Fakta Aung San Suu Kyi, Nobel Perdamaian hingga Pembantaian Rohingya

Aung San Suu Kyi
Gambar : Aung San Suu Kyi

Newmalangpos – Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi ditahan Militer dalam upaya kudeta pada Senin (1/2/2021) dini hari.

Perempuan 75 tahun itu dianggap sebagai simbol penentang rezim pemerintah junta militer dan tokoh yang kerap mengupayakan demokrasi di Myanmar.

Berikut fakta-fakta tentang Suu Kyi yang naik ke tampuk kekuasaan setelah menang telak dalam pemilihan umum tahun 2015.

Aung San Suu Kyi lahir dari Yangon pada 1945. Dia merupakan putri pahlawan kemerdekaan Aung San.
Lihat juga: Kudeta dan Darurat Militer di Myanmar, WNI Diminta Waspada

Seperti dikutip dari Reuters, darah politik di tubuhnya memang berasal dari sang ayah.

Aung San pernah terlibat dalam diplomasi dengan Inggris guna meraih kemerdekaan Myanmar. Dua tahun kemudian, Aung San meninggal akibat dibunuh lawan politiknya.

Selepas kepergian ayahnya, Suu Kyi tumbuh bersama ibunya, Khin Kyi dan dua saudaranya: San Lin dan Aung San U.

Sebagian masa muda Sun Kyi, dihabiskan di luar negeri. Ia mengenyam pendidikan di Universitas Oxford pada tahun 1965,di sana Sun Kyi bertemu akademisi Bristih yang kemudian menjadi suaminya. Mereka dikaruniai dua anak yang menetap di Oxford, Inggris.
Lihat juga: Aung San Suu Kyi Dikudeta, Seluruh Bank di Myanmar Tutup

Pada tahun 1988, Suu Kyi kembali ke Yangon, untuk merawat ibunya yang tengah sakit. Di sana, ia terlibat dalam aksi demonstrasi mahasiswa yang geram pada militer setelah mereka melakukan kudeta tahun 1965.

Tiga tahun kemudian, yakni pada tahun 1991, Suu Kyi menerima hadiah Nobel Perdamaian. Namun, pada tahun 2018 nobel itu disebut-sebut akan dicabut.

Tim pencari fakta independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut tentara Myanmar melakukan pemerkosaan dan pembantaian terhadap etnis Rohingya. Di tahun itu, dirinya tengah memimpin Myanmar.

Aung San Suu Kyi menuai banyak kecaman lantaran tidak bersikap tegas atas tindakan para tentara.

Namun Panitia Nobel Norwegia memastikan penghargaan yang pernah diberikan kepada Suu Kyi tidak akan dicabut.

“Hadiah Nobel Perdamaian untuk Aung San Suu Kyi tidak akan ditarik menyusul adanya laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyatakan tentara Myanmar terbukti membantai suku Rohingya,” kata Panitia Nobel Norwegia, Rabu (29/8).


Baca juga: Aung San Suu Kyi Ditahan Militer Myanmar, Kelompok HAM: Dunia Harus Bertindak

Tak hanya itu, gelar Duta Hati Nurani yang diberikan oleh Amnesty Internasional pada tahun 2009 juga dicabut. Alasanya tak jauh berbeda; pembiaran pembantaian massal oleh militer.

“Hari ini kami cemas bahwa anda (Suu Kyi) tidak lagi mewakili simbol harapan, keberanian dan pembela HAM,” kata Kepala Amnesti Internasional Kumi Naidoo, dikutip dari AFP, pada Senin 12 November.

Deret penghargaan Suu Kyi yang dicabut

Oxford freedom of the City Award

Pada November 2017, tempat Suu Kyi menempuh pendidikan mencabut penghargaan Freedom of the city award, sebab dianggap tak melakukan apapun atas kekerasan yang menimpa etnis Rohingya

Tak hanya itu, gelar Junior Commoon Room juga dicabut lantaran tidak mengecam pembantaian yang terjadi dan pelanggaran HAM di Rakhine.

Freedom of Glasgow Award

Glasgow mencabut penghargaan freedom of Glasgow yang diberikan pada Suu Kyi 2009 silam. Sebelum pencabutan, Dewan Kota menuangkan keresahan melalui surat atas pelanggaran HAM berat terhadap Rohingya

Unison Award

Unison merupakan salah satu serikat dagang di Inggris. Menangguhkan penghargaan untuk Suu Kyi pada September 2017.

Penghargaan tersebut diberikan pada tahun 1988, karena Suu Kyi berupaya menegakkan HAM dan demokrasi di Myanmar.

Freedom of Edinburgh Award

Pemerintah kota Edinburgh, Skotlandia, Inggris memberi penghargaan kepada Suu Kyi pada tahun 2005.

Dalam penghargaan itu, Suu Kyi disamakan dengan Nelson Mandela yang memperjuangkan demokrasi dengan cara damai.

Elie Wiesel Award

Museum Memorial Holocaust memberi penghargaan Elie Wiesel kepada Suu Kyi pada tahun 2012. Penghargaan itu, diberikan untuk mereka yang melawan kebencian, genosida dan HAM. Beruntung, Suu Kyi adalah orang pertama yang menerimanya.

Namun pada Maret 2018, museum ini mencabut penghargaan lantaran Suu Kyi tidak terlihat menghentikan kekerasan yang terjadi pada etnis Rohingya.
(CNI/NewMP)