Indonesia Dalam Cengkeraman Jingo Pancasilaisme

NewMalangPos – Sahut-menyahut dan saling memberi label “anti Pancasila” maupun “anti Islam” beberapa tahun terakhir semakin marak. Dua labelling tersebut telah menjelma menjadi komoditas politik yang dapat digunakan untuk menjatuhkan kelompok yang berbeda pandangan maupun lawan politik. Baik Pancasila maupun Islam sudah tidak lagi menjadi pengayom untuk semua elemen masyarakat.

Maraknya labelling selalu diiringi dengan suasana politik yang memanas. Masih hangat di ingatan kita pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019 lalu bagaimana kedua tim sukses (timses) saling melempar label anti Pancasila atau anti  antara satu sama lainnya. Bahkan, lebih sadis lagi ada beberapa yang mengkafirkan lawan  dengan mengatasnamakan agama.

Baca Juga :  Kelas Virtual For Upskilling Students

Baru-baru ini dalam tes wawancara kebangsaan (TWK) ketika tes alih status pegawai KPK, terdapat beberapa pertanyaan yang menjadi sorotan publik; “Pilih yang mana, Al-Quran atau Pancasila?”. Ada juga pertanyaan kesediaan untuk melepas jilbab, tatkala dijawab tidak bersedia, dibilang lebih mementingkan pribadi dibandingkan bangsa dan negara.

Miris seketika, melihat fenomena labelling maupun dibenturkannya antara agama dan Pancasila dengan niat menjatuhkan lawan yang sudah ditarget. Sangat jelas, bahwa bangsa Indonesia dalam cengkeraman “Jingo Pancasilaisme.” Dimana, memiliki sikap yang terlampau memuja-muja Pancasila sehingga melahirkan tindakan yang ekstrim.

Erosi Nasionalisme

Terkikisnya rasa nasionalisme yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila menjadi faktor utama terjadinya “Jingo Pancasilaisme.” Pancasila tak lagi menjadi sukma bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nasionalisme yang tidak dijiwai dengan Pancasila tak ayalnya sebuah panser yang siap untuk menembak siapa saja yang dianggap berbeda dengannya.

Baca Juga :  KHABIB

Seiring dengan perkembangan dinamika politik dan sosial akhir-akhir ini kebhinnekaan bangsa Indonesia pelan tapi pasti mengalami sebuah keretakan, semangat gotong royong, semangat persatuan di tubuh bangsa tak lagi menjadi pertimbangan utama. Bangsa Indonesia dengan dasar Pancasila sebagai konsensus bersama hanya manis di retorika belaka, tak mampu merasuk dalam kesadaran setiap anak bangsa.

Terus memudarnya spirit nasionalisme terlihat dari lebih ditonjolkannya egoisme kelompok yang bersifat sektarian dibandingkan kepentingan bersama. Tak ubahnya seperti Chauvinisme, cinta tanah air yang berujung pada fanatisme ekstrimis semata. Jangankan untuk menjadi perekat antar golongan, justru ini awal mula dari carut marutnya situasi kebangsaan yang mengakibatkan pengkristalan rasa dendam yang berlarut-larut.

Baca Juga :  Pedestrian Way

Bung Karno dengan tegas mengatakan bahwa nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme dengan nilai perikemanusiaan, nilai persatuan, yang memiliki perbedaan mendasar dengan nasionalisme pada umumnya, yang menumbuhkan rasa patriotisme ekstrim. Nasionalisme yang melahirkan cacian, menjatuhkan, bahkan menegasikan kelompok yang berbeda dengannya. Nasionalisme yang didasari oleh Pancasila adalah nasionalisme yang mampu menjadi perekat antara satu sama lainnya.