Tantangan Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

Oleh: Ayu Dian Larasati

(Mahasiswa Jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang)

Pandemi covid-19 yang datang dengan cepat dan tiba-tiba, menyebar ke seluruh dunia membuat semua negara terkejut. Sesuatu yang belum pernah diprediksi sebelumnya menyebabkan perubahan di seluruh kehidupan manusia. Perubahan yang cepat hamper dialami seluruh kehidupan masyarakat di dunia. Pandemi ini juga memberikan dampak kepada pendidikan di Indonesia.

Pada masa pandemi, tugas guru bukan hanya menuntaskan kurikulum, tetapi juga membuat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang menyenangkan untuk siswanya. Dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran supaya siswa dapat aktif dan mengembangkan pola pikir dirinya untuk memiliki kekuatan nilai religius, mengontrol diri, jati diri, etika, serta keterampilan yang diperlakukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pendidikan pada masa pandemi ini dilakukan secara daring oleh berbagai tingkatan pendidikan dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Tidak ada lagi aktivitas pembelajaran yang dilakukan di ruang-ruang kelas. Akibat dari pandemi covid-19 ini sangat meresahkan bagi guru, anak-anak dan terutama orang tua.  Pada masa pandemi ini peran orang tua selain menjadi kepala rumah tangga dan ibu rumah tangga juga sebagai guru untuk anak-anaknya.

Anak-anak yang biasanya di sekolah, berubah seketika melakukan aktivitas pembelajaran di rumah. Untuk siswa SMP, SMA, hingga perguruan tinggi tidak terlalu mengkhawatirkan proses pembelajaran. Yang dikhawatirkan itu siswa yang baru masuk SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Kekhawatiran tersebut dikarenakan siswa masih belum bisa memahami pemebelajarannya.

Tidak sedikit guru yang sekadar memberikan tugas kepada para muridnya, melalui aplikasi pesan grup daring seperti WhatsApp. Guru membuat grup dengan semua wali murid untuk memberikan tugas-tugas, dan hal yang perlu dilakukan siswa  setiap harinya. Pemerintah juga memberikan bantuan kuota internet gratis kepada siswa, guru, mahasiswa dan dosen untuk memfasilitasi pembelajaran secara daring.

Pemerintah juga membatasi pertemuan maksimal 30-40 orang. Itupun dilakukan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat seperti pengunaan masker 3 ply, mencuci tangan mengunakan sabun dan mencuci tangan selama 30 detik, dan menjaga jarak minimal 1 meter. Hal ini didasarkan pendapat para ahli kesehatan di seluruh dunia setelah melakukan riset bagaimana memutus mata rantai covid-19.

Harapan pemerintah, guru, orang tua, dan siswa. Semoga pandemi covid-19 ini segera berakhir dan lekas membaik dan pendidikan segera kembali seperti semula dilakukan secara luring. Dan siswa, guru, orang tua dapat segera melakukan aktivitasnya seperti semula. (*)