Puluhan Politikus AS Ramai-ramai Keluar dari Partai Republik

Donald Trump (dok. AP/Evan Vucci/DetikNews)

NewMalangPos– Puluhan politikus Partai Republik di Amerika Serikat (AS), terutama yang menjabat pada era pemerintahan Presiden George W Bush, telah keluar dari partai beraliran konservatif itu. Mereka yang keluar menjuluki Partai Republik saat ini telah menjadi ‘kultus’ bagi mantan Presiden Donald Trump.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (2/2), kebanyakan mereka yang keluar dari partai merasa kecewa dengan kegagalan para anggota parlemen Republikan untuk mengecam Trump setelah klaim palsu soal kecurangan pemilu yang dilontarkannya memicu aksi penyerbuan dan kerusuhan di Gedung Capitol bulan lalu.

Para pejabat yang beberapa memegang jabatan tinggi pada era pemerintahan Bush ini, mengharapkan kekalahan Trump dalam pilpres akan membuat para pemimpin Partai Republik untuk meninggalkan Trump dan mengecam klaim-klaim tak berdasar soal pilpres AS 2020 dicuri darinya.

Namun dengan kebanyakan anggota parlemen Republikan masih ‘menempel’ pada Trump, para pejabat ini menyatakan mereka tidak lagi mengenali partai yang telah menjadi tempat mereka mengabdi selama bertahun-tahun.

Menurut belasan pejabat era Bush yang bicara kepada Reuters, beberapa pejabat langsung mengakhiri keanggotaan mereka di Partai Republik yang berdiri sejak 1854 silam ini. Ada juga yang membiarkan masa keanggotaannya berakhir dengan sendirinya dan sejumlah kecil menyatakan diri sebagai politikus independen.

Baca Juga: Militer Myanmar Copot 24 Menteri dan Deputi Usai Kudeta

“Partai Republik yang saya ketahui sudah tidak ada lagi, saya akan menyebutnya kultus Trump,” cetus Jimmy Gurule yang menjabat Wakil Menteri Keuangan untuk Urusan Terorisme dan Intelijen Keuangan pada era Bush.

Kristopher Purcell yang bekerja di kantor komunikasi Gedung Putih pada era Bush selama 6 tahun, menuturkan bahwa sekitar 60-70 pejabat era Bush memutuskan untuk keluar dari Partai Republik atau memutuskan hubungan dengan partai itu. “Jumlahnya bertambah setiap hari,” ucapnya.

Dilansir Detik News, Selasa (2/2), keluarnya puluhan politikus dari Partai Republik setelah mereka bergabung sejak lama ini menjadi tanda jelas soal bagaimana konflik internal di dalam partai semakin berkembang terkait Trump dan warisannya.

Lebih dari setengah politikus Republikan di Kongres AS — 8 Senator dan 139 anggota DPR — memilih untuk memblokir pengesahan hasil pilpres beberapa jam sebelum Gedung Capitol diserbu pendukung Trump pada 6 Januari lalu. Sebagian besar Senator Republik juga mengindikasikan mereka tidak akan mendukung pemakzulan Trump, yang menjadikan hampir pasti Trump tidak akan dinyatakan bersalah dalam sidang pemakzulan.

Keengganan pemimpin Partai Republik untuk mengingkari Trump menjadi batasan terakhir bagi beberapa mantan pejabat Republikan. “Jika ini terus menjadi partainya Trump, kebanyakan dari kami tidak akan kembali,” ucap Rosario Marin yang pernah menjabat Menteri Keuangan AS pada era Bush.

“Kecuali jika Senat menyatakan dia bersalah, dan melepaskan diri dari kanker Trump, banyak dari kita tidak akan kembali memilih untuk para pemimpin Republikan,” imbuhnya.

Perwakilan Trump belum memberikan komentarnya atas hal ini. Sementara perwakilan Bush enggan memberikan komentar. Namun selama masa kepresidenan Trump, Bush memperjelas bahwa dirinya ‘pensiun dari politik’.(nvc/ita/dtk/nmp)