LABEL DAN TOXIC PADA ANAK

Oleh: Dewi Santri Wijaya Sari, S.Pd

Guru SMP Negeri 05 Batu, Peserta Lomba Guru Menulis New Malang Pos

Mulutmu adalah Harimaumu,

Lidah tak bertulang dan lebih tajam dari pedang,

Begitulah orang bijak mengungkapkan bahwasanya kita harus berhati hati dengan mulut dan lidah kita. Apa yang kita ucapkan bisa menjadi toxic untuk diri kita, orang di sekitar terlebih pada orang yang kita sayang, yaitu anak anak kita.

Pernah kan kita melihat atau mendengar cerita tentang bagaimana kebencian seorang anak kepada orang tuanya? Atau pernah kita melihat film tentang hubungan orang tua dan anak yang tidak sehat? Contohnya film dengan judul Ekskul yang diproduksi tahun 2006. Kalau kita telaah dan mencoba memaknai apa yang kita lihat, maka kita akan menemukan betapa orang terdekat dapat menjadi toxic pada anak.

Toxic adalah Racun. Benda asing berupa makan atau benda yang ada di sekitar lalu masuk ke dalam tubuh dan bersifat merusak fungsi tubuh. Ada berbagai reaksi yang timbul tergantung antibodi seseorang. Sama halnya dengan arti Toxic yang dalam terjemahan Bahasa Indonesia adalah racun. Label yang diucapkan atau dilakukan oleh orang dengan hubungan terdekat seperti orang tua misalnya bisa menjadi racun pada anak.

Tanpa orang tua sadari ada relasi hubungan dengan anak yang akhirnya orang tua menjadi Toxic Parent. Kadangkala ucapan kita yang terlalu menggurui, terlalu menuntut dan mengatur sehingga menimbulkan rasa tidak aman dan tidak nyaman. Ketidak pedulian orang tua pada perasan, membuat anak merasa menjadi pribadi yang buruk. Rasa tertekan dan ketakutan akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Bahkan menjadikan mereka pribadi yang mudah menyalahkan diri dan tidak percaya diri.

Lebih Tajam dari Sebilah Pisau

Betapa lidah ini sangat mudah digerakkan, segala macam ucapan dan ungkapan akan mudah terlontar karena tidak ada tulang yang menahannya. Seperti itu pula yang secara tidak sadar bahwa ucapkan ataupun ungkapan kepada anak. Kadang, perasaan dan pemikiran kita menunjukkan bahwa derajat orang tua lebih tinggi dari anak.

Perilaku dan ucapan kita menunjukkan ketidak hormatan pada mereka, tidak memperlakukan anak selayaknya. Menyakiti, menyepelekan atau bahkan mempermalukan mereka tanpa sadar di depan umum. Dan lebih celakanya, tanpa kita sadari hal yang biasa kita lakukan ini menjadi bom waktu yang suatu saat meledak lalu melahirkan perilaku dan kondisi mental terganggu.

`Ah, tapi anak saya baik baik saja kok dengan sikap saya yang seperti itu.`. Apakah kita merasa seperti itu atau berpikir seperti itu?.

Coba kita ingat, setiap manusia memiliki ketahanan mental yang berbeda. Begitu pula dengan anak yang juga memiliki karakter dan ketahanan mental yang berbeda. Label atau ucapan yang diberikan menjadi poin penting pada pikiran dan perasaan anak dalam memaknai dirinya.  Nah, bagimana jika tanpa sadar sebagai orang tua memiliki toxic relationship dengan anak?. Anak tidak akan nyaman dengan dirinya sendiri dan orang tua serta merasa terintimidasi.

Orang tua dan anak bukan hanya terhubung secara fisik semata. Ada jiwa dan rasa yang tidak dapat dipisahkan. Kedekatan dan kelekatan keduanya mampu membentuk kekuatan mental anak. Betul kiranya ungkapan jika anak adalah cerminan orang tua. Anak akan belajar dari apa yang dilihat, apa yang kita lakukan, ucapkan dan segala bentuknya akan terekam dalam otak mereka.

Begitu pula jika ucapan serta tindakan orang tua kepada anak adalah hal yang tidak menyenangkan. Bisa jadi perasaan tidak nyaman dan tidak aman akan membuat anak berpikir, berperasaan dan berbuat buruk pada dirinya.

Pernahkan kita mengalami atau melihat seorang anak menangis dalam area publik? Ketika orang tua tidak bisa menghentikan tangisan, lalu si anak meronta merengek. Dan bagaimana sikap orang tua?. Ya, banyak di antara orang tua lebih menunjukkan ke ‘orang tua-annya` dengan memarahi si anak di depan banyak orang. Bagaimana perasaan anak- anak itu, bisakah kita mencoba memposisikan diri seperti si anak.

Guru Orang Tua bagi Siswa (Anak)

Joshua, seorang pelajar SMA yang menembakkan peluru ke kepalanya (ending film Ekskul). Menurut Shankar RR sang produser, film mengangkat kisah nyata dari berbagai fenomena tentang bagaimana orang tua dalam memperlakukan seorang anak. Didikan dengan kekerasan membuat Joshua merasa selalu salah di mata orang tua, dimarahi dan tidak dihargai. Sikap orang tua ini berdampak pada mental Joshua yang tidak tahan akan tekanan di sekolah, sehingga dia melakukan penyanderaan dan mengakhiri hidupnya sendiri. ‘Lebih baik saya mati,`’ ungkapan Joshua dalam scene terakhirnya.

Jika orang tua di rumah tidak mampu, maka orang tua di sekolahlah yang berperan pada perkembangan anak. Jika dilihat dari kasus Joshua dalam film di atas, maka filter terakhir dalam melindungi anak dari toxic adalah guru. Kesibukan orang tua, gadget yang merajalela, keterbukaan informasi dari semua media membuat perkembangan karakter dan kesehatan mental anak terganggu. Era 4.0 menandakan ciri-ciri tersebut, sehingga  betapa besar peran guru memfilter anak dari toxic di era 4.0.

Guru adalah orang tua. Maka jika hendak marah, maka cari dulu alasan siswa berbuat sesuatu dan marahlah dengan kasih sayang. Atau ketika ingin melarang, berikan alasan dulu mengapa hal itu dilarang. Maka, ucapakan hal yang baik dan bersifat positif pada mereka. Jagalah lisan dan ucapan kita sebagai guru sekaligus orang tua. Jadikan apa yang kita sampaikan menjadi obat dan vitamin yang mengobati, memperkuat imun serta merawat mental baik pada anak.

Siswa adalah anak bangsa. Mereka perlu dilindungi sebagai aset negara. Perkembangan karakter dan mental adalah tanggung jawab bersama untuk kemajuan bangsa. Guru di era 4.0 adalah model hidup bagi setiap siswa. Mereka menjadi media yang merangsang perkembangan siswa. Mengajar, melatih dan mendidik siswa menjadi pribadi yang positif dan bermental baja.(*)