NEW NORMAL, NEW MALANG POS

Lebih dari setengah tahun dunia tunggang langgang diharu biru oleh pandemi. Berbulan-bulan manusia dikungkung dan diisolasi dipisahkan dari habitatnya.

Belum pernah terjadi dalam sejarah manusia, miliaran orang dikerangkeng di rumahnya masing-masing dalam kondisi ketakutan dan ketidakpastian.

Beruntunglah kita semua karena manusia di seluruh dunia sekarang sudah terhubung menjadi satu membentuk masyarakat berjaringan, atau network society.

Badan fisik kita bisa dikerangkeng di dalam rumah, tapi komunikasi tetap jalan, ide dan gagasan tetap mengalir bermunculan.

Inilah berkah globalisasi ketika hampir seluruh dunia tersambung menjadi satu melalui koneksi world wide web (www) sejak ditemukannya internet dan dikembangkan untuk umum pada awal 1980.

Sejak itu ledakan teknologi informasi tak terbendung. Dunia seolah berada di genggaman tangan kita dan kita bisa berhubungan dengan seluruh dunia dengan ujung jari-jari kita yang mengoperasikan layar telepon pintar.

Ruang dan waktu tidak lagi membatasi manusia. Apa yang terjadi detik ini di sebuah ujung dunia akan diketahui pada detik itu juga oleh manusia di ujung dunia yang lain.

Pandemi kali ini memang membawa dampak sangat buruk bagi dunia. Jutaan orang tertular virus yang belum ditemukan obatnya, ratusan ribu nyawa menjadi korban. Lima ratus juta orang di seluruh dunia menjadi pengangguran, dan ratusan juta orang pula tiba-tiba menjadi lebih miskin.

Kondisi ini amatlah memprihatinkan. Tetapi, kondisi ini masih lebih baik karena kerusuhan sosial relatif bisa dikendalikan. Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, sempat terjadi keributan sosial, tapi relatif bisa dikendalikan dan tidak merantak meluas ke negara-negara lain.

Andai pandemi ini terjadi 20 tahun silam ketika masyarakat jaringan belum sekokoh sekarang, dampak sosial, ekonomi, dan politiknya akan jauh lebih mengerikan.

Masyarakat jaringan yang kokoh sekarang ini membuat kita tetap bisa menjalankan work from home dan anak-anak kita tetap bisa mendapatkan pendidikan karena jaringan internet tersedia secara luas.

Dalam kondisi lockdown kita masih bisa menonton liga sepakbola Eropa, mengikuti perkembangan pandemi di seluruh dunia, dan bersenda gurau dengan teman melalui grup WhatsApp. Ibu-ibu tetap menikmati drama Korea dan ngerumpi dengan temannya mengenai berbagai gosip selebritis maupun gosip tetangga.

Tetapi, tentu saja, masih jutaan orang di negara kita yang tidak bisa menjadi bagian dari masyarakat jaringan karena mereka tereksklusi secara sosial dan ekonomi. Muncul ketimpangan sosial akibat keterpisahan digital, digital divide, yang melahirkan berbagai bentuk ketimpangan sosial, keterbelakangan, dan kemiskinan.

Ketika hidup kita makin mengglobal maka kita membutuhkan identitas sosial untuk memperkuat jati diri. Meskipun manusia global sudah terbiasa menonton film blockbuster Hollywood, menyantap McD, dan menyeruput cappucino, tapi mereka masih makan nasi pecel dan mendengarkan “Pamer Bojo” Didi Kempot sambil karaokean. Mereka mencari identitas agama sebagai penguat iman. Karena itu, ketika masjid ditutup dan shalat jumat ditiadakan muncullah protes keras dan luas dari kalangan-kalangan ini.

Ekses dari digital divide melahirkan kriminalitas yang makin luas dan beringas. Banyak juga yang mencari perlindungan dan ketenteraman dengan bergabung dalam kelompok-kelompok halaqah yang memisahkan diri dari masyarakat jaringan.

Masyarakat jaringan juga melahirkan kekerabatan sosial lokal yang makin kokoh. Kekerabatan tradisional ini menjadi penguat identitas sekaligus menjadi kekuatan untuk saling bahu-membahu menghadapi pandemi.

Kekerabatan sosial tradisional inilah yang menjadi identitas jati diri masyarakat Malang Raya. Ini pula yang bisa menjelaskan mengapa Malang Raya bisa lebih dulu memasuki transisi new normal dibanding daerah-daerah lain di Jawa Timur dan Indonesia.

Kekerabatan sosial yang khas dari arek-arek Malang menghasilkan budaya gotong-royong, saling membantu yang masih terjaga. Kekerabatan sosial Arema ini melahirkan tanggung jawab sosial dan disiplin masyarakat untuk menjalankan protokol new normal, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Dalam suasana new normal inilah lahir “New Malang Pos”. Sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya dan tradisi masyarakat Malang Raya, New Malang Pos makin menguatkan identitas jati diri lokalitas Arema.

New Malang Pos menjadi bagian dari tradisi tanggung jawab sosial untuk memberi informasi yang kredibel, bebas dari hoaks dan fitnah. New Malang Pos menjalankan fungsi pendidikan untuk memperkuat disiplin masyarakat dalam menerapkan protokol new normal.

New Malang Pos melaksanakan fungsi kontrol sosial dengan mengingatkan pemerintah dan mereka yang berpunya bahwa masih sangat banyak saudara-saudara kita yang papa tak berpunya yang sangat menderita akibat pandemi ini.

Welcome Back, New Malang Pos!