Demo Anti-Kudeta Myanmar Meluas, Twitter Instagram Diblokir

Ilustrasi. (Alastair Pike /AFP/CNN Indonesia)

NewMalangPos – Setelah Facebook dan Whatsapp, junta militer Myanmar memblokir sejumlah media sosial lainnya seperti Twitter dan Instagram akibat protes anti-kudeta yang semakin meluas di negara tersebut.

Dilansir dari CNN Indonesia, Sabtu (6/2), Perusahaan telekomunikasi Norwegia, Telenor, mengatakan junta militer Myanmar telah memerintahkan penyedia internet untuk memblokir Twitter dan Instagram hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Melalui pernyataan, Telenor mengungkapkan “keprihatinan besar” tentang arahan tersebut dan mengatakan telah menentang kebijakan tersebut kepada pemerintah Myanmar.

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi Myanmar belum memberi komentar kepada Reuters terkait pemblokiran media sosial tersebut.

Baca Juga: Perlukah Obat Pereda Sakit Sebelum dan Sesudah Vaksin Covid?

Namun, seorang juru bicara Twitter mengatakan perusahaan “sangat prihatin tentang perintah pemblokiran layanan internet di Myanmar.”

“Ini merusak percakapan publik dan hak-hak orang agar suara mereka didengar. Keterbukaan Internet semakin terancam di seluruh dunia. Kami akan terus menganjurkan untuk mengakhiri pemblokiran yang diperintah pemerintah ini,” katanya seperti dikutip Reuters pada Sabtu (6/2).

Sementara itu, seorang juru bicara Facebook mengonfirmasi pemblokiran Instagram di Myanmar.

“Kami mendesak pihak berwenang memulihkan konektivitas sehingga orang di Myanmar dapat berkomunikasi dengan keluarga, teman, serta mengakses informasi penting,” katanya.

Sejak Facebook, platform media sosial utama Myanmar, diblokir, sebagian besar warga beralih ke Twitter dan Instagram untuk meluapkan protes mereka terhadap kudeta yang berlangsung.

Banyak warga Myanmar menggunakan media sosial untuk menggemakan penolakan kudeta dan menyerukan kampanye pembangkangan sipil kepada junta militer.

Keriuhan akibat bunyi klakson dan pukulan panci juga terus menggema di sejumlah kota besar di Myanmar seperti Yangon dan Ibu Kota Naypyidaw selama tiga hari terakhir, sebagai bentuk protes warga terhadap kudeta yang berlangsung pada Senin (1/2) lalu.

Sejumlah penduduk mengemudikan kendaraan di kota sambil membunyikan klakson secara terus menerus sebagai bentuk protes mereka terhadap kudeta.

Sementara itu, sebagian masyarakat lainnya berdiri di balkon apartemen dan rumah masing-masing dengan memukul perkakas dapur seperti panci.

Gerakan protes tersebut berlangsung setelah kampanye yang dikenal Gerakan Pembangkangan Sipil menyebar di Facebook, platform media sosial utama Myanmar, tak lama setelah kudeta berlangsung.

Mereka mengajak seluruh warga Myanmar untuk membunyikan klakson dan memukul barang apa pun, terutama perkakas dapur, sebagai bentuk aksi damai menolak pemerintahan junta militer.

Beberapa netizen Myanmar mengunggah video di media sosial yang memperlihatkan para penghuni sebuah kompleks apartemen kompak memukul peralatan memasak seperti panci dari masing-masing balkon mereka pada Selasa (2/2) malam.

Beberapa dari mereka juga turut memasang slogan anti-kudeta pada masing-masing balkon dan pagar rumah.

Bunyi klakson yang saling bersahutan dan memekakkan telinga dilakukan sebagai tanda menolak kudeta.

Gema klakson dan tabuhan panci pun masih terdengar hingga Kamis (4/2).(AFP/ard/cnni/nmp)