Joe Biden Ingin Tutup Penjara Guantanamo

Joe Biden (dok. BBC World/Detik News)

NewMalangPos – Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, ingin menutup penjara Teluk Guantanamo yang kontroversial dan khusus menahan para tersangka terorisme. Penutupan penjara Guantanamo itu ditargetkan akan dilakukan sebelum akhir masa jabatan Biden.

Seperti dilansir AFP dan Reuters, Sabtu (13/2), rencana itu diungkapkan Gedung Putih dalam konferensi pers pada Jumat (12/2) waktu setempat. Rencana ini menggemakan janji kampanye yang belum terpenuhi dari pemerintahan era Presiden Barack Obama, saat Biden menjabat Wakil Presiden AS.

Diumumkan juru bicara Gedung Putih, Jen Psaki, bahwa peninjauan resmi akan dilakukan terhadap penjara militer AS di Teluk Guantanamo di Kuba. Peninjauan itu akan dilakukan pemerintahan Biden melalui Dewan Keamanan Nasional (NSC).

“Untuk menilai kondisi saat ini yang dihadapi pemerintahan Biden — yang diwarisi dari pemerintahan sebelumnya,” sebut Psaki.

Saat ditanya apakah Biden akan menutup penjara dengan keamanan ketat di Pangkalan Laut Guantanamo itu saat akhir masa jabatannya, Psaki menjawab: “Itu jelas menjadi tujuan dan niat kami.”

Baca Juga: Futsal Kota Malang, Tiga Pemain Ikut Seleksi Timnas U-18

Secara terpisah, dua sumber yang memahami isu ini menuturkan kepada Reuters bahwa para ajudan Biden yang terlibat dalam diskusi internal tengah mempertimbangkan sebuah langkah eksekutif untuk ditandatangani Biden dalam beberapa pekan atau bulan terkait penjara Guantanamo.

Di sisi lain, upaya menutup penjara Guantanamo diketahui memiliki hambatan politik dan hukum yang telah menggagalkan upayaObama pada era pemerintahannya.

Kebijakan penutupan penjara Guantanamo pada era Obama dicabut oleh mantan Presiden Donald Trump segera setelah dia menjabat tahun 2017 lalu. Trump membiarkan penjara itu tetap buka selama empat tahun kepemimpinanannya.

Dilansir dari Detik News, Sabtu (13/2), saat ini tersisa 40 tahanan di penjara tersebut, yang kebanyakan ditahan selama nyaris dua dekade tanpa didakwa atau diadili. Sekitar 26 tahanan di antaranya dianggap terlalu berbahaya untuk dibebaskan, namun proses hukum mereka molor karena terlalu rumitnya kasus-kasus mereka.

Penjara yang digunakan untuk menahan tersangka asing usai serangan 11 September 2001 ini, telah menjadi simbol ‘perang melawan teror’ AS yang melewati batas karena adanya metode interogasi kasar yang disebut para pengkritik, mengarah pada penyiksaan. (nvc/idh/dtk/nmp)