Pelopor Pembelajaran Berbasis Penelitian

A teacher affects eternity; he can never tell where his influence stops.

Seorang guru berpengaruh selamanya. Dia tak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir” (Henry Adam)

NewMalangPos – Revolusi industri 4.0 menimbulkan perubahan yang signifikan dari segala bidang kehidupan. Era digitalisasi ini memiliki tiga karakter utama jika dibandingkan dengan era sebelumnya, yaitu inovasi, otomatisasi dan transfer informasi.

Pertama, inovasi. Era revolusi industri 4.0 menuntut semua bidang kehidupan berlomba-lomba menghasilkan ragam inovasi untuk mempermudah kehidupan. Eksistensi negara, lembaga, dan perusahaan sangat ditentukan seberapa intensif mereka menghasilkan inovasi. Produsen elektronik, otomotif,dan lain-lain secara gencar menawarkan aneka produk hasil eksplorasi inovasi mereka.

Kedua, otomatisasi. Pada era ini, banyak perusahaan yang mengurangi peran manusia dan menggantinya dengan mesin. Hal ini berdampak terhadap penurunan biaya produksi dan peningkatan output. Transformasi ini menyebabkan perubahan pada seluruh sistem produksi, manajemen, dan tata kelola sebuah perusahaan. Salah satu contoh yang bisa kita rasakan adalah keberadaan pintu tol otomatis tanpa penjaga.

Ketiga, transformasi informasi terjadi secara cepat karena dukungan internet. Kapasitas penampungan data semakin besar tetapi ukurannya semakin kecil. Cakupan transformasi terjadi di setiap bidang industri dan berdampak secara menyeluruh di banyak bidang. Dampak konkritnya adalah hampir semua aktivitas bisa dilakukan dengan pemanfaatan smartphone dan jaringan internet. Kita bisa mengatur secara online keuangan kita melalui mobile banking, memesan taksi, memesan makanan, membeli tiket pesawat, mengatur perjalanan, bermain game, menonton film terbaru, dan lain sebagainya.

Pemerintah Indonesia telah merancang sejumlah strategi dalam memasuki era industri 4.0, termasuk mempersiapkan sumber daya manusia yang cakap dan tangguh, yang siap menerima tantangan di era ini. Untuk mempersiapkan generasi yang siap tantangan di era revolusi industri 4.0, kemendikbud telah merusmuskan visi pendidikan tahun 2025, yakni menghasilkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif.

Untuk mewujudkan visi tersebut, kemendikbud membuat tujuan strategis berdasarkan jenjang layanan pendidikan. Salah satu tujuan strategis ini adalah penguatan peran guru sebagai tenaga pendidik dan profesional di era revolusi industri 4.0.

                Di era revolusi industri 4.0, guru tentu mempunyai tantangan tersendiri. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh guru di era ini. Pertama, guru harus melek teknologi. Ini adalah hal utama. Guru harus menguasai berbagai macam media digital penunjang pelajaran, terutama penggunaan internet. Mereka harus bisa membimbing siswa untuk dapat menggunakan situs dan aplikasi yang baik dan benar.

Kedua, guru wajib terus meng-update dan meng-upgrade ilmu dan kepakarannya. Di tengah serangan internet of things, guru sudah bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Untuk dapat mengakses ilmu pengetahuan, generasi terkini terbiasa menggunakan browser dan media sosial. Akses yang mudah dan tidak terbatas membuat arus informasi semakin pesat diterima oleh peserta didik.

Kita tentu tahu bahwa tidak semua informasi yang didapat peserta didik dari internet adalah valid. Di sinilah tugas guru saat ini, mengarahkan siswa kepada informasi yang benar. Hanya saja, ilmu pengetahuan senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Maka, seorang guru harus sering bereksplorasi, meng-update informasi terkini, terutama yang berhubungan dengan bidang keilmuannnya.

Ketiga, guru harus bisa menjadi pioneer sebuah sistem sekolah yang mendukung persiapan generasi revolusi industri 4.0. Guru adalah pihak yang bersentuhan langsung dengan peserta didik. Mereka adalah sosok yang paling memahami kondisi rill di lapangan. Maka dari itu, mereka harus mampu menjadi pelopor sebuah sistem yang kondusif, praktis, dan aplikatif dalam upaya mempersiapkan peserta didik agar dapat sukses di era revolusi industri 4.0 ini.

Salah satu contoh, di level sekolah kejuruan (SMK), guru dapat memelopori adanya sistem praktik belajar berbasis digital untuk mata pelajaran produktif. Saat ini aktivitas praktek mata pelajaran produktif masih terkategori manual dengan lebih banyak melibatkan tenaga manusia secara langsung dibandingkan dengan pemanfaatan mesin dan digital.

Selain itu, guru juga dapat memelopori adanya sistem kerja sama yang lebih intensif antara pihak sekolah dengan pihak industri. Kerja sama seperti ini memang sudah ada saat ini, akan tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa praktik pelaksanaannya kurang mendukung para lulusan agar siap bersaing di dunia industri.

Kerja sama dengan dunia industri dapat dimulai sejak dini, yakni ketika para peserta didik berada di awal semester. Dengan penerapan sistem praktik di sekolah yang berbasis digital, serta kerja sama yang intensif dengan dunia industri, maka para peserta didik akan jauh lebih siap menghadapi tantangan di era revolusi industri 4.0.

Berkaitan dengan sekolah non kejuruan (SMA), guru bisa memelopori sistem pendidikan berbasis penelitian (research based education). Jika siswa SMK dipersiapkan untuk menjadi tenaga profesional yang mumpuni, maka level SMA mempersiapkan siswa menjadi calon-calon peneliti muda yang nantinya dapat berinovasi mencipatakan piranti-piranti canggih yang berguna di era 4.0 ini. Pada level SMP, sekolah dasar dan level di bawahnya, guru bisa lebih intensif mengenalkan digitalisasi selama proses pembelajaran.

Tentunya semua upaya di atas tidak akan bisa terlaksana jika guru hanya bergerak sendirian. Para guru harus bergerak bersama-sama dengan seluruh komponen akademik yang ada di sekolah. Kemudian, pimpinan setiap sekolah bisa bersatu dengan pihak-pihak terkait untuk bisa mewujudkan sistem pembelajaran yang lebih praktis, aplikatif, inspiratif, dan mencerdaskan untuk era revolusi industri 4.0.(*)