Kejujuran dan Teknologi

new malang pos
Diana MuhayantiGuru SMK Putra Indonesia Malang

NewMalangPos – Perbincangan tentang revolusi industri 4.0 makin ramai dibahas sejak awal tahun 2020 lalu. Semua komponen di masyarakat saling berlomba-lomba mempersiapkan diri menghadapi era tersebut. Apa sebenarnya revolusi industri 4.0? Bagaimana kita menghadapinya? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak masyarakat.

      Mengutip blog Marcel Susanto, era industrialisasi sebenarnya sudah dimulai sejak 1776 saat James Watt menemukan mesin uap. Sejak saat itulah berbagai kegiatan produksi yang dilakukan manusia mulai berubah. Dari kegiatan yang mengandalkan otot dan sumber daya manusia yang banyak bergeser ke usaha produksi yang menggunakan mesin. Itulah revolusi industri 1.0.

      Kemajuan teknologi terus berlanjut hingga muncullah revolusi industri 2.0 pada akhir 1800-an yang ditandai dengan kemajuan di bidang transportasi. Selanjutnya revolusi industri 3.0 yang ditandai dengan mulai dikembangkan komputer dan robot sebagai pengganti tenaga manusia. Kini kita sudah memasuki babak baru dalam revolusi industri, yaitu penggunaan internet di segala bidang. Itulah era revolusi industri 4.0.

      Dapat dilihat saat ini hampir semua bidang kehidupan manusia modern tidak bisa dilepaskan dari internet. Mulai anak-anak hingga orang tua kini terbiasa memanfaatkan internet. Bukan sekadar untuk belajar dan mengenal berbagai hal melalui ponsel pintar dan komputer, melainkan juga menggerakkan kegiatan ekonomi, mengubah budaya, politik, dan kehidupan sosial masyarakat.

      Perubahan besar juga terjadi di dunia pendidikan. Semua aspek yang dibutuhkan dalam pembelajaran dapat mudah diperoleh melalui internet. Tidak ada informasi yang tak bisa diperoleh dengan cepat dan mudah. Internet menjadi bagian hidup keseharian masyarakat. Di satu sisi internet memudahkan guru dan siswa mendapatkan informasi.

          Namun di sisi lain, kemudahan itu berakibat pada rendahnya minat membaca buku – terutama yang dicetak -, keengganan melakukan pengamatan langsung, malas belajar, dan enggan bersosialisasi.

         Kemajuan teknologi dan modernisasi di berbagai bidang ternyata tidak serta-merta menggembirakan semua pihak. Meskipun kehidupan manusia banyak dipermudah oleh teknologi, tidak dipungkiri makin banyak pula sisi kemanusiaan yang terkikis dalam kehidupan sehari-hari.      Rasa kebersamaan mulai digantikan sikap individualis, karena orang tidak perlu lagi mencari teman untuk mendapatkan kesenangan. Cukup menggunakan ponsel pintar, aneka permainan (game) sudah tersedia banyak.

      Siswa SD hingga tingkat SMA/SMK tidak semuanya bijak menggunakan ponsel. Mereka tidak bisa memilah kapan perlu menggunakan ponsel dan kapan harus berhenti. Bahkan boleh disebut, tiada waktu luang tanpa menggunakan ponsel. Dalam pembelajaran, mereka sering sembunyi-sembunyi menggunakan ponsel untuk bermain game, chatting, atau sekadar membuka FB, ig, atau twitter.

      Kondisi itulah yang melahirkan berbagai keresahan bagi orang tua, khususnya para guru. Pemanfaatan internet dan ponsel menjadikan siswa malas belajar, karena semua tersedia secara instan. Memang tidak salah memanfaatkan internet untuk belajar, jika penggunanya mampu bertindak bijak.

      Menyikapi kondisi demikian, tentu guru dituntut menyesuaikan diri dalam mengembangkan kemampuan menggunakan teknologi. Bukan sekadar menggunakan ponsel untuk berkomunikasi, melainkan juga memanfaatkan berbagai aplikasi dan situs-situs pengembangan pembelajaran. Terlebih di era pandemi yang mengharuskan pembelajaran dilakukan secara daring.

      Pembelajaran secara daring menjadikan guru dan siswa tidak dapat berinteraksi secara langsung. Guru tidak bisa menilai secara objektif karena tugas-tugas yang dikirimkan melalui internet tidak dapat diketahui secara pasti. Apa benar karya itu murni hasil pemikiran siswa atau bukan. Dalam banyak kasus diketahui bahwa tugas-tugas yang diserahkan siswa sebagian besar hasil copy paste (copas) dari internet. Jika tidak, mereka copas tugas teman yang memang rajin mengerjakan berbagai tugas sekolah.

      Upaya mengurangi kebiasaan siswa menyontek tugas teman maupun copas dari internet, merupakan salah satu tantangan yang dihadapi para guru. Selain pendekatan personal dengan menanyakan langsung keaslian karya, guru juga harus melakukan penjelajahan di internet. Melalui cara demikian guru akan memiliki bekal tentang berbagai materi yang diajarkan maupun ditugaskan kepada siswa. Guru juga bisa menilai apakah karya siswa merupakan copas seutuhnya, atau mereka hanya mencuplik sebagian dan mengembangkannya sendiri.

          Nilai Humanisme

          Pendekatan personal adalah upaya guru menanamkan sikap jujur pada siswa. Jika siswa jujur mengakui tugas yang dikerjakan adalah karya orang lain atau karya sendiri hasil mengembangkan karya orang lain, mereka akan terbiasa jujur dalam segala hal. Sikap jujur itu akan berdampak pada kesuksesannya saat bekerja nanti. 

          Sikap lain yang perlu ditekankan pada siswa adalah tanggung jawab. Guru perlu menekankan pentingnya tanggung jawab pada siswa, agar mereka pun memiliki sikap tanggung jawab saat dewasa. Tanggung jawab itu tidak hanya ditujukan pada diri sendiri, melainkan juga kepada orang lain ketika mereka terjun ke dunia kerja. Tanpa kejujuran dan tanggung jawab, semaju apapun teknologi tidak akan memberikan efek positif bagi masyarakat, tapi justru efek negatif.

      Penanaman pendidikan karakter tidak akan diberikan oleh teknologi komputer maupun internet. Penanaman sikap jujur, bertanggung jawab, menjalin kerja sama atau kerja tim, dan memiliki sopan santun dalam pergaulan, harus dilakukan guru, orang tua, dan masyarakat. Sikap demikian itu tetap yang dibutuhkan dalam era revolusi industri 4.0.

      Dunia kerja tidak semata-mata membutuhkan teknologi. Industri tidak juga hanya bisa mengandalkan mesin, komputer, robot, dan internet. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak mungkin hanya mengandalkan teknologi dalam kesehariannya. Manusia tetap membutuhkan manusia lain sebagai teman berkomunikasi. Ada nilai-nilai humanisme yang tetap diperlukan, seperti etika, kerja sama, dan kasih sayang.

      Itu sebabnya kehadiran manusia tetap dibutuhkan di industri sebesar dan semodern apapun. Sebagai makhluk paling sempurna, manusia justru harus menjadi pengendali teknologi. Oleh karena itu manusia yang diperlukan adalah yang memiliki sikap jujur, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki sopan santun.(*)