Sudut Pandang Penyintas Covid-19

NewMalangPos – Sejarah mencatat, dalam kisaran 541 dan 142 Masehi wabah Justinian melanda umat manusia, diperkirakan 100 juta orang meninggal dalam kurun waktu tersebut. Pada tahun 1346-1350 terjadi epidemi Black Plague yang merenggut nyawa 50 juta jiwa. Kemudian, sejak tahun 1960 hingga saat ini penyakit HIV/AIDS telah menyebabkan kematian 39 juta jiwa di seluruh dunia.

Epidemi lain yang menyebabkan banyak kematian di antaranya: Flu 1918 (20 juta kematian), Modern Plague, 1894-1902 (10 juta), Asian Flu, 1957-1958 (2 juta), Sixth Cholera Pandemic, 1899-1923 (1.5 juta), Russian Flu, 1889-1890 (1 juta), Hong Kong Flu, 1968-1969 (1 juta), dan The Fifth Cholera Pandemic, 1881-1896 (900, 899 jiwa) (Amber Pariona, 2019).  

Kajian Amber Pariona tersebut menunjukan bahwa epidemi bukanlah fenomena baru di dunia, namun epidemi telah menjadi bagian dari sejarah peradaban manusia (McMillen,William, 2013). Berbeda dengan epidemi-epidemi sebelumnya yang pola penularannya melalui perantara binatang atau interaksi khusus antar manusia (Madhav et al. dalam Jamison et al.,2018), Covid-19 berdampak lebih luas karena karakteristik penyakitnya yang menular langsung antar manusia (Shereen et.al.,2020). Karakteristik inilah yang menyebabkan wabah Covid-19 lebih sukar untuk dikendalikan.

Berdasarkan data yang dirilis oleh World Health Organization (WHO) diketahui hingga 3 Desember (Pukul, 04:37 pm CET) Covid-19 telah menyebabkan hampir 1,5 juta kematian penduduk dunia (1,488, 120 jiwa). Indonesia menempati posisi ke-21 negara dengan akumulasi kasus tertinggi di dunia. Secara umum akumulasi kasus dan kematian akibat Covid-19 terus mengalami peningkatan baik itu ditingkat global, nasional, maupun daerah. Salah satu di antaranya Kota Malang. Tidak sedikit warga Kota Malang yang terjangkit wabah global ini, penulis menjadi bagian di dalamnya.

Stori penyintas Covid-19 dimulai sejak adanya indikasi terinfeksi penyakit Covid-19 pada penulis oleh pihak Rumah Sakit Umum Daerah Siful Anwar (RSSA) Kota Malang. Beberapa hari sebelum itu penulis mengalami  gejala seperti: demam, meriang, mual dan batuk yang berlangsung selama kurang lebih 10 hari. Setelah melakukan Tes Widal (pemeriksaan sampel darah di laboratorium) penulis didiagnosis menderita penyakit tifus oleh pihak puskesmas terdekat.

Tanpa rasa curiga atas gejala yang muncul secara berkelanjutan, ditambah dengan pernyataan langsung dari pihak puskesmas yang meyakinkan bahwa penyakit yang diderita penulis hanyalah tifus menampik kekhawatiran akan virus mematikan ini. Tak kunjung membaik pasca mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter, penulis memutuskan untuk melakukan perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit.

Penulis memutuskan untuk pergi ke salah satu rumah sakit swasta di Kota Malang. Setiba di sana tim medis dengan APD lengkap melakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan menunjukan indikasi dini terinfeksi virus SARS-CoV-2. Pihak rumah sakit menambahkan bahwa keterangan puskesmas yang menyebutkan penulis menderita tifus adalah false diagnosis.

Atas dasar ini pihak Rumah Sakit Swasta tersebut merujuk penulis ke Rumah Sakit Umum Daerah Saiful Anwar (RSSA) sebagai rumah sakit rujukan Covid-19. Di RSSA langkah sigap dilakukan dengan menjalankan computed tomography (Ct)-Scan Thorax untuk mengidentifikasi pola-pola spesifik yang berada di paru-paru. Ct-Scan menunjukkan adanya bintik-bintik putih kabur/ bercak-bercak yang menandakan bahwa virus sudah berkembang dalam tubuh penulis. Dengan ini penulis dirawat di ruang isolasi Covid-19 RSSA.

Setalah menjalani proses perawatan intensif selama 11 hari di RSSA Kota Malang kondisi penulis kian membaik. Gejala-gelaja yang sebelumnya dialami sudah tidak dirasakan lagi. Hasil pemeriksaan berkala yang dilakukan juga menunjukkan hasil yang baik, walaupun demikian hasil pemeriksaan swab test terakhir menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 masih hinggap dalam tubuh penulis (hasil swab test masih positif). Dengan ini pihak RSSA merujuk penulis ke Safe House Pemerintah Kota Malang (Jalan Kawi) untuk menjalani proses karantina guna mencegah penularan Covid-19 terhadap masyarakat di lingkungan sekitar.

Perjuangan selanjutnya di mulai di Safe House Pemkot Malang, di tempat ini penulis bertemu dengan penyintas Covid-19 Kota Malang lainnya. Selama masa karantina pihak Safe House Pemkot Malang melakukan pemeriksaan intensif untuk melihat pekembangan setiap pasien. Hari-hari diwarnai dengan berbagai aktivitas rutin seperti olahraga, berjemur, piket kebersihan dan lain sebagainya. Melalui wawancara dan observasi sederhana yang dilakukan penulis di RSSA dan Safe House Pemkot Malang diketahui bahwa sebagian besar kasus Covid-19 muncul dari klaster kantor (perusahaan/pabrik), dan klaster keluarga.

Berdasarkan keterangan Mega (penyintas Covid-19) disebutkan bahwa  kondisi ruang kantor tertutup dengan ventilasi udara buruk menjadi penyebab masifnya penularan Covid-19 di tempat kerjanya. Tidak jauh berbeda dengan Mega, Ibu Tri buruh borongan pada salah satu pabrik rokok di Kota Malang juga mengeluhkan hal yang serupa. Ia bersama lima rekannya yang lain mengalami penularan Covid-19 di pabrik tempat mereka bekerja. Selain itu, Ibu Idah bersama anaknya menjalani proses karantina di Safe House Kota Malang sejak kematian suaminya akibat terinfeksi Covid-19.

Penulis dan penyintas Covid-19 lainnya merupakan bukti nyata dari adanya virus global ini. Dilansir dari Kompas.com 30 November 2020, sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Malang Penuh. Ini mengindikasikan meluasnya penyebaran Covid-19 di Kota Malang. Wabah ini dapat menjangkit siapa saja, bahkan terakhir orang nomor satu di Kota Malang, Sutiaji, istri, anak, hingga Sekda Kota Malang terkonfirmasi positif Covid-19. Dengan demikian tidak ada pembenaran untuk mengabaikan Virus ini.

Masif tracing dan testing sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi ekspansi Covid-19. Virus ini adalah musuh laten yang bisa menyerang siapa saja. Ketika orang dengan mobilitas tinggi terinfeksi Covid-19 tidak melakukan pemeriksaan, maka ia tidak akan tahu apabila Covid-19 ada pada tubuhnya, ketidakhauan ini kemudian akan menjadi sumber mala pelaka. Maka berangkat dari pengalaman pribadi penulis kewaspadaan dan kedisiplinan terhadap protokol kesehatan masih menjadi solusi untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.(*)