Otak Atik Gathuk “Obat” Covid-19

NMP
Sugeng Winarno Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

NewMalangPos – Sejak munculnya virus Covid-19, ramai orang coba mencari “obat” wabah itu. Tak sedikit orang awam mengklaim aneka ramuan yang dapat menyembuhkan Covid-19. Beberapa “obat” versi awam tersebut selanjutnya viral di media sosial (medsos). Beragam narasi berupa cerita dan testimoni penyembuh pandemi itupun membanjiri lini masa. Tak jarang aneka ramuan yang belum teruji secara medis itu diyakini mujarab usir wabah. 

            Ada yang bilang bahwa virus Covid-19 akan mati dengan minum ramuan tradisional, empon-empon, dan dedaunan tertentu. Ada pula yang mengatakan virus akan pergi dengan menghirup minyak kayu putih merk tertentu. Aneka makanan, buah-buahan, dan sayuran tertentu juga dipercaya dapat membunuh virus. Informasi seputar aneka “obat” penolak virus itu tak jarang dicoba orang walau tak banyak bukti yang menguatkan beragam ramuan itu ampuh.

             Kini banyak orang ketika bertemu saling menanyakan kabar kesehatan dan tak lupa mereka saling menyarankan “obat” ini itu untuk dicoba. Walaupun belum teruji secara ilmiah, aneka “obat” versi awam tersebut telah menyugesti banyak orang. Dengan mengonsumsi aneka ramuan banyak yang lebih tenang dan yakin mereka akan tetap sehat dan dapat terhindar dari wabah. Bisa jadi rasa percaya dan sugesti akan kemanjuran “obat” tersebut yang menjadi obat sesungguhnya.

            Disisi lain, aneka obat non medis yang bermunculan justru membuat masyarakat bingung dan resah. Tak sedikit orang yang percaya begitu saja terhadap aneka “obat” yang bersumber omongan orang dari mulut ke mulut tersebut. Banyak orang menggunakan ilmu otak atik gathuk. Mereka mencoba menghubung-hubungkan beragam ramuan yang diyakini bisa membunuh virus. Pengalaman beberapa orang dalam menemukan pengobatan dengan caranya sendiri saat sakit coba digathukan (dihubungkan) sebagai obat Covid-19.

Otak-Atik Gathuk

            Otak-atik gathuk adalah ilmu menghubung-hubungkan. Cara ini tak mesti bersandar pada pengetahuan ilmiah. Yang sering terjadi, otak atik gathuk terjadi dari pengalaman masyarakat. Masyarakat awam memang bukan dokter atau ahli obat yang mengerti dan paham benar tentang kandungan dan komposisi bahan tertentu sebagai obat. Namun beberapa orang berangkat dari pengalamannya saat sakit dan sembuh dengan aneka obat non medis.

            “Obat” versi ilmu otak atik gathuk itu memang tak ada keterjaminan akan dapat bekerja secara pasti. Penemuan “obat” Covid-19 hasil dari otak atik gathuk lebih bersifat coba-coba (trial and error). Untuk urusan medis atau kesehatan, tentu cara itu dapat berbahaya. Urusan nyawa seseorang memang tak bisa dibuat main-main. Semua harus berhati-hati sebelum memutuskan pengobatan karena dampaknya bisa sangat vatal.

            Di masyarakat juga muncul beragam mitos. Beberapa mitos yang beredar di masyarakat tak jarang dipercaya sebagai fakta. Misalnya, mitos bahwa sinar matahari, minum alkohol, air laut, obat kumur, dan meletakkan bawang di sudut rumah dipercaya dapat membunuh virus. Beberapa pengobatan herbal juga diklaim mampu membunuh virus. Menurut Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono menyebutkan bahwa keberadaan obat-obatan herbal di tengah pandemi COVID-19 justru dirasa tak terlalu penting. Pasalnya, seringkali muncul pemahaman bahwa seakan-akan aneka produk herbal yang dikembangkan adalah obat mengatasi Covid-19.

            Munculnya aneka ramuan yang dipercaya sebagai “obat” Covid-19 bisa semakin berkembang selagi obat Covid-19 yang teruji secara medis belum ditemukan. Kini ditemukannya vaksin memang telah menjadi sebuah harapan baru. Namun upaya ini masih butuh waktu untuk membuktikan keampuhannya. Di tengah kekosongan obat atau vaksin medis itulah akhirnya berkembang di masyarakat otak atik gathuk “obat” guna bentengi diri dari virus.

            Situasi ini tak perlu terlalu diresahkan, namun harus tetap diwaspadai. Kuatirnya banyak orang yang sudah terlanjur percaya dengan aneka temuan “obat” versi awam tersebut dan justru mengabaikan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Jangan sampai gara-gara orang telah meminum jamu kunyit yang dicampur jahe misalnya, lantas merasa dirinya sudah kebal virus hingga tak perlu lagi bermasker, menjaga jarak fisik, dan rajin mencuci tangan.

Viral di WhatsApp

            Aneka “obat” yang diklaim dapat membunuh virus dan penyembuh Covid-19 bertebaran di medsos terutama di platform WhatsApp (WA). Tak jarang narasi beragam “obat” tersebut tak jelas siapa pembuat dan pengirim pertamanya. Judulnya juga tak jarang sangat bombastis. Biasanya di akhir narasi bertuliskan ajakan kepada semua yang membaca untuk ikut memviralkannya.

            Tak sedikit orang yang percaya begitu saja. Selanjutnya dengan cepat kiriman informasi aneka “obat” tersebut diviralkan dipertemanannya. Ada juga yang membumbui dengan testimoni yang mengatakan bahwa dirinya telah mencoba pengobatan tersebut dan merasakan dampaknya. Testimoni berupa video dari beberapa orang juga bermunculan seakan semakin menguatkan keampuhan beberapa “obat” tersebut.

            Menurut sejumlah survei terkait beredarnya beragam narasi pengobatan yang beredar lewat WA ternyata tak semuanya teruji keampuhannya. Bahkan tak kurang dari 90 persen narasi pengobatan yang viral di WA adalah informasi palsu. Informasi yang hanya bersumber dari otak atik gathuk dan belum teruji secara ilmiah. Mayoritas “obat” Covid-19 versi awam hanya berdasar pengalaman untuk kasus sakit yang berbeda dengan Covid-19.

            Berfikir ilmiah (science mindset) memang masih belum menjadi cara berfikir yang lumrah. Pada masyarakat kebanyakan, belum semua mampu mengedepankan berfikir sains. Yang banyak muncul justru hanya berkedok sains (pseudo science). Merubah berfikir sains butuh proses dan waktu yang panjang karena merubah kebiasaan cara berfikir ilmiah memang tak bisa instan. Perlu terus dibangun narasi antara para ilmuwan medis dengan masyarakat. Jangan sampai pengobatan ilmiah yang sudah teruji keampuhan dan keamanannya justru terkalahkan dengan “obat” versi otak atik gathuk.

            Semoga dengan munculnya aneka “obat” versi awam tak lantas mengendorkan orang disiplin mematuhi protokol kesehatan. Semoga aneka “obat” non medis dapat meredahkan kepanikan masyarakat sambil menunggu giliran divaksin dan vaksin terbukti ampuh bentengi tubuh dari virus Covid-19. Bukankah menurut Ibnu Sina bahwa “kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan.”(*)