Kembali ke Fitrah Guru

NewMalangPos – Memasuki era revolusi industri generasi keempat (Revolusi Industri 4.0), pendidikan adalah salah satu sektor utama yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sektor yang menjadi cikal bakal munculnya generasi genarasi baru dengan kecakapan ilmu yang didapat, dituntut untuk lebih memaksimalkan peran pendidik di era teknologi cyber ini.

Guru sebagai salah satu garda terdepan pengemban generasi muda, harus mulai segera berbenah. Salah satunya adalah dengan Penguatan Pendidikan Karakter yang diterapkan pada generasi muda, dan diharapkan mampu menjadi benteng diri dari gempuran kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter sebagai pondasi dan ruh utama pendidikan,” pesan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy.

Menurut Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal, dinyatakan bahwa Penguatan  Pendidikan  Karakter (PPK)  adalah  gerakan  pendidikan  di  bawah tanggung  jawab  satuan  pendidikan  untuk  memperkuat karakter  peserta  didik  melalui  harmonisasi  olah  hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetika), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan pelibatan dan kerja  sama  antara  satuan  pendidikan,  keluarga,  dan masyarakat  sebagai  bagian  dari  Gerakan  Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Keempat dimensi pendidikan ini hendaknya dapat dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak. Integrasi proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler di sekolah dapat dilaksanakan dengan berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan. Terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK; yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan kegotongroyongan.

Menjadi guru di Era Industri 4.1 ini dituntut untuk lebih bisa mengupgrade kemampuannya, agar dapat bekerja dengan cepat dan menguasai teknologi informasi agar mampu bersaing. Menjadikan murid-murid berprestasi di era yang penuh persaingan. Menjadi guru, terutama di era seperti sekarang ini, memang memiliki tantangan tersendiri.

Tidak saja terkait pesatnya teknologi informasi yang berkembang saat ini, namun juga siswa yang dihadapinya. Yaitu siswa dari Generasi Y atau milenial, yang lahir di atas tahun 1980-an hingga 1997 dan generasi Z yang lahir sesudahnya atau yang sering disebut sebagai generasi internet.

Sekolah saat ini menjadi lingkungan pembelajaran yang mempertemukan dua generasi yang berbeda. Mereka adalah guru yang berasal dari Generasi X, yang lahir antara tahun 1965-1980 dan siswa dari Generasi Milenial dan Generasi Z, yang lahir di era internet. Pertemuan antara generasi yang berbeda ini jika tidak disikapi dengan cermat tentu akan menciptakan berbagai benturan.

Marc Prensky seorang penulis dan pemerhati pendidikan asal Amerika Serikat, pernah berujar for our twenty-first century kids, technology is their birthright. Hal ini mengindikasikan bahwa keterikatan generasi masa kini dengan teknologi merupakan sebuah hal yang tak terhindarkan. Yang menjadi catatan ialah bagaimana teknologi dalam bentuk internet, game online, maupun media sosial dapat diarahkan untuk digunakan dalam ruang yang lebih positif bagi anak-anak zaman now.

Sekaranglah saatnya para guru mampu bersanding dengan para murid yang hampir semuanya bergantung penuh pada perangkat digital. Diperlukan keberanian dan niat yang tulus ikhlas dari seorang guru agar dapat mentransformasikan kondisi dan kemampuannya. Bukan saja untuk menyeimbangkan pemikiran dan pemahanan para murid, namun lebih dari itu, guru harus tetap mampu memperhatikan slogan Digugu dan Ditiru agar mampu membentuk karakter murid yang lebih mengedepankan kesantunan dan kesopanan namun tetap melek teknologi.

Tidak ada kata berat bagi seorang guru untuk menjadikan dirinya sebagai guru zaman now yang tetap mengedepankan akhlak dan kesantunan. Murid-murid milenial yang memiliki kecenderungan bergantung pada teknologi khususnya sosial media membuat mereka suka dengan hasil instan dan cepat, cenderung keras kepala, dan selalu terburu-buru. Meski begitu, generasi ini suka dengan tantangan baru namun haus akan pujian.

Kembali ke fitrah, bahwa guru hadir semata mata untuk tetap mendedikasisikan keberadaannya sebagai salah satu komponen penting dalam pembentukan karakter murid di masa kapanpun. Tetap terus mengembangkan kemampuan, dan pengetahuannya Think of Out The Box memikirkan sesuatu yang tidak dipikirkan orang lain. Mencoba pendekatan dan cara-cara baru dan inovatif berbeda dari yang biasa dilakukan. Mampu berpikir kritis, tajam dan kreatif, namun tetap berpakem sebagai guru panutan murid.     

Ki Hajar Dewantara yang memperoleh sebutan sebagai Bapak Pendidikan ini memiliki semboyan yang menjadi salah satu kontribusi positif bagi pendidikan di Indonesia. Semboyan tersebut berbunyi “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani.

          Dari semboyan beliau-lah tercipta semangat berpendidikan yang tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia. Sudah seharusnya guru-guru di Indonesia belajar dari seorang bapak pendidikan yang telah memberikan dampak positif terhadap bangsa Indonesia. Karena di tangan para gurulah nasib para penerus generasi bangsa serta tanggung jawab kemajuan pendidikan di Indonesia.

          Oleh karena itu, guru juga harus berkontribusi dalam hal yang positif dan ikut serta menyalurkan kemampuannya di dalam bidang pendidikan semaksimal mungkin dan tentunya berbasis teknologi seperti tuntutan saat ini. Tetaplah memampukan diri menjadi guru zaman now, yang kehadirannya selalu menciptakan inovasi-inovasi terbarunya. Tetap mengedepankan Akhlak dan Kesantunan karakter seorang pendidik yang Digugu dan Ditiru. Guru yang selalu dikenang setiap nasehat dan bimbingannnya bagi muridnya. Salam hormat untuk semua guru-guru pejuang pendidikan.(*)