China Bantu Amerika Latin Atasi Corona dengan Pinjaman Dana

NEW MALANG POS – Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengumumkan pemberian pinjaman senilai US$1 miliar untuk Amerika Latin dan Karibia demi akses vaksin Covid-19.

Pinjaman itu setara dengan Rp14,6 triliun (US$1= Rp14,6 ribu).

Kementerian Luar Negeri Meksiko menyatakan hal tersebut dalam pertemuan virtual China dan Amerika Latin pada Rabu (22/7) waktu setempat.

“Menteri Luar Negeri China mengatakan vaksin yang dikembangkan negaranya akan menjadi manfaat publik dengan akses universal. China juga menetapkan pinjaman US$1 miliar untuk mendukung akses negara-negara ke vaksin tersebut,” tulis pernyataan resmi tersebut, seperti yang dikutip dari CNN International pada Sabtu (25/7).

Pengumuman tersebut kemudian dibahas dalam siaran pers harian Presiden Meksiko, Andrés Manuel López Obrador, pada Kamis (23/7).

Ia berterima kasih atas bantuan yang diberikan pemerintah China.

“Kami berterima kasih kepada China. Kami meminta dukungan peralatan medis dan banyak penerbangan bantuan datang dari China,” kata Presiden Obrador, dikutip dari CNN Indonesia.

“Selalu ada persediaan peralatan yang cukup, obat-obatan, dan sekarang ada tawaran (pinjaman) ini,” tuturnya.

Pertemuan virtual pada Rabu dipimpin Menteri Luar Negeri kedua negara, yakni Marcelo Ebrard dan Wang Yi.

Menteri luar negeri dari kawasan sekitarnya seperti Argentina, Barbados, Chili, Kolombia, Kosta Rika, Kuba, Republik Dominika, Ekuador, Panama, Peru, Trinidad dan Tobago, serta Uruguay turut hadir.

Sebelum pertemuan virtual, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, mengatakan negaranya selalu siap untuk membantu negara lain, termasuk Amerika Latin dan Karibia, dalam mengatasi pandemi Covid-19.

Pertemuan itu juga digelar untuk mengkonsolidasikan kedua belah pihak untuk bersatu memerangi virus corona, memperkuat rasa percaya dalam politik.

Amerika Latin menjadi salah satu pusat pandemi global pada akhir Mei 2020.

Berdasarkan data Johns Hopkins University, Amerika Latin dan Karibia juga memiliki angka kematian akibat corona lebih banyak dibandingkan Amerika Serikat dan Kanada. (chr/CNNI)