IKIGAE

NewMalangPos – Gemes dan Prihatin! Itu perasaan saya ketika membaca berita 69 Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemkot Batu bolos hari pertama kerja, Senin (17/5) setelah libur lebaran. Perasaan yang sama mungkin juga dirasakan banyak masyarakat yang membaca berita tersebut.

Kenapa gemes, karena tidak seharusnya ASN bolos kerja. Apalagi sebelumnya sudah diwarning dengan sanksi sesuai aturan yang berlaku. Dan warning ini terjadi setiap tahun. Maka sangat konyol kalau kemudian masih ada ASN, apalagi yang statusnya PNS masih bolos kerja dengan alasan apapun, apalagi yang tanpa alasan jelas.

Ironisnya lagi ini terjadi di Kota Batu, yang wilayahnya lebih kecil dibandingkan dengan Kota Malang dan Kabupaten Malang. Di Pemkot Malang dan Pemkab Malang justru tidak ditemukan ASN dan PNS yang bolos kerja di hari pertama. Karena itu, saya sepakat bila Walikota Batu atau kepala dinas terkait memberikan sanksi tegas. Bahkan kalau perlu lebih ekstrim. Biar PNS yang masih hobi bandel tidak mengulang dan berpikir dua kali lipat bila melakukan kekonyolan-kekonyolan dalam pekerjaannya di masa mendatang.

Kenapa, karena tindakan bolos kerja di hari pertama kerja itu tidak hanya mencoreng citra Pemkot Batu dan Walikota Batu di muka publik, tapi lebih dari itu berkhianat dengan janji Panca Prasetya Korpri. Tentu ASN, meskipun tidak semua hapal, tapi setidaknya harus memegang teguh janji ini saat bersumpah sebagai PNS. Bahkan harusnya sudah mendarah daging sebagai PNS. Bahkan ada seorang teman PNS Guru yang bilang, sudah hapal saat Pra Jabatan.

Kenapa gemes dan prihatin saya berlebihan kali ini? Karena PNS yang bolos kerja ini bisa jadi melanggar apa yang disampaikan Presiden Jokowi untuk tidak mudik. Karena Larangan Mudik berlaku untuk semua. Terlebih ASN yang statusnya PNS. Abdi Negara. Dan kebijakan Larangan Mudik merupakan kebijakan pemerintah untuk publik.

Baca Juga :  KPK Sita Berkas dan Periksa Kepala Dinas

Bisa jadi, yang bolos kerja, adalah orang orang yang memang nekat mudik ke kampung halamannya dan saat kembali kesulitan masuk Kota Malang. Atau bisa jadi, mereka memang sengaja tidak kembali ke Malang karena sejak awal memang mentalnya sudah niat bolos kerja. Mungkin masih berlebaran bersama keluarga, atau malah asyik berwisata. Padahal aturan absensi shareloc diberlakukan. Nyatanya masih nekat aja bolos. Memalukan!.   

Kalau kembali ke Panca Prasetya Korpri, rasanya tindakan bolos kerja dan sejenisnya merupakan ‘pengkhianatan’ terhadap janji sakral tersebut. PNS harusnya setia kepada negara, mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan, dan harus disiplin dalam bekerja. Bukannya bolos alias tidak disiplin kerja. Sementara puluhan bahkan ratusan juta orang menunggu dan berharap menjadi PNS setiap tahunnya. Ini yang menjadi PNS kok malah memberi contoh buruk. 

Tentu tindakan bolos kerja melanggar UU ASN No. 5 tahun 2014, karena fungsi utamanya ASN adalah sebagai pelaksana pelayanan publik dan perekat pemersatu bangsa. Tugas ASN adalah melaksanakan kebijakan publik, memberikan pelayanan publik dan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Juga melanggar PP No.11 Tahun 2017 tentang Integritas ASN.

Jack Welch, dalam bukunya yang berjudul “Winning” mengatakan, “integritas  adalah sepatah kata yang kabur (tidak jelas). Orang-orang yang memiliki integritas mengatakan kebenaran, dan orang-orang itu memegang kata-kata mereka.  Mereka bertanggung-jawab atas tindakan-tindakan mereka di masa lalu, mengakui  kesalahan mereka dan mengoreksinya. Mereka mengetahui hukum yang berlaku dalam negara mereka, industri mereka dan perusahaan mereka – baik yang  tersurat maupun yang tersirat – dan mentaatinya. Mereka bermain untuk menang  secara benar (bersih), seturut peraturan yang berlaku.”

