WHO Keluarkan Warning Baru Soal Serangan Corona Afsel

Foto: Logo World Health Organization (WHO) (AP Photo/Anja Niedringhaus)

NewMalangPos – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa varian virus corona baru yang sangat menular memicu gelombang kedua di Afrika.

Varian yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan dikatakan mendominasi dan memperkuat rekor jumlah kasus di beberapa sub-wilayah Afrika Selatan.

Menurut WHO, strain B.1.351 yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan kini telah terdeteksi di Botswana, Ghana, Kenya, wilayah Samudra Hindia Prancis di Mayotte, Zambia, dan 24 negara non-Afrika lainnya.

Antara 29 Desember 2020 dan Senin (25/1), benua itu mencatat 50% lebih banyak kasus Covid-19 dibandingkan periode 4 minggu sebelumnya. Kematian akibat virus corona juga meningkat, kira-kira dua kali lipat selama periode yang sama.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Jumat (29/1), WHO bekerja dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika untuk mendirikan laboratorium guna melakukan upaya pengawasan di Republik Demokratik Kongo, Gambia, Ghana, Kenya, Nigeria, Senegal, Afrika Selatan, dan Uganda.

Baca Juga: Kekurangan Anggaran Vaksinasi Rp 3 Miliar

Selain itu, WHO mengatakan setiap negara harus mengirim setidaknya 20 sampel ke laboratorium, yang akan “membantu memetakan situasi yang berkembang cepat dan respons target terbaik di semua tingkatan.”

Strain virus corona dari Afrika Selatan kini sudah ditemukan di negara lain, seperti China, Inggris, dan Selandia Baru.

Sementara terkait dengan vaksin dan strain corona Afrika Selatan, menurut laporan, perusahaan pengembangan vaksin Amerika Novavax mengatakan vaksinnya lebih dari 89% efektif.

Uji klinis fase tiga di Inggris ini diuji coba terhadap 15.000 peserta menghasilkan 56 kasus Covid pada kelompok plasebo dan hanya 6 kasus pada kelompok yang divaksinasi.

CEO Novavax Stanley Erck mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa perusahaan sekarang “memiliki potensi untuk memainkan peran penting dalam menyelesaikan krisis kesehatan masyarakat global ini”.(sef/sef/CNBCI)