Membaca Kekuatan Paslon Independen

NEW MALANG POS – Perhelatan atau kontestasi politik akan kembali digelar di berbagai daerah, semua kontestan berasal dari berbagai latar belakang yang kuat. Bermodalkan diri sebagai tokoh masyarakat,  tokoh adat maupun tokoh nasional. Semua kontestan dengan percaya diri akan merasa gagah dan bahwa dirinya akan menjadi pemenang dan bisa menduduki kursi dan singgasana baru. Sehingga segala persiapan, strategi dan kekuatan mereka persiapkan dari berbagai bentuk.

          Pilkada kali ini sepertinya akan lebih berwarna. Sebab para kontestan tidak hanya maju sebagai calon pemegang kekuasaan melalui jalur kepartaian saja. Tidak sedikit di berbagai wilayah beberapa paslon maju melalui jalur independen. Yaitu, mereka maju tanpa adanya intervensi partai maupun intervensi lembaga politik lainnya. Mereka murni maju sendiri, dan berjuang sendiri. Sehingga akan terbebas dari hal-hal kepartaian.

          Indonesia sebagai negara demokrasi memberikan ruang kepada siapa saja maju dan bersaing dalam perhelatan politik. Bermodalkan asas demokrasi inilah para kontestan siap bersaing dan berperang untuk menjadi orang nomor satu di daerah masing-masing. Maka tak heran berbagai kekuatan mulai mereka lakukan. Seperti memasang baliho, poster, stiker dan lainnya kian memenuhi sepanjang jalanan maupun sosial media.

          Apakah kemudian paslon independen tidak memiliki kekuatan sehingga akan kalah dalam pertarungan pilkada kali ini? Mungkin pertanyaan ini akan banyak menggelitik di benak semua orang. Secara, sejauh ini permainan politik gencar dimainkan oleh para politisi kepartaian. Sejatinya kemenangan akan bisa diraih oleh siapapun. Namanya juga demokrasi, jalur independen sendiri akan berpotensi menang, karena sudah menuai sejarah. Seperti halnya wali kota di Bukit Bintang tahun 2015 dimenangkan oleh paslon jalur independen

          Pada dasarnya kontestan yang maju melalui jalur independen akan menjadi kuda hitam. Mereka akan menjadi pemenang apabila dalam pertarungannya mau bersungguh-sungguh dan bekerja lebih keras. Karena sejatinya tenaga mereka akan lebih banyak keluar daripada kontestan yang maju melalui jalur kepartaian. Bagaimana tidak? Para kontestan jalur independen murni berjuang sendiri. Mencari relasi sendiri, membuat team sendiri tidak atas bantuan partai.

          Para kontestan jalur independen sendiri akan menjadi pertimbangan baru bagi masyarakat jika paslon yang mendelegasikan diri mampu membawa nilai positif, terlebih bagi masyarakat yang sudah muak dengan para politisi dan oligarki kekuasaan  yang delegasikan oleh partai. Seperti kita ketahui akhir-akhir ini banyak sekali para delegasi partai yang memangku kekuasaan lebih memilih untuk kemajuan dan kepentingan partainya.

          Hal ini jelas realitas yang senantiasa kita lihat. Kepentingan dan kemajuan rakyat kian dikesampingkan dan dihiraukan oleh banyak pemegang kekuasaan yang maju melalui jalur kepartaian. Mereka lebih memilih untuk kemajuan dan kegemukan partainya ketimbang kemajuan dan kepentingan rakyat. Karena menganggap mereka memiliki kontrak yang mengikat dengan partai tanpa mempertimbangkan amanah rakyat itu sendiri.

          Terlepas dari itu, jalur independen juga akan terbebas dari bohir dan rente kepartaian karena memang dari awal konsisten tanpa intervensi partai, sehingga tidak akan ada kontrak apapun dan dengan siapapun. Jelas kalah ataupun menang mereka akan dirasakan sendiri. Sehingga hasil akhir mereka akan lebih tenang karena dari awal sudah tidak ada kontrak apapun dan dengan siapapun. Maka jika mereka menang bisa secara gagah dia memilih dan memberikan kursi koalisi baru.

          Peluang besar mereka yang maju sebagai kontestan jalur independen adalah orang-orang yang sudah dimakzulkan oleh birokrasi kekuasaan. Seperti halnya yang dialami oleh salah satu paslon terpilih bupati Jember sebelumnya, pada pilkada kali ini dia harus maju melalui jalur independen karena pasalnya para birokrat, DPRD dan lembaga lain memakzulkan dia maju menjadi pemangku kekuasaan, sehingga tidak ada partai yang berani mengusungnya.

          Perlu berpikir banyak tentunya untuk maju melalui jalur independen sendiri. Mereka harus mampu menanamkan kepercayaan kuat bagi masyarakat, harus mampu membangun relasi dan strategi matang, karena tidak bisa dipungkiri jalur kepartaian bukan merupakan lawan mudah untuk mereka tumbangkan, dengan banyaknya team dan koalisi yang kuat juga solid dalam partai. Sehingga besar kemungkinan jika mentah membuat strategi paslon independen ini akan kalah telak.

          Dari sinilah kita mampu membaca dan menganalisis, kemungkinan kalah juga kemungkinan menang para paslon yang maju melalui jalur independen di berbagai daerah yang tidak sedikit dari mereka maju melawan para elite politik partai. Sehingga akan terlihat menjadi pertarungan politik yang luar biasa karena dari segi fasilitas tidak simbang, namun mereka akan mampu mengimbangi dari segi kualitas dan kuantitas paslon itu sendiri.

          Mari sama-sama membuat kontestasi politik yang indah. Memurnikan niat dan menjadikan politik sebagai perjuangan demi kemajuan dan kemakmuran rakyat. Bukan atas kepentingan eksistensi, profit dan lainnya. Sehingga tercipta nilai yang baik dan membawa norma kemanusiaan yang berwibawa. Maka harus tertanam dalam tiap kandidat asas keadilan dan asas -asas positif lainnya.(*)