Kelas Virtual For Upskilling Students

NewMalangPos – Hampir satu tahun pandemi Covid-19 menimpa Indonesia dan berbagai negara di belahan dunia. Hal ini memicu terjadinya transformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan yang berdampak pada kualitas dan kuantitas pembelajaran. Digital based learning menjadi andalan semua sekolah untuk mengajar siswa siswinya secara daring, baik di perkotaan maupun pelosok desa Malang.

         Berbagai upaya dan ikhtiar sudah dilakukan oleh sekolah, dengan harapan meskipun pembelajaran dilaksanakan secara daring, siswa tetap menguasai kompetensi yang sudah diajarkan. Akan tetapi, tidak sedikit para orang tua mengeluh dan menuntut untuk dibukanya kembali sekolah-sekolah pada semester yang akan datang.

Meskipun pada kenyataannya sekitar 75 persen dari jumlah populasi di Indonesia sudah aktif berpartisipasi dan mahir menggunakan ponsel pintar, tak kurang juga dari mereka masih belum memiliki kemampuan untuk memulai kelas melalui e-learning atau yang sering kita dengar dengan sebutan vitual class.

Dengan adanya fakta tersebut, tidak heran banyak lapisan masyarakat yang belum bisa mengakses dan memaksimalkan pembelajaran melalui virtual class. Selain fakta di atas, beberapa fakta lainnya seperti terkendalanya akses internet, trouble jaringan yang disebabkan seringnya mati lampu dan beberapa gadget yang tidak compatible untuk mengakses virtual class, juga menjadi faktor terbesar pembelajaran selama musim pandemi ini tidak maksimal.

Dengan dianjurkannya virtual class pada awal masuk pembelajaran semester 1 Juli 2020 lalu, hampir seluruh media surat kabar maupun media sosial seperti facebook, instagram, twitter, status whatsapp bahkan konten pribadi youtube, ramai menjadi ladang aspirasi masyarakat betapa virtual class ini sangat tidak menguntungkan.

Beberapa pertanyaan timbul, apa hasil pembelajaran yang akan didapatkan? Apakah virtual class ini memang cocok untuk setiap jenis individu? Siswa membutuhkan guru yang nyata bukan media yang terbatas.

Dengan adanya virtual class inilah sekolah dan guru merasa tertantang dan termotivasi menemukan berbagai cara, bagaimana dengan wabah yang tampaknya tidak ada ujungnya ini, siswa bisa belajar dengan nyaman, aman dengan membentuk kelas pintar yang akan meningkatkan kompetensi siswa, baik akademik maupun non akademik.

Sejatinya, manusia terlahir di muka bumi untuk belajar, maka dengan adanya wabah Covid-19 bukanlah sebuah hambatan bagi siswa berkesempatan untuk meningkatkan keterampilan baik secara daring maupun luring.    

Upskilling students di masa pandemi ini bukanlah hal mudah, tetapi juga bukan hal yang tidak mungkin. Selama guru bisa menemukan dan menggunakan metode yang baik, maka virtual class ini akan membawa dampak positif yang lebih banyak dari pada pembelajaran yang dilakukan secara luring (luar jaringan).

Bahkan kemungkinan besar virtual class ini akan menjadi salah satu alat pembelajaran paling interaktif dan inovatif yang akan dimanfaatkan setelah dibukanya kembali sekolah-sekolah usai wabah Covid-19. Ternyata, wabah Covid-19 ini membawa berkah tersendiri untuk para guru bahasa Inggris di Lembaga Pendidikan Islam Sabilillah Malang.

Pandemi ini memberikan peluang dan ruang for upskilling students agarlancar berbahasa Inggris. Peran guru bahasa Inggris dituntut harus mampu mengeksplorasi, menggabungkan, dan mengimplementasi berbagai materi, media, sumber dan alat pembelajaran dengan keterampilan yang dimiliki (acceptable) dalam pembelaran jarak jauh (PJJ) ini.

Berangkat dari motto more practice you do and more fluently you speak, guru bahasa Inggris di SD Islam Sabilillah Malang terus mencari dan menjelajahi pengajaran virtual terbaik agar siswa siswi bisa upskilling kemampuan berbahasa Inggris mereka. Tiga kekhawatiran yang paling mendominasi saat PJJ antara lain; anggapan terbatasnya interaksi sosial antar pelajar dengan pelajar, pelajar dengan guru, dan hilangnya esensi dari sebuah pengajaran itu sendiri. Serta munculnya berbagai teknologi yang menganggap bahwa guru itu tidak penting. Semua statement seperti itu sudah tidak menjadi polemik lagi.

Kreativitas dan ide-ide baru menjadi kunci dan jembatan untuk kesuksesan kelas virtual ini. Terobosan besar yang dapat dilakukan oleh para guru bahasa Inggris ini adalah dengan mengadopsi dan mengaplikasikan berbagai media digital dari berbagai resources serta merangkul kerjasama dengan English native speakers, mahasiswa asing, foreigner, dan orang Indonesia yang sudah lama tinggal di English native country.      Seperti England, Australia bahkan Amerika. Meskipun banyak wisatawan maupun pelajar asing sudah dipulangkan ke negaranya masing-masing, hal ini tidak menjadikan kendala melainkan keuntungan tersendiri.

Dengan modal pembelajaran bahasa Inggris yang mengadopsi buku NGL (National Geographic Learning) yang didalamnya berfokus bahwa bumi adalah sumber belajar manusia, guru bahasa Inggris SD Islam Sabilillah Malang mengajak siswa siswinya untuk mengeksplor belahan lain dari bumi ini dengan belajar langsung dari penduduk asli tempat tersebut beserta cross culture understanding.

Beberapa kali kelas bahasa Inggris secara virtual dilaksanakan dengan mengundang native langsung sebagai tutornya dengan mengajar langsung dari negaranya. Seperti Arturo Diaz Herrera mahasiswa asal Spanyol yang rela meluangkan waktu untuk mengajar siswa-siswi kelas 1 meskipun ada perbedaan waktu sekitar 5 jam.

Dr. Malik dari Plymouth England yang sangat antusias mengajar anak-anak English Club tentang CCU meskipun ada perbedaan waktu sekitar 6 jam. Dan yang lainnya ada Shamsiyah dari Tajikistan dan Azizah Akbari dari Afghanistan yang sangat ramah dan interaktif  menjadi tutor selama kelas bahasa Inggris berlangsung.

Selama pembelajaran pun tidak hanya siswa, bahkan orang tua yang mendampingi di rumah pun sangat aktif dan antusias terlibat percakapan selama pembelajaran secara virtual ini. Serta tampak terlihat pada hasil nilai keterampilan (speaking) siswa mengalami peningkatan.

Oleh karena itu, tidak selamanya kelas virtual ini membawa dampak buruk maupun kemerosotan bagi siswa siswi. Melainkan dengan penggunaan yang bijak dengan ide-ide yang inovatif, virtual class bisa diyakini mampu untuk upskilling students baik pembelajaran bahasa Inggris maupun lainnya.(*)