Janji Setia The Saguara Team

Perdebatan makin seru, tuntutan untuk melakukan aksi meluruk Direktur Baru yang ditunjuk Imawan Mashuri menuju klimaksnya, dua hari pasca RUPS dan RUPS LB, tepatnya Kamis, 5 Juni 2020. Jajaran Redaktur yang dikomandani Abdul Halim Pemimpin Redaksi Malang Post masih berusaha memformulasikan gerakan yang paling efektif dan tepat sasaran.

Ada dua pilihan, menggelar aksi massa agar publik tahu dengan materi aksi: Menolak Hasil RUPS LB atau Meluruk Direktur Baru yang ditunjuk untuk mundur dari jabatannya. Koordinasi makin intens menjelang malam hari. Pemimpin Redaksi Abdul Halim terus berkoordinasi dengan Hari Santoso, Manager Pemasaran untuk memutuskan langkah yang strategis. Tujuannya jelas: menyelamatkan Kapal Besar Malang Post yang penumpangnya mulai oleng dan limbung pasca tahu hasil putusan RUPS LB tersebut.

Saat itu, Bos Pur, panggilan akrab Juniarno Djoko Purwanto, sudah pulang ke Surabaya. Kepulangan Bos Pur sudah pasti untuk menenangkan diri, relaksasi, karena sehari setelah RUPS LB itu, di grup WA Arema Media Grup, Imawan Mashuri menuliskan beberapa point penting untuk jajaran pimpinan Ameg.id. Salah satunya adalah, menyatakan sejak kemarin (RUPS LB) dirinya sudah menjadi Direktur Utama.
Statemen itu disampaikan pada Rabu, 3 Juni 2020, yang langsung direspon Bos Pur dengan menyatakan ucapan terima kasih. ‘’Sesuai maqam saya, sebagai Komisaris, mohon izin keluar grup. Saya akan mencoba melihat semuanya dengan Helicopter View seperti petunjuk Direktur Utama (Imawan Mashuri),’’ balas Bos Pur melalui WA di grup tersebut.

Bagi Bos Pur, pasca putusan RUPS LB itu, posisinya memang sulit. Mau terus berada di kantor, juga khawatir dianggap tidak mau memahami posisinya sebagai Komisaris. Tapi kalau tidak berada di kantor, nanti dianggap mempersulit bila ada kebutuhan-kebutuhan yang masih memerlukan keberadaannya di kantor Malang Post.

Tapi keputusan pulang ke Surabaya itu sebagai putusan tepat. Sebab dengan berkumpul dengan keluarganya, energinya bangkit. Semangatnya yang sempat anjlok, spontan menjadi naik 360 derajat. Itu karena istrinya dan anak-anak serta menantunya, tidak terima dengan keputusan RUPS LB tersebut.

‘’Saya ini satu-satunya orang yang mau tidur di kantor hampir 20 tahun lebih untuk menjaga agar Malang Post tetap eksis sampai saat ini. Tapi di akhir menjelang masa pensiun, kok situasinya menjadi tak sesuai dengan ekspektasi saya. Keluarga saya tidak terima dan menyemangati saya untuk melawan. Ini harga diri. Semut saja kalau dinjak berontak, apalagi saya yang sudah 22 tahun mendedikasikan hidup saya untuk Malang Post,’’ urai Bos Pur dengan gaya santainya.

Maka malam itu, saat Pemimpin Redaksi Malang Post, Abdul Halim fokus mengerjakan koran edisi Sabtu, 6 Juni, Hari Santoso mengabarkan, rencana yang mengejutkan. ‘’Bang, Kita harus ‘culik’ Pak Darno untuk kita bawa ke Surabaya besok. Ajak semua Redaktur yang ‘seiman’ (satu visi) dengan kita. Tapi jangan maksa. Ini gerakan murni untuk mempertahankan harga diri. Mempertahankan Malang Post agar tidak dikuasai oleh Imawan Mashuri,’’ ujar Hari Santoso melalui telepon.

Halim langsung merespon: Siap, Bang!! Halim langsung mengomando semua Redaktur termasuk Noer Adinda Zaeni, Manager Iklan dan Marcomm yang memang sudah sevisi dengan kita. ‘’Pro All, besok pagi kita merapat untuk pergi ke Surabaya. Kumpul 07.30. Terima Kasih,’’ tulis Halim di grup Redaktur Official yang memang grup bekerja sehari-hari. Saat itu, tidak ada kata, Wajib Ikut atau paksaan apapun. Semua mengalir begitu saja.         

