Alur Pendaftaran GeNose di Stasiun, Harganya Rp 20 Ribu

KAI resmi membuka layanan tes GeNose di Stasiun Pasar Senen, Gambir, Yogyakarta, dan Solo Balapan sebagai salah satu syarat perjalanan kereta api masa pandemi. (Andry Novelino/CNN Indonesia)

NewMalangPos – Layanan Tes GeNose resmi dibuka di Stasiun Pasar Senen pada Jumat (5/2). Tes GeNose menjadi salah satu syarat perjalanan kereta api untuk memenuhi standar protokol kesehatan selama pandemi.

Vice President Public Relation PT KAI Joni Martinus menyatakan layanan ini merupakan kerja sama antara PT KAI dengan PT Rajawali Nusantara Indonesia dan Universitas Gajah Mada.

“Kita membuka layanan di empat stasiun, Pasar Senen, Gambir, Yogyakarta, dan Solo Balapan,” kata Joni saat ditemui wartawan di kompleks stasiun Pasar Senen, Jumat (5/2).

Diberitakan CNN Indonesia, Jumat (5/2), layanan tes GeNose ini dibanderol Rp 20 ribu dan berlaku untuk syarat perjalanan kereta 3×24 jam.

Setiap penumpang yang akan melakukan tes GeNose harus mengambil nomor antrean. Nomor antrean ini berbeda dari antrean tes antigen.

Setelah itu, peserta tes harus mengantre untuk melakukan pendaftaran di loket yang disediakan. Setiap peserta tes harus menunjukkan kode booking atau bukti pemesanan dan kartu identitas.

Baca Juga: Gubernur Santuni Korban Banjir di Pasuruan

Peserta membayar biaya tes di loket pembayaran. Setelah membayar, peserta akan melakukan tes GeNose di tempat yang telah disediakan.

Setiap peserta tes harus meniup kantong udara yang telah disediakan. Mereka akan diarahkan petugas untuk menarik dan mengeluarkan napas tiga kali. Pengambilan nafas dilakukan melalui hidung. Kemudian, pembuangan nafas dilakukan melalui mulut.

“Pembuangan nafas yang ketiga dihembuskan ke kantong udara hingga penuh,” jelas mesin monitor yang mengarahkan peserta tes.

Sampel udara kemudian akan dikumpulkan dalam kotak untuk kemudian diuji dengan mesin GeNose C-19.

Joni menjelaskan, setiap sampel akan ada keterangan nama dan kode booking peserta tes. “Di sample itu juga kita beri label nama dan kode booking supaya tidak tertukar,” terang Joni.

Setelah itu, peserta tes menunggu hasil tes di ruang tunggu yang telah disediakan.

Petugas akan memanggil peserta tes setelah hasilnya keluar.

Joni tidak bisa memastikan berapa lama waktu yang diperlukan peserta hingga mendapatkan hasil tes. Ia hanya mengatakan bahwa mesin GeNose C19 mampu mendeteksi sampel dalam waktu 3 menit.

“Tapi ini tidak bisa dipatok tiga menit karena harus ditambah waktu tunggu antri, ada proses pendaftaran,” kata Joni.

Hingga pukul 11.42 WIB, sebanyak 611 nomor antrian tes GeNose telah digunakan. Sementara, nomor antrian antigen telah mencapai angka 428.

Joni mengatakan saat ini terdapat enam mesin GeNose yang beroperasi di stasiun Pasar Senen.

“Tapi kita akan terus tambah. Kita akan kerja sama dengan teman-teman UGM untuk terus tambah,” kata Joni.

Ia mengatakan, sebelum resmi diterapkan, pihaknya telah melakukan uji coba pada 3 Februari lalu.

“Terutama di alur pelayanan. Kami ingin kalo terjadi antrian itu tidak terjadi penumpukan,” kata Joni.

Hingga saat ini PT KAI telah menyediakan layanan tes GeNose di empat titik, yakni Stasiun Pasar Senen 6 mesin, Gambir 2 mesin, Yogyakarta 4 mesin, dan Solo Balapan 2 mesin.

Menurut Joni, pada hari pertama ini, penumpang yang memilih tes GeNose lebih banyak daripada yang memilih tes Antigen.

Hal ini, menurutnya, disebabkan oleh rasa keingintahuan masyarakat terhadap layanan baru. Selain itu adalah biaya tes GeNose yang lebih murah.

“Namun secara perbandingan akurasi itu sama-sama,” ungkap Joni.

Pada tes GeNose ini setiap peserta tes harus meniup kantong udara yang telah disediakan. Mereka diarahkan untuk menarik dan mengeluarkan napas tiga kali. Pengambilan napas dilakukan melalui hidung. Kemudian, pembuangan napas dilakukan melalui mulut.

“Pembuangan napas yang ketiga dihembuskan ke kantong udara hingga penuh,” jelas mesin monitor yang mengarahkan peserta tes.(niam/gil/cnni/nmp)