Siap Hadapi AS, China Kini Punya Pertahanan Nuklir Sendiri

NEW MALANG POS – Mantan kolonel senior China Wang Xiangsui menuturkan China telah menghabiskan dua dekade terakhir untuk membangun pertahanan persenjataan nuklir di darat dan laut. Upaya itu untuk memastikan bahwa militer dapat membalas serangan nuklir dan mencegah pihak lain meluncurkannya.


Wang yang saat ini menjadi profesor di Beihang University di Beijing mengatakan pertahanan itu mencakup jaringan terowongan yang luas untuk mengangkut dan melindungi rudal yang menjamin keamanan China, bahkan dalam skenario terburuk.

“Meluncurkan serangan nuklir di China selalu menjadi pilihan militer bagi AS. Namun untuk opsi ini, mereka menghadapi ketidakpastian yang meningkat karena penyesuaian dan perubahan kami dalam 20 tahun terakhir,” kata Wang dalam pertemuan tertutup bulan lalu.

Dilansir South China Morning Post, Selasa (17/11), pernyataan itu ia sampaikan dalam forum Moganshan yang berlangsung empat hari, guna membahas masalah domestik dan internasional serta rencana baru lima tahun China. Tapi transkrip sambutannya baru dipublikasikan pada Rabu.

Tanpa menyebutkan sumber, Wang mengatakan beberapa lembaga penilaian Amerika Serikat mengklaim bahwa hanya satu hulu ledak nuklir China yang mampu bertahan dari serangan pertama AS dan mencapai tanah AS dalam serangan balik. Namun, dia menolak klaim tersebut sebagai sesuatu yang “jelas tidak masuk akal”.

Dia mengatakan China telah mengambil serangkaian tindakan selama bertahun-tahun untuk membangun kemampuan “serangan kedua” yang kredibel untuk menanggapi serangan nuklir.

 Selain terowongan rudal balistik antarbenua, China telah mengembangkan rudal canggih dan memperluas “perairan benteng” di China Selatan dan Laut Kuning, di mana kapal selam rudal balistiknya dapat beroperasi dengan aman.

 “Ini menarik garis bawah atas konfrontasi China-AS, bahwa konfrontasi tersebut tidak mungkin menjadi invasi besar-besaran, yang merupakan dasar penting (perhitungan kedua belah pihak),” ujarnya.

China telah berjanji “tidak ada penggunaan pertama” senjata nuklir, meski Beijing diperkirakan memiliki 200 atau 300 hulu ledak nuklir. Strategi nuklir China bergantung dengan memastikan kekuatan nuklirnya dapat bertahan dari gelombang pertama serangan musuh.

 Pada 2018, media pemerintah China melaporkan bahwa militernya telah membangun “Tembok Besar bawah tanah” sepanjang 5.000 kilometer terowongan di seluruh negeri untuk bersembunyi, memindahkan, dan meluncurkan pasukan serangan balasan nuklirnya.

 Dalam rekaman di laporan tersebut, ICBM terlihat sedang dimuat di truk dan didorong melalui terowongan.

 China juga membangun kemampuan nuklir maritim yang kuat pada 2015 ketika kapal selam nuklir rudal balistik tipe 094A (SSBN) dilengkapi dengan rudal JL-2 (SLBM) untuk berpatroli.

 JL-2 memiliki jangkauan 7.400 kilometer, sementara penggantinya yakni JL-3 diperkirakan memiliki jangkauan lebih dari 12.000 kilometer, sehingga menempatkan AS dalam jangkauan dari pantai China.

Hal ini menambah potensi China untuk membalas jika silo di darat disingkirkan.

CNN Indonesia melaporkan, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) sendiri memiliki satu pangkalan SSBN di Laut China Selatan yang perairannya lebih dalam, sehingga lebih aman untuk operasi kapal selam rahasia. Selain itu, pihaknya juga memiliki dua pangkalan lain di Laut Kuning, lebih dekat ke daratan AS untuk misil yang dikirim melalui kutub utara.

 “(Pesawat mata-mata AS) menemukan SSBN kami di Laut China Selatan (LCS) yang beroperasi di parit sedalam 3.000 meter dan pulau buatan yang kami bangun sebagai area peluncuran rudal SLBM,” kata Wang.

Menurut Wang, PLA juga telah mengembangkan portofolio misilnya dengan menciptakan rudal glider hipersonik pertama di dunia, DF-17 yang cukup cepat untuk menembus sistem pertahanan rudal AS.

 Dia mengatakan semua tindakan itu membuat AS tidak mungkin melancarkan serangan nuklir besar-besaran terhadap China.

 Wang juga mengungkapkan untuk pertama kalinya bahwa rudal “pembunuh kapal induk” PLA DF-26B dan DF-21D berhasil menghantam kapal yang bergerak di LCS dalam uji coba pada Agustus, itu sekaligus mengirimkan peringatan ke AS untuk “tidak mengambil risiko militer”. (ans/dea/CNNI)