Baca Juga

https://newmalangpos.id/2020/07/02/keputusan-ekstrem-rups-lb/

Paginya, tanpa diduga, ternyata semuanya hadir. Ada 12 orang yang siap berangkat. Sesuai misi, pagi itu juga, sekitar pukul 07.30, kami meluruk rumah Pak Darno, yang jaraknya relatif dekat dengan kantor. Saat itu, Pak Darno lagi santai di rumah sedang menikmati telur rebus. Maklum, sejak menjalani cuci darah, Pak Darno memang rajin mengonsumsi telur kampung setiap paginya. Tanpa basa basi, Hari Santoso langsung empat mata dengan Pak Darno, dan 15 menit kemudian kami langsung meluncur ke Surabaya.

Baru keluar Sawojajar, ada kabar dari Surabaya. Bos Pur yang mau didatangi, ternyata lagi berada di sebuah Vila di kawasan Taman Dayu. Maka berangkatlah kita 13 orang ke Vila yang dimaksud. Hari masih pagi sekitar pukul 10.00, kami sudah tiba. Bos Pur menyambut dengan keluarganya dan kaget. ‘’Sebanyak ini yang datang? Saya pikir cuma satu mobil. Luar biasa,’’ ungkapnya. Saat itu, Bos Pur juga belum tahu, apa maksud kedatangan kami.

Setelah dipersilahkan masuk, Hari Santoso memulai pembicaraan. Intinya kembali meminta saran apa yang harus dilakukan para karyawan. Bukan itu saja, kami pun meminta penjelasan secara detail sebenarnya yang terjadi, utamanya, saham 74 persen yang selalu disebut-sebut Imawan Mashuri sebagai miliknya. Bagi karyawan itu Tanda Tanya besar, sampai sekarang. Karena kami tidak pernah tahu alur cerita aslinya termasuk legal formalnya kepemilikan saham itu.

‘’Saya sudah konfirmasi ke orang-orang Jawa Pos. Saya sudah tahu jawabannya,’’ kata Bos Pur. ‘’Saya juga tidak tahu bagaimana prosesnya menjadi 74 persen. Termasuk legal formalnya saya belum tahu,’’ ujar Pak Darno, yang mewakili saham karyawan 14 persen.   

Setelah hampir dua jam bercerita, kami kemudian menyatakan sikap kepada Bos Pur. Kami mendukung Bos Pur dan Pak Darno dalam menghadapi masa sulit ini, dan kami mendesak keduanya untuk membuat perusahaan baru dan menerbitkan Koran baru. Intinya kami 13 orang yang memaksa Bos Pur untuk bangkit dan bergabung bersama kami untuk membuat Koran. Misinya melanjutkan Malang Post yang sebenarnya.

Bos Pur terenyuh dan meneteskan air mata. Baginya dalam kondisi sesulit apapun, selemah apapun, Bos Pur masih sangat baik ke semua karyawannya.  Desakan dan dukungan yang diberikan 13 orang inilah yang membuatnya akhirnya sepakat. ‘’Siap. Ayo Kita Bangkit. Kita Pertahankan harga diri kita. Kita bangun Koran yang Baru. Istri saya juga sangat mendukung. Saya Siap karena keluarga saya juga mendukung. Bismillah….,’’ kata Bos Pur. Pak Mahmudi yang ikut dalam barisan kita akhirnya menutup doa. Kami lalu makan nasi bungkus bersama dan minum kopi JANJI JIWA yang disuguhkan Bos Pur.

Dan sebelum pulang, kami semua ikrar di depan sebuah Vila, di depan sebuah tulisan The Saguara. Karena itulah, kami memberi nama pertemuan itu sebagai Janji Setia The Saguara Team. Mereka adalah Juniarno Djoko Purwanto (Direktur Utama), Sudarno Seman (Direktur), Hari Santoso Manager Pemasaran dan Sirkulasi, Abdul Halim Pemimpin Redaksi, Noer Adinda Zaeni Manager Iklan dan Marcomm, Vandri van Battu Koordinator Liputan, Muhaimin Sekretaris, Eko Abdi Hasyim Koordinator Artistik dan para redaktur Mahmudi Muchith, Jon Soeparijono, Agung Priyo Lestari, Stenly Rehardson, Guest Gesang dan Sumarga Nurtantyo Manager Iklan Malangpostonline.com. (The Saguara Team/bersambung)