Imbang Rasa Kalah

NewMalangPos – Imbang dua kali di laga pembuka Liga 1 musim ini, bagi Arema FC sebenarnya bukan hasil yang terlalu buruk. Ya setidaknya masih dapat dua poin, daripada kalah.

Kalimat tersebut cukup jadi penenang. Atau sebagai penghibur diri. Meski sang Presiden Arema FC, Juragan 99 alias Gilang Widya Pramana sudah menyampaikan, hasil imbang rasa kalah.

Khususnya pada laga kedua saat ‘menjamu’ Bhayangkara Solo FC. Singo Edan dengan status ‘tuan rumah’ ditahan imbang 1-1.

Bahkan tertinggal lebih dulu, lalu gol disamakan Dendi Santoso. Sempat unggul pemain sejak menit 78, Arema masih susah menang.

“Imbang rasa kalah, hari ini permainan gaya malangan tidak terlihat, kita evaluasi untuk pertandingan berikutnya,” ungkap sang Presiden yang juga mohon maaf.

Ya, meski baru dua laga, evaluasi harus dilakukan. Apalagi dengan target juara musim ini, hasil imbang tidaklah cukup.

Khususnya melihat permainan Arema FC yangtak sesuai harapan. Tak mungkin akan terus berdalih, untung tidak kalah.

Baca Juga :  Pendapatan Arema FC Store Tergerus 60 persen

Untuk juara, butuh raihan tiga poin di setiap laga. Artinya rugi bagi Arema jika tidak menang. Ini jadi peringatan dini. Harus dievaluasi! Evaluasi seperti apa?

Kalau boleh menilai, tentu evaluasi dimulai dari pelatih Arema FC, Eduardo Almeida. Juru taktik asal Portugal ini yang paling paham dengan kondisi timnya. Dibantu dengan sederet asisten, pelatihlah yang meracik taktik dan strategi.

Dia boleh saja mengaku puas dengan permainan timnya. Atau mengatakan timnya tampil bagus dan teroganisir. Namun tidak sama dengan komentar penonton. Terlebih Aremania yang tentu ingin timnya tampil bagus, hasil pun bagus.

Banyak Aremania menyebut lini tengah Arema bermasalah. Disebut-sebut Singo Edan butuh playmaker yang berkarakter. Entah asing maupun lokal, Arema perlu sosok jenderal lapangan tengah.

Kira-kira begitu masukan yang banyak dari Aremania. Dan itu ada benarnya, karena memenangkan lini tengah, peluang besar memenangkan pertandingan.

Baca Juga :  Obat Cacing

Terlepas itu, lini depan Arema juga menjadi sorotan. Khususnya dalam formasi 4-3-3 dengan menempatkan tiga penyerang, ternyata tidak efektif. Sekali lagi, harusnya pelatihlah yang paling tahu kualitas pemain pilihannya.

Menempatkan Yudho dan Dedik sebagai stiker sayap, tak bekerja dengan maksimal. Termasuk Fortes sebagai targetman, tak banyak memiliki peluang bagus. Lalu di tengah ada Renshi, Hanif dan Rafli yang juga berperan sebagai second striker, tak bisa berbuat banyak.

Penyusunan formasi ini harusnya sudah dipikirkan dengan matang sesuai taktik dan strategi sang pelatih. Meski pada kenyataannya, taktik tersebut tak membuahkan hasil memuaskan. Justru menunjukkan kelemahan Arema di lini tengah.

Maunya menang dengan menurunkan 3 pemain dengan kemampuan menyerang (Fortes, Dedik, Yudho), bahkan ditambah satu lagi yaitu Rafli, ternyata gak efektif. Bahkan Arema kebobolan dulu, dua kali. Satu gol Bhayangkara Solo FC dianulir.
Kenapa Arema tidak tampil dengan skema 4-4-2 atau mungkin 3-5-2 demi menguatkan lini tengah?

Baca Juga :  Peluang Para Debutan

Tentu tak ada yang bisa mengintervensi keputusan pelatih dalam taktik dan strategi. Hanya saja, dengan menempatkan dua targetman sekaligus, rasanya lebih jelas kekuatan lini depan Arema.

Setidaknya pola permainan lebih berimbang di semua lini.
Terlebih misal dengan 3-5-2, gelandang sayap Arema akan ‘dipaksa’ lebih ngeyel untuk naik turun. Sepertinya komposisi pemain Arema saat ini sangat dimungkinkan untuk formasi 4-4-2 atau 3-5-2 itu.

Jujur, sebagai tim yang disebut-sebut sudah sangat siap berkompetisi, Arema FC seolah tak ada apa-apanya, dari hasil imbang itu. Gol tandukan Ezechiel N’DouaselN’Douasel dua kali juga menunjukkan betapa rapuhnya organisasi pertahanan Singo Edan.

Dua pemain asing di lini belakang (termasuk kiper) seperti tak ada artinya. Apakah latihannya kurang? Atau bonus yang dijanjikan sang Presiden kurang?
Terlihat permainan Arema kurang greget. Pantas jika hasil imbang dianggap seperti kalah. Tak ada main ngeyel, seperti diharapkan tampil dengan gaya Malangan. (*/bersambung)

Pilihan Pembaca