Idul Adha, Momentum Berbagi

NewMalangPos – IDUL Adha 1442 H memiliki makna tersendiri di masa pandemi Covid-19. Saat kasus positif Korona terus meroket, Idul Adha menjadi semacam oase. Idul Adha diharapkan menjadi momentum berbagi demi menciptakan kegembiraan bersama. Tidak hanya di Indonesia, masyarakat muslim di belahan dunia lainnya pun banyak yang mengalami imbas dari Covid-19. Apapun yang terjadi, jangan sampai semangat kegembiraan dalam Idul Adha menjadi luntur.

Akan tetapi, saat merayakan hari raya Idul Adha, umat Islam perlu diingatkan kembali agar mematuhi protokol kesehatan. Tidak hanya dalam salat berjamaah yang sebaiknya dilakukan di rumah, terutama di wilayah zona merah, namun juga saat penyembelihan hewan kurban. Kendati penyelenggara penyembelihan hewan kurban berjanji akan menaati protokol, pengawasan ketat selama pelaksanaannya tetap dibutuhkan.

Dalam kondisi normal, salat berjamaah dan sembelih hewan kurban di tanah lapang merupakan ciri khas umat Islam ketika merayakan Idul Adha. Sunnah ini tidak mungkin lagi dilakukan sejak wabah Covid-19 melanda dunia. Semuanya harus bersabar untuk tidak berkerumun karena berpotensi menjadi cluster penyebaran virus Covid-19. Pemerintah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas Islam pun terus menerus menyerukan umat untuk tidak menggelar salat Id berjamaah di masjid atau lapangan.

Dalam surat edarannya, MUI menjelaskan berbagai ketentuan waktu dan lokasi penyembelihan hewan kurban. Sesuai dengan syariat Islam, penyembelihan bisa dilakukan selama 4 hari, yaitu pada tanggal 10, 11,12 dan 13 Dzulhijjah untuk menghindari kerumunan dan diserahkan ke Rumah Pemotongan Hewan Rumanasia (RPH-R). Karena keterbatasan kapasitas dan jumlah rumah potong, boleh dilakukan di lingkungan masjid dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Begitu pula, ketika mendistribusikan daging qurban.

Baca Juga :  Menulislah, Seperti RA Kartini

Momen untuk Berbagi

Tentu yang utama selain melaksanakan ibadah kurban, juga tetap membantu saudara-saudara kita yang tengah mengalami kesulitan hidup. Dimulai dari keluarga terdekat, tetangga terdekat dan orang-orang yang sangat membutuhkan. Selain itu, pentingnya menghayati makna dari ritual ibadah kurban yang merupakan jejak syariat dari Nabi Ibrahim.

Di tengah tekanan kebutuhan ekonomi yang semakin menjepit, dibutuhkan sikap empati sosial yang bisa saling mengisi dan berbagi satu sama lain. Dalam Islam, empati sosial ini dikenal dengan kata qaraba (dekat) yang kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi akrab, karib, dan kerabat yang menunjukkan kedekatan yang khusus.

Mengutip Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy-Syaukani dalam Kitab Fath al-Qadir, seseorang wajib memberi bantuan kepada kerabatnya yang membutuhkan pertolongan sebagaimana Allah menyuruh untuk menegakkan keadilan dan berbuat kebajikan. Untuk menciptakan amal sosial ini, ibadah kurban menjadi sarana ampuh untuk mewujudkannya.

Baca Juga :  Maklumat Kapolri dan Posisi Media

Ibadah kurban tidak semata mengandung dimensi spiritual-transendental sebagai konsekuensi dari kepatuhan kepada Allah, juga mengandung dimensi sosial humanis dengan pendistribusian hewan kurban bagi mereka yang berhak. Terlebih, belakangan jumlah kaum dhuafa terus meningkat, kaum miskin pun kian menjerit.

Karena itu, umat Islam yang mampu untuk lebih mengutamakan bersedekah berupa uang daripada menyembelih hewan kurban, atau bagi yang mampu bisa melakukan keduanya. Inilah sesungguhnya esensi ibadah kurban untuk berbagi dengan sesama.

Refleksi di Tengah Pandemi

Saat situasi negeri yang sedang menghadapi berbagai permasalahan nasional, membuat peringatan Idul Adha ini menjadi sangat berarti. Banyak pelajaran penting dari tonggak sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim tersebut yang dapat kita refleksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, betapa kita semua turut prihatin, terkadang sampai meneteskan air mata, menyaksikan bencana demi bencana, kesulitan demi kesulitan yang datang silih berganti menimpa ibu pertiwi. Ujian berupa pandemi Korona telah menimbulkan kesengsaraan yang tiada tara.

Dengan menyebarnya pandemi Korona dan diterapkannya PPKM di beberapa daerah, banyak golongan masyarakat yang mengalami penurunan pendapatan dan bahkan harus kehilangan mata pencahariannya, khususnya yang bekerja di sektor informal. Kendati pemerintah dalam hal ini sudah mencanangkan beragam tindakan untuk mengentas masyarakat miskin di Indonesia, semua itu sungguh berat tanpa keterlibatan orang-orang yang memiliki kesadaran untuk berbagi

Baca Juga :  Sekolah Versus TikTok

Suasana pandemi seperti yang kita rasakan ini menuntut spirit berkorban atau berbagi. Bukan sekadar berbagi pangan, tetapi juga berbagi perhatian, berbagi kasih, dan berbagi simpati. Kesediaan untuk berbagi inilah, sebuah nilai pengorbanan yang dapat dikatakan langka, manakala manusia sudah termakan hawa nafsu materialistik.

Menghadapi badai pandemi Covid-19, umat Islam senyatanya mampu membuktikan nilai-nilai semangat kurban dalam kehidupan riil sehingga bermakna luas bagi perbaikan kondisi kehidupan bermasyarakat. Bahwa kesediaan manusia untuk berkorban mestinya jauh melampaui daripada sekadar menyembelih hewan kurban. Di antaranya adalah berjuang melawan hawa nafsu kebinatangan dan rela berbagi kepada sesama yang membutuhkan pertolongan.

Ibadah kurban tidak akan menemui esensinya jika hanya dipahami sebagai ibadah ritual tahunan saat merayakan Idul Adha, tanpa melahirkan sikap rela berkorban untuk berbagi dengan sesama. Sehingga apapun bentuknya, sebuah pengorbanan, baik berupa harta, ilmu, pikiran dan tenaga yang dapat memberikan manfaat untuk orang lain jika dilakukan dengan kesungguhan hati dan keikhlasan, niscaya mengantarkan seseorang menjadi lebih dekat kepada Tuhannya.(*)