Baca Juga :  Ikut Latihan Fisik Bareng Arema Putri

Iriawan Hartana dalam website OT Go Beyond menuliskan tips profesional tentang Integritas dan Kredibilitas dalam bekerja. Sebenarnya kedua istilah ini memiliki kesamaan yaitu bahwa keduanya menjadi sumber terbentuknya “trust” (kepercayaan). Bedanya kalau Kredibilitas lebih menyangkut “head” (otak) yaitu kemampuan olah pikir yang mencakup antara lain intelegensia, keterampilan, kompetensi (hard skill). 

Sedangkan Integritas lebih menyangkut “heart” (hati) yaitu kemampuan olah nurani yang mencakup antara lain kejujuran, ketulusan, komitmen dan sebagainya. Kredibilitas terbangun melalui dua unsur yang sangat penting yaitu kapabilitas (kompetensi) dan pengalaman. Akan sulit rasanya jika seseorang tidak memiliki kompetensi dan pengalaman di bidangnya. 

Sementara itu Integritas dibangun melalui tiga unsur penting yaitu nilai-nilai yang dianut oleh seseorang (values), konsistensi, dan komitmen. Nilai-nilai merupakan pegangan dalam bertindak. Integritas ini akan semakin kokoh jika seseorang memiliki konsistensi antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan (walk the talk) dan memiliki komitmen terhadapnya. Bila tidak memiliki integritas, kita akan kehilangan kredibilitas karena orang lain akan menjauhi kita untuk menghindari kekecewaan.

Analisa Widyaningrum, S.Psi, M.Psi Director dan Founder Analisa Personality Development Center (APDC) di Jogjakarta, yang menawarkan jasa konsultasi psikologi, in-house training, dan sekolah kepribadian mengatakan dalam hidup seringkali kita bertanya apa tujuan hidup, apa tujuan bekerja, apa yang ingin dicapai, dan kenapa kita belum bahagia padahal sudah bekerja puluhan tahun.

Analisa mengingatkan bahwa dalam menjalani proses hidup seseorang butuh mencari apa yang namanya IKIGAI: Mencari Kebermaknaan Hidup. (Menurut Wikipedia, IKIGAI adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan.Secara harfiah meliputi iki, yang berarti kehidupan dan gai, yang berarti nilai. Ikigai kadang diekspresikan sebagai “alasan untuk bangun di pagi hari”).

Baca Juga :  Batal Gabung Klub Milik Atta Halilintar, Utam Rusdiyana Pilih ke Persekat Tegal

IKIGAI menurut Analisa adalah kondisi dimana kita sudah mendapatkan 4 hal dalam hidup. Pertama, Kamu suka apa yang kamu kerjakan. Kedua, Kamu ahli dengan apa yang kamu kerjakan. Ketiga, Dunia membayar kamu dengan uang yang cukup. Dan keempat, Dunia membutuhkan apa yang kamu kerjakan. Kalau keempat hal tersebut sudah bisa didapatkan maka seseorang akan bisa berkomitmen dengan pekerjaannya.

Tapi untuk mencapai keempatnya tidak mudah. Mencari IKIGAI memang prosesnya panjang. Seperti petualangan yang tidak pernah berhenti entah sampai kapan. ‘’Aku terus menekuni apa yang aku sukai, dan Aku terus belajar. Untuk dihargai harus jadi Ahli. Dan untuk jadi Ahli harus terus belajar,’’ katanya dalam Analisa Channel.

‘’Buat yang sedang mencari IKIGAI, nikmati saja prosesnya. Kuliah dan bekerja adalah proses mencari IKIGAI. Kalau kita melakukan semuanya dengan tulus, InsyaAllah kebermaknaan hidup itu akan dating dengan sendirinya. Dalam Islam, IKIGAI adalah merefleksikan dan mengenali untuk apa kita hidup di dunia dan mencari kebermaknaan hidup,’’ tegasnya.

Karena itu, Analisa mengingatkan, bedakan rasa syukur dengan zona nyaman. Kalau orang bersyukur tidak membuat lupa untuk usaha yang maksimal. Tapi kalau terjebak zona nyaman, membuat rasa syukur menjadi alasan untuk tidak mau bangkit atau menyelesaikan rintangan yang dihadapi. ‘’Usaha harus maksimal dan rasa syukur tidak boleh minimal,’’ pesannya.

Sebagai PNS, bekerja swasta atau profesional, harusnya kita memilih rasa syukur dan tidak terjebak dengan zona nyaman.(*) 

artikel Pilihan