Mesir Buka Perbatasan Gaza Tanpa Batas Waktu

Mesir buka lagi perbatasan dengan jalur gaza (Foto: AP/Adel Hana/Detik News)

NewMalangPos – Otoritas Mesir membuka perbatasannya dengan Jalur Gaza yang diblokade Israel. Pembukaan ‘tanpa batas waktu’ itu akan memungkinkan banyak orang bisa melintas ke dunia luar.

Seperti dilansir AFP, Rabu (10/2) penduduk Gaza yang melintasi titik perbatasan Rafah pada hari Selasa (9/2) mengungkapkan perasaan lega atas pembukaan itu.

“Saya telah menunggu selama enam bulan sampai perbatasan dibuka,” kata seorang mahasiswa, Ibrahim al-Shanti (19).

“Penutupan berulang telah menghabiskan satu semester studi saya. Saya berharap ini benar-benar dilakukan secara permanen,” imbuhnya.

Kairo mengambil langkah tersebut saat menjadi tuan rumah pembicaraan antara Hamas, yang menguasai Jalur Gaza, dan Fatah, yang menjalankan Otoritas Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel.

Baca Juga: Studi: Minum Kopi Hitam Turunkan Risiko Gagal Jantung

Hamas, Fatah bersama dengan faksi-faksi Palestina lainnya, sedang mendiskusikan untuk mengadakan pemilihan parlemen dan presiden akhir tahun ini, yang pertama dalam 15 tahun terakhir.

Perlintasan Rafah telah ditutup dalam beberapa bulan terakhir untuk mengendalikan pandemi virus Corona, meskipun terkadang dibuka sebentar.

Dilansir dari Detik News, Rabu (10/2), sumber keamanan Mesir mengatakan kepada AFP bahwa “ini bukan pembukaan rutin atau normal. Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa tahun perlintasan perbatasan Rafah dibuka tanpa batas waktu. Dulunya hanya dibuka tiga atau empat hari pada satu waktu.”

Gaza adalah daerah padat berpenduduk sekitar dua juta orang, setengah dari mereka hidup di bawah garis kemiskinan, dan sering kekurangan air bersih, listrik, dan obat-obatan.

Warga Palestina, Yasser Zanoun (50) mendesak para pemimpin politik untuk merundingkan pembukaan permanen untuk meringankan penderitaan kemanusiaan yang memburuk di Gaza, yang diperparah oleh pandemi.

“Perlintasan ini harus buka 24 jam sehari, sepanjang tahun,” ujarnya. “Ada banyak kasus kemanusiaan yang sangat mengerikan,” imbuhnya.

Israel menarik pasukannya dari Gaza pada 2005 namun tetap mengontrol perbatasan wilayah dan penyeberangan darat, di mana Israel telah menutupnya selama berbulan-bulan.

Gerakan Hamas menang telak dalam pemungutan suara di Gaza tahun 2006, kemenangan yang tidak diakui oleh Presiden Fatah, Mahmud Abbas.

Perpecahan itu menyebabkan bentrokan berdarah pada tahun berikutnya dan perpecahan dalam pemerintahan Palestina. Sejak saat itu, Mesir sesekali menutup perlintasan Rafah.(izt/ita/dtk/nmp)