Ini Kata Psikolog Tentang Burnout

(Foto: iStockphoto/CNNI Indonesia)

Jakarta, NewMalangPos – Di masa pandemi Covid-19 ini, istilah burnout semakin populer di kalangan pekerja. Burnout jadi kata-kata yang menggambarkan stres dan lelah tak berkesudahan karena pekerjaan.

Psikolog Rena Masri menyatakan burnout tidak termasuk dalam gangguan kesehatan mental. Rena menjelaskan burnout merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi tertekan atau stres berkepanjangan yang dipicu pekerjaan.

Burnout ditandai dengan motivasi kerja yang menurun, rasa lelah walau pekerjaan tak banyak, dan timbul rasa tidak suka pada pekerjaan sehingga performa pun menurun.

“Burnout sendiri tidak termasuk di gangguan kesehatan mental. Ini lebih ke kondisi psikologis karena tekanan dalam pekerjaan,” kata Rena, Jumat (20/8).

Namun, saat burnout tidak diatasi dan terus dibiarkan dalam waktu lama, kondisi ini dapat mengarah ke gangguan kesehatan mental.

Baca Juga :  Tip Siap Tempur UTBK Saat Bulan Puasa

Psikolog Firman Ramdhani mengatakan burnout tidak boleh dianggap remeh.

Menurut Firman, burnout tidak bisa dilihat sebagai dampak pekerjaan saja tetapi ada faktor risiko lain.

Mulai dari karakter kepribadian yang mudah cemas sehingga lebih rentan burnout, tidak memiliki kemampuan mengendalikan stres yang baik, gaya hidup berisiko seperti sering begadang, makan junk food, dan konsumsi alkohol berlebih.

“Burnout beda dengan depresi. Depresi sudah merupakan diagnosis gangguan kesehatan mental. Sedangkan burnout ini masih deskripsi keadaan,” kata Rena, seperti yang dilansir dari CNN Indonesia, Minggu (22/8).

Namun, dari segi keluhan, keduanya terbilang mirip. Hanya saja, depresi memiliki keluhan atau gejala yang lebih kuat.

Firman menambahkan baik burnout dan depresi memang memiliki kemiripan. Namun, yang membedakan keduanya adalah burnout berkaitan dengan pekerjaan, sedangkan depresi timbul belum tentu karena pekerjaan.

Baca Juga :  8 Makanan Tahun Baru yang Bawa Keberuntungan

Seorang yang mengalami burnout terus-menerus, tanpa ada penanganan baik bisa mengarah pada depresi. Namun seorang yang depresi belum tentu berawal dari stres pekerjaan dan burnout.

“Burnout ini terlihat saat performa kerja turun, mulai enggak fokus, pekerjaan enggak selesai-selesai padahal biasanya cepet, lelah secara fisik dan emosional, tidak termotivasi, mirip dengan gejala depresi. Orang yang depresi kan lelah banget,” kata Firman.

Dia berkata penegakan diagnosis depresi akan menggunakan daftar cek tambahan termasuk rentang waktu keluhan.

Stres itu Perlu

Di sisi lain, Firman mengatakan stres justru dapat membawa manfaat jika takarannya pas.

Jika digambarkan dalam kurva, saat stres berada di kurva normal (titik tertinggi dan posisi di tengah), orang bisa mencapai puncak performa. Di sini, stres tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Sedangkan saat stres terlalu rendah (berada di sisi kiri kurva), justru timbul rasa bosan.

Baca Juga :  Manfaat dan Efek Samping Diet Buah

“Enggak ada tantangan lagi, semua sudah dikuasai jadi bosan. Bosan itu stres yang paling rendah. Nah kalau kurvanya di ujung [kanan], itu bahaya, ya burnout tadi,” kata Firman.

Pada beberapa orang, stres yang tinggi hingga burnout bisa menimbulkan gejala fisik seperti sakit kepala, migrain, vertigo bahkan GERD atau masalah pencernaan lain.

Jika Anda mengalami burnout, segera atasi penyebab stres dan kelola stres dengan baik. Jika burnout tak membaik, konsultasikan dengan ahli seperti psikolog. (els/ptj/mg8/cnni/jon/nmp)

Pilihan Pembaca