Merakit Karakter Era Digital Dan Pandemi

NewMalangPos – Bersumber dari Asosiasi Penyelanggara Jasa Internet Indonesia (APJII), data menyebutkan sampai November 2020 pengguna internet di Indonesia mencapai 196,7 juta jiwa. Hampir 73,7 persen dari data terakhir jumlah penduduk Indonesia, yaitu 268.583.016 jiwa telah mengakses internet dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia telah mengikuti masa perkembangan dunia digital.

Perkembangan dunia digital dapat mengancam generasi muda kita jika tak didampingi penguatan karakter bagi mereka. Penurunan nilai-nilai norma, sosial, dan agama sudah mulai terlihat dengan adanya tiga kasus viral terjadi pada masa pandemi. Pertama, tiga siswi buka baju dalam Live IG di bulan April 2020 yang ditonton oleh ribuan orang.

Kedua, unggahan perayaan kelulusan yang berlebihan dengan seragam tak sesuai serta corat-coret melampui batas kewajaran di bulan Mei. Terakhir, kasus video asusila seorang artis yang menghebohkan November lalu. Ketiga kasus tersebut menjadi contoh betapa internet akan menjadi boomerang jika tidak dipergunakan dengan bijak. Tidak dapat dipungkiri, penguatan karakter menjadi penting untuk membentengi generasi negeri.

Menanamkan karakter tak ubahnya merakit sebuah komputer. Tak mungkin sebuah komputer beroperasi dengan baik jika partisi di dalamnya tidak terkoneksi secara sempurna. Siswa bagai motherboard yang membutuhkan sokongan dari prossesor atau CPU, power supply, dan bagian lain dalam rangkaian. Orang tua, masyarakat, dan sekolah, merupakan partisi pendukung perakit karakter siswa.

Sinergi Penumbuh dan Penguat Karakter

Marzuki mengutip Lickona, mendefinisikan karakter sabagai “A reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way.” Karakter terdiri dari tiga hal yang saling terkait yakni moral pengetahuan, moral kesadaran, dan moral tindakan. Awal pencanangan pendidikan karakter di sekolah tahun 2010 menyebutkan bahwa tanggungjawab penguatan karakter melibatkan orang tua, masyarakat, dan sekolah.           Sebelum pandemi, sekolah lebih mudah mengupayakan penguatan karakter dalam diri siswa. Saat pandemi melanda, siswa lebih sering berada di rumah dalam pengawasan orang tua daripada di sekolah bersama guru. Hal ini tidak bermakna bertambah ataupun berkurangnya tanggungjawab salah satu pihak. Sinergi solid orang tua, masyarakat dan guru tetap harus terjadi.

Orang tua merupakan partisi penting dalam merakit karakter anak. Pembiasaan sejak dini akan berdampak pada kehidupan di masa depan. Orang tua harus yakin bahwa mendidik anak dengan cinta adalah utama, namun jangan sampai melengahkan. Menegur anak ketika melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Hal tersebut merupakan bentuk cinta agar anak memahami baik-buruk dan salah-benar.

Namun, teguran tersebut harus diberikan dengan penuh cinta pula agar anak tidak trauma yang akan berpengaruh secara psikologis dan berdampak di masa depannya. Penanaman nilai keagamaan juga diawali oleh orang tua. Orang tua harus memastikan bahwa nilai-nilai agama merupakan sahabat anak sejak dini. Kekuatan karakter bentukan keluarga akan mampu membentengi anak dari pengaruh buruk.

Masyarakat merupakan partisi yang tak kalah penting dalam merakit karakter anak. Masyarakat juga memiliki andil dalam penguatan karakter pada anak. Contoh tindak dan ucap yang berkembang dalam masyarakat sangat berpengaruh besar. Contoh-contoh tersebut lebih mudah di akses oleh anak dan lingkupnya tidak hanya dari masyarakat sekitar rumah, melainkan dari seluruh dunia.

Internet membuka gerbang dunia selebar-lebarnya, maka bijak dalam bermedia sosial menjadi sangat penting. Jangan sampai media sosial menjadi bahan belajar karakter buruk bagi anak. Termasuk para pengusaha yang menggunakan internet sebagai product ataupun tool, jangan sampai demi mendapatkan keuntungan besar akhirnya menyingkirkan tanggungjawab moral mendidik karakter generasi muda.           Tayangan-tayangan di berbagai media sosial haruslah dengan jelas diberi keterangan klasifikasi penonton. Masa pandemi membuat anak terpaksa berkutat dengan android mereka dengan alasan PJJ, bukan tidak mungkin mereka iseng-iseng berselancar dan menemukan hal yang baru dan membuat penasaran.

Pengawasan  orang tua harus lebih dalam hal ini. Orang tua harus memberikan kepercayaan terhadap anak-anak, namun juga harus tetap memantau perkembangan anak dengan cara yang bisa diterima. Misal menjadi sahabat anak agar menyelami keinginan dan kebutuhan anak.

Partisi ketiga adalah pihak sekolah. Peran guru masih sangat penting dalam penanaman karakter pada siswa meskipun dalam masa pandemi kesempatan bertemu langsung sangat terbatas. Guru harus kreatif, berkomitmen dan konsisten untuk tetap menempatkan karakter siswa sebagai fokus utama.

Komunikasi harus terjaga baik dengan siswa, orang tua dan jika memungkinkan masyarakat. Seringkali ditemukan bahwa siswa, terutama pada level dasar, lebih mudah percaya terhadap guru. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi guru karena mudah memasukkan karakter baik pada siswa.

Namun perlu diingat bahwa guru yang baik adalah yang juga melibatkan orang tua dan masyarakat dalam membentuk karakter anak. Karena merakit karakter layaknya merakit komputer, perlu ada koneksi antar semua partisi, maka tak akan pernah karakter terakit dengan baik dalam diri anak jika partisi tidak lengkap ataupun timpang dalam perannya.

Generasi Berkarakter, Generasi Sukses Era Digital

Dalam sebuah acara yang dipandegani Unipadj, Dr. Asep menyampaikan, “pada akhirnya, era digital adalah milik orang-orang yang open-minded. Tidak peduli tahun berapa lahirnya, dalam generasi apa, siapa orang tuanya, status sosialnya apa.”

Selain hal tersebut, orang dengan hard skills dan soft skills mumpunilah yang akan menjadi pemenang di era digital. Soft skills yang penting dimiliki untuk sukses berkarier adalah communication, critical thinking, creativity, dan collaboration.

Di sinilah peran penting karakter akan terlihat. Soft skills berhubungan dengan kekuatan karakter seseorang. Jika karakter seseorang bagus, dapat dipastikan bagus pulalah soft skills yang dimiliki. Saat pikiran terbuka mudah menerima, dipadukan dengan hard skills dan soft skills, saat itulah era digital akan berada di tangan generasi penerus negeri.(*)