Idul Adha 1442 H, SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School, Jadi Momentum Berkompetisi dan Berempati

PERCAYA DIRI: Salah satu penampilan siswa peserta lomba pidato Bahasa Inggris di instagram.

MALANG, NewMalangPos – Dalam rangka menyemarakkan Peringatan Idul Adha 1442, SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School, menggelar beberapa agenda.

Salah satunya perlombaan. Ada tiga mata lomba. Yaitu pidato Bahasa Inggris, Cipta Karya Puisi dan microblog.

Setiap siswa wajib mengikuti satu mata lomba. Dan karya-karya mereka dapat disaksikan di Instagram masing-masing kelas SMA Islam Sabilillah Boarding School.

Koordinator Karakter SMAIS, Ghulam Nurul Wildan menyampaikan Idul Adha tahun ini bersamaan dengan momen Masa Orientasi Karakter Siswa (MOKS). Karenanya untuk perlombaan diberikan beberapa tema yang diantaranya berkaitan dengan Idul Qurban. “Agenda ini salah satu upaya mengasah kemampuan siswa mengkreasi ilmu pengetahuan dan mengkomunikasikan kepada orang lain,”  katanya.

Ada lima tema dalam kegiatan lomba ini. Antara lain Islamic learning manner, semacam cara belajar dalam Islam. Selain juga ada tema  waktunya berkurban, hidup disiplin, menumbuhkan rasa empati ke sesama dan sehat di masa pandemi. 

Baca Juga :  Dua Tim Malang Juara KIBM

Tema yang berkaitan dengan idul adha,  yakni saatnya berkurban dan menumbuhkan rasa empati. Keduanya sudah dijelaskan guru sejak tiga hari sebelum lomba.

Dengan mengambil pembelajaran pada kisah kisah islam, dari para nabi dan ulama terdahulu.  Dan pada ujungnya siswa diajak untuk mengerjakan proyek-proyek sosial. “Dengan harapan menumbuhkan rasa empati anak dengan melaksanakan sunnah muakkad berupa menyembelih hewan kurban,” terang Ghulam.

Ia memaknai Idul Adha tahun ini begitu bermakna. Di tengah kondisi yang serba sulit karena pandemi, masyarakat tentu banyak yang membutuhkan bantuan.

Hanya mereka yang berhati besar yang mau menyisihkan sebagian harta untuk sesamanya. Di momentum inilah saat yang tepat untuk melatih siswa menumbuhkan sikap rela dan ikhlas membantu.

Sebab kata Ghulam, di masa pandemi rasa empati tidak cukup hanya mengucapkan kasihan. Tetapi butuh aksi nyata. “Anak-anak punya kesadaran untuk berkurban dalam arti mengorbankan kecintaan dunia untuk orang lain,” jelasnya.

Baca Juga :  Politeknik Negeri Malang; Wisuda Daring dan Luring Tetap Semarak

Sementara dari sisi lain, kegiatan perlombaan dapat mengasah mental dan jiwa kompetisi siswa SMAIS. Saat belajar dengan jarak jauh seperti saat ini, sangat kompetisi itu harus tetap terjaga.

Siswa SMAIS dikenal sebagai anak-anak yang berdaya saing. Hampir setiap event lomba selalu mereka ikuti. Baik yang digelar pemerintah maupun instansi non pemerintah.

Karenanya daya saing merupakan nilai yang mahal. Maka harus dijaga, dilestarikan dan ditingkatkan, minimal melalui kompetisi yang dilaksanakan di internal SMAIS sendiri. “Kita ingin melihat kemampuan anak-anak berkompetisi.  Meskipun dalam kondisi pandemi. Makanya wajib mereka untuk ikut lomba ini,” tuturnya.

Ghulam juga memaparkan, perlombaan digelar untuk mereview materi MOKS yang menganut delapan Cinta Sabilillah. Mulai cinta Allah dan Rasul, hingga cinta bangsa dan negara. “Satu yang menjadi poin dalam momentum ini adalah mewujudkan cinta pada sesama melalui kegiatan kurban,” tukasnya. 

Sementara itu, perolehan hewan kurban SMAIS tahun ini mencapai dua ekor sapi dan 11 ekor kambing. Hewan kurban dihimpun dari guru, siswa dan orang tua.

Baca Juga :  Perkuat Jejaring Unitri Gandeng NMP

Penyembelihan dua sapi dilaksanakan di RPH Kota Malang. Sementara tugas panitia guru hanya membagikan daging berupa bingkisan yang dikemas di sekolah. Selanjutnya dibagikan ke warga sekitar.

“Kami kirimkan paket daging kurban langsung ke RT-RT yang ada di RW 6. Masing-masing RT 30 bungkus daging untuk dibagikan kepada warga,” ujar

Waka Kesiswaan dan Humas SMAIS, Moh. Tomar, S.Pd. kepada New Malang Pos.

Sedangkan hewan kurbang kambing diserahkan secara utuh dalam kondisi hidup. Enam ekor diberikan ke Pesantren Nur Ilahi dan lima ekor ke Pondok Sunan Kalijaga Tasikmadu.

“Kami atur demikian, karena SMAIS ingin memberikan contoh dalam menerapkan protokol kesehatan yang bagus. Sehingga tidak terjadi kerumunan banyak orang. Dan ini bagian dari pembelajaran ke anak-anak,” tandasnya. (adv/imm)

artikel Pilihan