Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi 2021

NewMalangPos – Tahun 2020 yang penuh rintangan telah berlalu. Harapan pemulihan dari pandemi Covid-19 terasa semakin besar pada lembaran pembuka 2021. Hal ini sejalan dengan proyeksi pemulihan perekonomian global dan dampak dukungan fiskal terhadap percepatan pemulihan ekonomi. Pemulihan perekonomian global mulai menunjukkan perbaikan yang didorong oleh sejumlah negara telah memulai program vaksinasi Covid-19. Hal ini untuk mendapatkan kekebalan kelompok (herd immunity) dari Covid-19.

Program vaksinasi tersebut menjadi game changer dan menambah optimisme pandemi Covid-19 akan cepat diatasi sehingga kegiatan ekonomi dapat terakselerasi. International Monetary Fund (IMF) berdasarkan rilis pada bulan Oktober 2020 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan rebound pada 2021 sebesar 5,2 persen. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mulai positif pada triwulan IV-2020 dan diperkirakan mencapai 4,8-5,8 persen pada tahun 2021.   Sementara itu, inflasi nasional tetap rendah sejalan permintaan yang belum kuat dan pasokan yang cukup memadai. Bank Indonesia memprakirakan inflasi pada akhir tahun 2020 akan lebih rendah dari 2 persen dan pada tahun 2021 akan terkendali di dalam sasaran 3,0±1 persen.

Akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan struktur perekonomian yang lebih baik tersebut ditopang percepatan transformasi ekonomi melalui rangkaian kebijakan reformasi struktural yang diarahkan pada 5 (lima) strategi utama. Pertama, pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang andal dengan penguasaan teknologi.

Kedua, pembangunan infrastruktur yang menopang konektivitas industri, termasuk UMKM dan pariwisata. Ketiga, perbaikan iklim investasi dan bisnis yang lebih baik didukung oleh penyederhanaan regulasi melalui implementasi UU Cipta Kerja serta pengembangan dan pendalaman pasar keuangan yang mendorong penguatan sumber pembiayaan pembangunan. Keempat, penguatan sektor prioritas yang berdaya saing dan bernilai tambah tinggi; serta kelima, optimalisasi pemanfaatan teknologi untuk mendukung transformasi ekonomi berbasis digital.

Prasyarat Pemulihan Ekonomi Nasional

Dalam kaitan pemulihan ekonomi terdapat kondisi prasyarat (necessary condition) “2V” yaitu penanganan Virus Covid-19 dan Vaksin. Faktor kesehatan tetap menjadi prioritas utama selaras dengan pembukaan sektor-sektor ekonomi produktif dan aman Covid-19. Optimisme pemulihan ekonomi ini yang perlu kita ciptakan. Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia mendukung penuh upaya Pemerintah memesan vaksin dari sejumlah negara, termasuk Sinovac dari Tiongkok, AstraZeneca dari Inggris, dan kemungkinan dari sumber lain.

Bank Indonesia juga telah berkomitmen mendanai sebagian biaya pemesanan vaksin tersebut melalui pembelian dan menanggung seluruh beban SBN sebagai bagian dari Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Bank Indonesia tentang “Burden Sharing” untuk Public Goods tanggal 7 Juli 2020.

Outlook Ekonomi Jawa Timur

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur 2021 diperkirakan berada dalam range 5,3-6,3 persen. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kinerja lapangan usaha utama Jawa Timur seperti industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi. Upaya mengembalikan kinerja perekonomian Jawa Timur kepada keseimbangan normal pada path potensial, memerlukan dukungan sektor ekonomi dengan multiplier effect tinggi seperti industri kertas, makan minum, tembakau, farmasi, kayu, dan karet.

Sementara sektor ekonomi dengan multiplier effect sedang seperti kimia, perikanan, dan pertanian juga harus tetap didorong untuk mendukung penguatan ekonomi Jawa Timur. Dari sisi perkembangan harga, target inflasi Jawa Timur mengacu pada target inflasi Bank Indonesia 2021 yaitu 3,0±1 persen. Sikap optimistis perlu terus ditumbuhkan agar dapat menjadi pijakan dalam transformasi ekonomi, sehingga mampu meningkatkan daya saing ekonomi dan merebut peluang pasar.

Outlook Ekonomi Malang Raya

Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu menjadi wilayah pengungkit pertumbuhan di wilayah Kawasan Tengah Selatan (Katesa) Jawa Timur. Berdasarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 Bank Indonesia Malang, pertumbuhan ekonomi pada Kota Malang diproyeksikan tumbuh dan diprakirakan berada pada rentang 5,4 – 6,4 persen, Kabupaten Malang diprakirakan berada pada rentang 5,2 – 6,2 persen, dan Kota Batu diprakirakan berada pada rentang 5,8 – 6,8 persen.

Secara umum, pertumbuhan ekonomi Malang Raya lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur dan Nasional yang didorong oleh kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, pertanian, dan konstruksi. Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Malang Raya. Menyikapi perkembangan inflasi, Bank Indonesia Malang tetap optimis realisasi inflasi Malang Raya akan terkendali di dalam sasaran 3,0+1 persen sesuai target inflasi 2021.

Pengembangan Ekonomi Malang Raya

   Dalam rangka mewujudkan optimisme tumbuhnya ekonomi Malang Raya, Bank Indonesia Malang terus mendorong pemulihan ekonomi diantaranya memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Daerah seperti menjaga terkendalinya inflasi serta mendukung stabilitas sistem keuangan. Fokus koordinasi diarahkan pada mengatasi permasalahan sisi permintaan dan penawaran dalam penyaluran kredit/ pembiayaan dari perbankan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas yang mendukung pemulihan ekonomi.

Bank Indonesia Malang dalam rangka pemulihan ekonomi daerah berupaya untuk terus menerus mendorong : 1) Pengembangan sektor industri pengolahan yang memiliki kontribusi tinggi dalam pertumbuhan ekonomi, khususnya yang berpotensi ekspor, 2) Pengembangan sektor-sektor pendukung pariwisata terutama pasca pandemi, 3) Pengembangan sektor UMKM melalui 3 (tiga) pilar kebijakan yaitu korporatisasi, kapasitas, dan pembiayaan, 4) Pengembangan ekonomi kreatif melalui berbagai sub sektornya seperti aplikasi dan pengembangan permainan, 5) Pengembangan transaksi non tunai dan keuangan digital seperti Elektronifikasi Transaksi Pemda dan perluasan Quick Response Code Indonesian Standard, 6) Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah serta pemberdayaan ekonomi pesantren, 7) Peningkatan kerjasama dan kolaborasi pentahelix bersama Pemda, dunia usaha, akademisi, komunitas dan media (*).