Penguatan Karakter dan Kecakapan Hidup

new malang pos
Siti Zulaikah SDN Pacarkembang 1 Surabaya

NewMalangPos – Perkembangan teknologi dan informasi terjadi begitu cepat. Era industri 4.0 yang juga disebut era industri generasi keempat ditandai dengan munculnya super komputer, robot pintar, dan digital lainnya yang super duper canggih. Sudah bisa dipastikan perlahan semua segi kehidupan beralih ke arah digital, sehingga interaksi antara manusia dan teknologi sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Hampir pemenuhan semua kebutuhan kini sudah tersedia secara digital. Semua ini tentunya memberikan dampak di berbagai segi kehidupan, terutama pendidikan.

Era industri 4.0 adalah masa yang memberikan tantangan berat untuk para guru. Mengutip Jack Ma dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, Pendidikan adalah adalah tantangan besar abad ini. Apabila cara mendidik dan belajar-mengajar tidak ada perubahan dan tidak dilakukan perubahan maka 30 tahun mendatang kita akan mengalami kesulitan besar.               Sebagai tenaga pengajar dan pendidik yang harus difokuskan adalah dampak negatif dari kemajuan teknologi dan informasi yang sangat mengkhawatirkan. Banyaknya remaja bahkan anak-anak dalam kesehariannya tidak bisa lepas dari gadget. Kecenderungan mereka diperbudak oleh gadget yang semakin canggih dari waktu ke waktu. Diperparah lagi dengan adanya pembelajaran daring karena pandemi Covid-19. Alih-alih belajar dan mengerjakan tugas sekolah, mereka malah asyik berselancar di dunia maya dengan game dan media sosial.

Di zaman now, sedikit sekali ditemui anak-anak yang memainkan permainan tradisional, seperti gobak sodor, engkle, petak umpet, balap karung, dan lainnya. Mereka lebih asyik dengan gadgetnya. Akhirnya perubahan moral dan tingkah laku terjadi pada anak. Anak-anak dengan sangat mudahnya mendapatkan informasi, baik itu bersifat positif maupun negatif.

Semua tindakan dari yang aman sampai yang berbahaya juga bisa mereka dapatkan dengan mudah melalui gadget. Fenomena semakin banyaknya anak-anak dan remaja sebagai generasi penerus bangsa menjadi korban keganasan media sosial. Gadget sebagai pintu gerbang menuju dunia internet tanpa batas telah banyak disalahgunakan untuk tindakan yang melanggar norma.

Banyaknya kejadian kenakalan anak usia sekolah, tawuran, bullying, tidak peduli dengan masyarakat sekitar, sampai kasus bunuh diri karena anak merasa bisa membuat keputusan sendiri pun telah terjadi. Berita terbaru yang tragis tentang ditemukannya seorang siswa (15 tahun) dari SMP Tarakan, Kalimantan Utara meninggal akibat gantung diri di kamar mandi rumahnya.   “Diduga sangat kuat pemicu korban bunuh diri adalah banyaknya tugas sekolah daring yang menumpuk yang belum dikerjakan korban sejak tahun ajaran baru,” jelas Sekjen FSGI Heru Purnomo dalam keterangannya kepada JawaPos.com, Jumat (30/10/2020).

Idealnya, Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan kecakapan hidup (lifeskill) sangatlah penting dan bermanfaat diberikan kepada anak sejak usia dini yaitu di masa emas.  Kemudian berlanjut  di bangku Sekolah Dasar. Pendidikan karakter dan kecakapan hidup akan membentuk pribadi anak menjadi hebat, tangguh, dan mandiri sebagai kunci utama pembangunan. Dalam kesehariannya pendidikan diusahakan tidak hanya penjejalan pengetahuan saja dan jangan pernah mengesampingkan muatan sikap berkarakter dan keterampilan atau kecakapan hidup. Karena jika itu semua terjadi  maka akan menghasilkan generasi yang hebat namun tanpa akhlak.

Dengan berdasar itu semua maka PPK dan lifeskill harus lebih digiatkan lagi oleh para pengajar dan pendidik negeri ini. PPK dan lifeskill adalah dua hal yang mampu mengantisipasi dan meminimalisir perilaku anak-anak agar tidak mudah mengikuti budaya baru yang masuk. Di samping membekali ilmu dan kekayaan teknologi, seorang guru haruslah memahami kebutuhan siswanya. Pembekalan spiritual, nilai-nilai etika, kebijaksanaan, budi pekerti adalah hal yang tidak bisa tergantikan oleh apapun.

Tujuan pendidikan nasional seperti yang terdapat pada pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Dalam Undang-Undang ini diharapkan agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernapas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Pendidikan karakter secara akademis diartikan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, atau pendidikan akhlak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan anak untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang sudah baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Sedangkan pembelajaran lifeskill pada hakikatnya adalah pembelajaran yang menempatkan anak sebagai pelaku belajar. Anak mempunyai kesempatan untuk belajar aktif, baik mental maupun fisik. Anak melakukan perbuatan untuk memperoleh pengalaman, interaksi, komunikasi, dan refleksi. Anak akan belajar banyak melalui perbuatan memperoleh pengalaman langsung.

Penguatan karakter tidak cukup sampai pada pemahaman secara kognitif mengenai pengertian karakter dan nilai-nilai karakter.  Diperlukan  adanya inovasi untuk mengembangkan pendidikan karakter. Pemberian tugas pembiasaan diri dalam kehidupan keseharian, seperti salat berjamaah, merapikan tempat tidur, mencuci peralatan makan sendiri, menyiram tanaman, membantu ibu di dapur, dan sejenisnya adalah tugas yang menguatkan karakter.

Permainan tradisional juga sebagian contoh alternatif yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran penguatan karakter. Melalui bermain anak diharapkan mampu mengidentifikasi nilai-nilai karakter dalam permainan tersebut. Seperti ketangkasan, kecepatan, kekuatan berlari dan strategi permainan.

Kecakapan hidup (lifeskill) menurut Undang Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah pendidikan yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri.

Pemberian tugas lifeskill di antaranya bisa berupa membuat masker, hand sanitizer, membuat wedang jahe, bertanam di rumah, penanganan cedera dan lainnya. Bahan untuk tugas lifeskill bisa didapat dari lingkungan sekitar. Di kelas rendah anak bisa ditugaskan membuat boneka anak ayam, mainan dari kardus bekas, hiasan dari biji-bijian, origami, dan sebagainya.(*)