NMP
Foto: Paulus Yulius Kollo dan Indra Wibowo batal menumpangi pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ182 karena biaya tes usap mahal. (ANTARA/Jessica Helena Wuysang/detikcom/Newmalangpos)

NewMalangPosPaulus Yulius Kollo (24) dan Indra Wibowo (21) sedianya akan pergi ke Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) dengan menumpangi pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ182. Namun keduanya batal terbang karena terbentur biaya tes usap (swab test) yang mahal.

Keduanya telah membeli tiket pesawat. Namun karena biaya swab test yang mahal, keduanya akhirnya memilih menggunakan angkutan laut KM Lawit.

“Kami berdua harusnya berada di pesawat Sriwijaya Air, tetapi batal karena biaya tes usap yang mahal, untuk yang hasilnya tiga hari saja sebesar Rp1,3 juta, sementara yang untuk enam jam sudah ada hasilnya sebesar Rp2,6 juta, sehingga pihak perusahaan menyuruh kami memilih naik KM Lawit yang kebetulan Selasa sore (8/1) itu juga berangkat,” kata Paulus Yulius Kullo di Pontianak, Rabu (13/11) seperti dilansir Antara.

Dilansir dari Detik News, Rabu (13/1), Paulus adalah salah seorang warga Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara Indra Wibowo berasal dari Aceh Tenggara, Aceh.

Baca Juga: Tindak 688 Pelanggaran PSBB. Kabupaten Paling Tegas, Disusul Batu

Dia menceritakan, selama dalam perjalanan di laut tidak mendapatkan sinyal sama sekali. Sehingga mereka tidak mengetahui musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang seharusnya mereka tumpangi itu.

“Ketika KM Lawit berada di muara sungai dekat Pontianak, saya pun mendapatkan notifikasi telepon dari orang tua di Kupang. Karena khawatir saya lalu menghubungi mereka, dari situlah baru diketahui bahwa pesawat yang harusnya saya tumpangi itu mengalami kecelakaan,” ungkap Paulus.

Paulus menceritakan, dirinya dan Indra tidak melakukan pembatalan tiket pada maskapai Sriwijaya Air. Sehingga pihaknya tetap terdaftar dalam penumpang pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut.

“Kami sebenarnya berenam, empat langsung berangkat ke Pontianak, sementara saya sama teman Indra tertahan karena hanya mencantumkan tes antigen, sementara Pemprov Kalbar mengharuskan tes usap, sehingga jadwal penerbangan diubah menjadi 9 Januari 2021, karena biaya tes usap mahal, maka pihak kantor menyarankan kami menggunakan KM Lawit yang berangkat, Jumat sore (8/1),” ujarnya.

Sebelumnya, pesawat Sriwijaya Air nomor register PK-CLC rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu (9/1) sekitar pukul 14.40 WIB. Pesawat tersebut dinyatakan jatuh di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Baca Juga : Harga Cabai Naik, Pembeli Berkurang, Pedagang Resah

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 mil laut di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat tinggal landas dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 14.36 WIB. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya 13.35 WIB karena faktor cuaca.

Berdasarkan data manifes penerbangan, pesawat yang diproduksi tahun 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi. Sedangkan 12 kru terdiri atas, enam kru aktif dan enam kru ekstra.

Saat ini petugas gabungan masih melakukan pencarian terhadap korban. Dokter kepolisian juga sedang melakukan identifikasi terhadap bagian tubuh korban yang ditemukan oleh petugas. Tim DVI RS Polri telah mengungkap identifikasi 4 korban. (jbr/idh/Dtk)