Membangun Bonding Saat Daring

NEW MALANG POS – Hampir sembilan bulan ini lamanya masyarakat di berbagai belahan dunia, khususnya Indonesia, masih berjuang melewati masa pandemi Covid-19. Bahkan terhitung sejak kasus pertama ditemukan pada awal Maret 2020 lalu, belum ada tanda-tanda kurva kasus Covid-19 akan melandai. Salah satu aspek kehidupan yang mendapat imbas dari pandemi Covid-19 adalah dunia pendidikan.

          Tahun ajaran baru 2020/2021 telah dimulai pada Juli lalu, namun nyatanya sampai saat ini siswa masih harus mengikuti pembelajaran dari rumah. Namun satu hal yang tidak bisa kita pungkiri yaitu berkurangnya “ruh” kegiatan pembelajaran.

          Secanggih apapun model atau teknologi yang telah dipilih tentu memiliki kekurangan. Ada banyak hal-hal yang biasa dilakukan secara luring tidak bisa sepenuhnya diadopsi secara daring. Salah satu hal yang hilang ketika siswa harus belajar dari rumah yaitu kehadiran seorang guru. Dalam dunia pendidikan, guru merupakan komponen strategis yang memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan peradaban bangsa. Bahkan keberadaan guru merupakan faktor esensial yang tidak mungkin digantikan oleh komponen manapun, meskipun di era digital.         Sejatinya, seorang guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran kemudian memberikan nilai pada hasil kerja siswa, namun lebih dari itu. Ada 4 kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi itulah yang sejatinya harus dimiliki oleh seorang guru dalam menjalankan profesinya.

          Kendati demikian, keadaan daring tentu menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk bisa mengembangkan dan melaksanakan keempat kompetensi tersebut. Salah satu contoh yaitu kompetensi sosial. Dijelaskan bahwa kompetensi sosial di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, pada pasal 28, ayat 3, ialah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Jika saat pembelajaan tatap muka siswa berada di sekolah mulai pukul 07.00 sampai 15.00 maka ketika kegiatan pembelajaran dilakukan secara daring, tentu peran orang tua dalam memonitoring anaknya ketika di rumah menjadi sangat besar.

          Pembelajaran secara daring secara tidak langsung dan perlahan menyebabkan adanya transisi pada karakter siswa. Nilai dan norma yang biasa diterapkan di sekolah menjadi memudar seiring transformasi kegiatan pembelajaran daring yang cenderung hanya berfokus pada satu aspek saja yaitu kognitif. Aspek ini berorientasi pada penuntasan kompetensi dasar atau materi serta penugasan yang telah dipersiapkan oleh guru.

          Padahal ada aspek lain yang tentu tidak boleh luput dari pengamatan guru yaitu aspek sikap atau karakter. Hal ini tentu tidak lain juga dalam upaya mengimplementasikan Nawacita Presiden Jokowi dalam Penguatan Pendidikan Karakter pada sistem pendidikan nasional. Nilai-nilai utama PPK seperti religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, integritas harus tetap dikuatkan agar tujuan dalam mempersiapkan peserta didik yang cakap dalam menghadapi dinamika perubahan di masa depan bisa terwujud.

          Oleh karena itu, hal ini menjadi hikmah bagi guru untuk bisa mengembangkan kecakapannya dalam menjalin komunikasi secara baik agar nyawa dalam kegiatan pembelajaran tetap hidup dengan harapan meskipun situasinya daring, norma atau karakter siswa bisa tetap terjaga.

Berlatih Komunikasi yang Baik

          Komunikasi yang baik akan terjadi apabila antara kedua belah pihak yaitu si pengirim dan penerima sama-sama memahami apa yang menjadi fokus dari informasi yang didiskusikan sehingga terjalin hubungan baik di antara keduanya. Tentu kegiatan daring menjadi hal yang melelahkan dan tak jarang menimbulkan rasa kebosanan pada siswa. Siswa mendapat tugas melalui e-learning atau whatsapp grup atau platform lain dimana intensitas untuk melihat guru secara virtual sangat minim.

          Sikap kemandirian siswa selama kegiatan daring tentu menjadi salah satu alat penentu keberhasilan siswa dalam menguasai materi yang diberikan. Meskipun demikian, guru tetap harus melaksanakan pendampingan agar siswa merasa mendapatkan perhatian atau afeksi dari guru. Sehingga kegiatan pembelajaran daring tidak hanya sebatas keinginan guru dalam menuntaskan materi sesuai dengan apa yeng telah dirancang dalam RPP namun juga memberikan bentuk perhatian dan usahanya agar bisa menghidupkan nyawa pembelajaran daring.

Memberikan Sentuhan yang Tepat

          Pernahkan kita berfikir atau merasa khawatir dengan karakter siswa ketika mereka nanti kembali mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah secara tatap muka? Apakah mudah mengarahkan mereka untuk kembali disiplin dengan aturan yang ada di sekolah? Apakah interaksi antara guru dan siswa juga sesama siswa tetap menyenangkan seperti sedia kala?.

          Tidak bisa kita pungkiri tentu ketika siswa belajar dari rumah mereka memiliki waktu luang yang lebih banyak. Waktu luang tersebut tentu bisa mereka isi dengan hal-hal positif seperti membaca, berolahraga, dan membantu orang tua. Namun tak sedikit pula yang memanfaatkan waktu tersebut untuk bersenang-senang, seperti memonton film atau bermain game bahkan di sela-sela waktu mengerjakan tugas.

          Sudah menjadi kodratnya bahwa manusia adalah makhluk sosial tentu tidak bisa lepas dari bantuan orang lain dan bersosialisai. Di sisi lain, ketika siswa belajar dari rumah tentu mereka menghabiskan waktunya sibuk dengan gadgetnya sehingga tidak bisa secara langsung berinteraksi dengan teman sebaya mereka atau guru. Oleh karena itu guru harus telaten memberikan sentuhan kepada siswa supaya ikatan batin di antara keduanya tetap kuat. Sentuhan yang diberikan bisa melalui nasihat, semangat, atau motivasi.

          Membuat siswa untuk terus bersemangat dan merasa enjoy ketika belajar dari rumah memang bukan perkara mudah. Oleh karena itu, guru harus tetap berupaya dan memanfaatkan teknologi yang sudah canggih ini dengan berbagai jenis social media yang bisa digunakan agar bonding (ikatan) di antara keduanya tidak hilang. Dengan harapan, ketika siswa nanti memasuki masa pembelajaran tatap muka kemampuan mereka untuk berkomuniaksi dan berkolaborasi dengan sesama manusia bisa tercapai dengan baik.(*)