara Jawa serta undha usuk basa atau unggah-ungguhing basa.(Setiyadi, Dwi Bambang Putut, 2008)

Dari masa ke masa penggunaan bahasa Jawa semakin lama semakin berkurang. Hal ini disebabkan semakin jarangnya penggunaan bahasa Jawa oleh masyarakat suku Jawa itu sendiri. Mengapa demikian? Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti kebiasaan, gaya hidup, rasa malu, dan yang lainnya.

Masyarakat asli suku Jawa memiliki peran sangat penting dalam perkembangan bahasa Jawa.(Wibawa, Sutrisna. 2011) Sebagai contoh nyata dari kelompok terkecil pengguna bahasa Jawa, yaitu keluarga. Keluarga sebagai guru bahasa pertama bagi putra-putrinya yang kelak akan dia pergunakan sehari-hari dalam kehidupannya.

Nah, sebagai guru bahasa pertama bagi putra-putrinya, orang tualah yang berperan sangat penting dalam pelestarian bahasa Jawa. Caranya dengan membiasakan putra-putrinya berbahasa Jawa dengan baik setiap hari di rumah ketika bercakap-cakap dengan sesama anggota keluarga. Jika hal ini benar benar dilakukan maka kebiasaan untuk tetap berbahasa Jawa dengan lingkungan sekitarnya pun akan tetap terjaga.

Namun yang terjadi saat ini adalah banyak anak-anak balita yang tidak menggunakan bahasa Jawa ketika bercakap-cakap dengan orang tuanya. Begitu juga sebaliknya dengan orang tua mereka yang justru memperkenalkan kepada putra putinya bahasa Indonesia maupun bahasa asing.

Keberadaan bahasa Jawa tidak akan bertahan lama jika tidak lagi digunakan oleh masyarakat suku Jawa. Orang tua masa kini justru cenderung lebih bangga jika putra-putrinya mahir berbahasa asing di usia dini, karena hal tersebut dianggap lebih modern dan sangat sesuai dengan tuntutan zaman sekarang. Padahal tidak seperti itu juga seharusnya.

Semakin miris lagi ketika banyak orang tua juga mengeluh karena tidak bisa mengajarkan bahasa Jawa kepada putra-putrinya. Ketika satu generasi orang tua sekarang mengalami kesulitan mengajarkan bahasa Jawa kepada putra-putrinya maka bisa kita bayangkan untuk tiga generasi ke depan bisa jadi bahasa Jawa hanya tinggal nama saja.

Pelestarian Bahasa Daerah

Pemerintah daerah sudah melakukan upaya untuk pelestarian budaya lokal dengan membuat Peraturan Gubernur No. 19 Tahun 2014 tentang pata pelajaran Bahasa daerah sebagai muatan wajib di sekolah/ madrasah di Jawa Timur sebagai upaya untuk  mempertahankan bahasa daerah sebagai salah satu budaya. Namun upaya tersebut tidak akan berhasil jika tidak didukung oleh masyarakat pengguna bahasa tersebut.

Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah hanya dua jam tatap muka dalam seminggu yang jika dihitung dalam hitungan menit hanya 80 menit. Itu dalam kondisi situasi normal. Dalam kondisi pandemi, situasi bisa berubah lagi. Untuk membangun kembali kelestarian bahasa Jawa masih butuh bantuan lagi dari pihak luar selain sekolah, yaitu keluarga. Karena sebangian besar waktu anak setelah di sekolah adalah bersama keluarga.

Menurut Oktavia Rahmawati dalam artikel Pengaruh Kebiasaan Berbahasa Jawa di Rumah terhadap Pemahaman Konsep Bahasa Jawa” menyatakan di era globalisasi seperti sekarang ini penggunaan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari hari sudah mulai pudar.

Bahkan tidak sedikit pelajar yang lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan dan pergaulan sehari-hari. Ketika di lingkungan tempat tinggal tidak bisa berbahasa Jawa, maka dalam mengikuti pembelajaran bahasa Jawa di sekolah dapat dipastikan siswa akan mengalami kesulitan.

Berdasarkan permasalahan tersebut seberapa besar kemauan masyarakat Jawa untuk mempertahankan keberadaan bahasa Jawa di pulau Jawa agar tidak tergerus oleh perubahan zaman yang secara besar-besaran terus mempengaruahi budaya kita sendiri.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk tetap melestarikan bahasa Jawa dengan tetap mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern. Apa saja yang dapat dilakukan? Pertama, selalu membiasakan diri menggunakan bahasa Jawa di lingkungan keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat. Kedua, membuang rasa takut dicap sebagai orang ndeso karena menggunakan bahasa Jawa. Ketiga, memiliki rasa bangga karena dapat bertutur dengan menggunakan bahasa Jawa di lingkungannya.

Semakin sering siswa bertutur dengan mengunakan bahasa Jawa maka akan semakin banyak kosa kata bahasa Jawa yang dimiliki siswa. Hal tersebut tentu saja akan semakin mempermudah siswa dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Jawa di sekolah.

Mari kita bersama-sama mempertahankan bahasa Jawa. Tak usah lagi takut dianggap tidak modern atau ketinggalan zaman. Silahkan tetap mengajarkan berbagai bahasa pada putra-putri kita namun tetap menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari di lingkungan keluarga. Jangan biarkan bahasa Jawa melesap tinggal sejarah di Pulau Jawa.(*)