Diah Budiarti, S.Pd. M.Pd. Guru Bahasa Indonesia SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School

NewMalangPos – Pandemi Korona adalah revolusi industri 4.0 yang sesungguhnya. Keadaan yang mengharuskan para guru untuk mahir menggunakan piranti berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran konvensional tatap muka tak lagi dijumpai. Dunia maya semakin nyata. Ditambah lagi, kecanggihan teknologi mutakhir berbasis kecerdasan buatan yang dinamai Artificial Intelligence (AI) mulai menjadi tamu baru dalam dunia pendidikan. Lalu, akankah kecerdasan guru kalah banding?
Guru dalam kacamata khalayak yang memiliki filosofi digugu lan ditiru (diperhatikan dan jadi panutan) sedikit demi sedikit mulai tersaingi dengan hadirnya teknologi-teknologi canggih. Kini, siswa dengan mudah mengakses segala informasi, wawasan dan ilmu pengetahuan hanya mengandalkan sebuah gawai.
Artificial Intelligence (AI) sebenarnya sudah melekat dalam mesin pencarian, misalnya pada Google Assistant. Hanya dengan memberikan sebuah perintah suara yang dapat ditangkap oleh perangkat handphone, kita tidak perlu repot untuk membuka dan mencari suatu map atau mengetik sesuatu karena gawai sudah terotomatisasi dengan kecerdasan buatan.
Sepakat dengan yang dikemukakan Halim dan Prasetyo (2018: 45), Artificial Intelligence (AI) menjadi bidang yang menantang dan kreatif. Bagaimana tidak, AI dapat meniru dan mengambil alih pekerjaan yang biasa dilakukan manusia. Sehingga demikian, tidak diragukan lagi, bahwa AI dapat meringankan beban kerja pengguna dengan segala keunikannya. Beberapa perusahaan teknologi telah menerapkan AI di antaranya Amazon, Facebook, Microsoft, hingga Google.
Kecerdasan buatan berasal dari Bahasa Inggris “Artificial Intelligence” atau disingkat AI yaitu intelligence adalah kata sifat yang berarti cerdas, sedangkan artificial artinya buatan. Kecerdasan buatan yang dimaksud di sini merujuk pada mesin yang mampu berpikir, menimbang tindakan yang akan diambil, dan mampu mengambil keputusan seperti yang dilakukan oleh manusia (Sutojo, 2011: 3).
AI berperan penting dalam pendidikan level universitas karena memiliki beberapa keuntungan antara lain lebih powerful karena memiliki sistem kerja yang lebih baik dalam menghandle informasi, meningkatkan interfaces, bisa mengonversi informasi menjadi pengetahuan, serta dapat menyelesaikan masalah karena dapat mendiagnosa dan memberikan hasil secara detail dalam hitungan detik.
AI sektor pendidikan terbagi atas beberapa bagian. AI untuk guru. AI untuk siswa atau pelajar. AI untuk orang tua dan AI untuk sekolah. AI di sektor pendidikan sangatlah trend di Amerika dan perlahan di Tiongkok (Suwarno, 2019: 1).
AI dapat membantu guru dalam kegiatan evaluasi seperti ulangan harian. Selain itu, AI juga dapat memberikan informasi dan menyimpan banyak data untuk lembaga pendidikan. Ketika banyak siswa melakukan kesalahan, AI dapat memberikan pembimbingan kepada siswa. Uniknya, AI ini juga dapat mengamati emosi manusia berdasarkan ekspresi. Dengan keunikan tersebut, AI dapat mengenali emosi siswa sehingga dapat mengajar siswa sesuai bakat. Kecanggihan AI dapat diterapkan dalam presensi siswa, penerimaan siswa baru, pengelolaan perpustakaan, manajemen keuangan hingga keamanan lingkungan sekolah.
Berbeda halnya dengan kecerdasan guru, sifatnya lebih alami. Kecerdasan alami seorang guru menjadi kompetensi fundamental yang telah dimiliki seorang pendidik meliputi kompetensi pedagogik, personality, profesionalisme, dan kompetensi sosial. Kompetensi pedagogik mengarah pada keterampilan guru untuk piawai mengelola interaksi belajar mengajar.
Guru juga memiliki cermin kepribadian positif sebagai suri tauladan siswa. Profesionalisme seorang guru mampu mendedikasikan diri sesuai dengan segala tugas guru dalam menyiapkan perangkat pembelajaran, menguasai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, menguasai mata pelajaran yang diampu, dan lainnya. Selain itu, guru juga cerdas dalam bersosial dengan melakukan adaptasi lingkungan serta membangun konektivitas.
Terinspirasi dari paparan pemateri workshop New Malang Pos 14 November lalu di Ijen Suite Resort & Convention, untuk menjawab tantangan guru era 4.0 sebenarnya guru dapat lebih sempurna tiada banding ketika berkenan mengasah diri menjadi ‘Si Kribo.’
‘Si Kribo’ adalah kepanjangan dari silaturahmi, kreativitas, imajinasi, dan kolaborasi. Sistem robot tidak akan mampu membangun koneksi melalui tali silaturahmi dengan kolega, rekan, dan teman sejawat. Hal ini juga terkait dengan kompetensi sosial guru.
Kreativitas pikiran guru untuk bisa meretas ide tidak mampu disejajarkan pula oleh teknologi. Teknologi hanya berjalan secara sistemik dan terotomatisasi berdasarkan perintah manusia sedangkan pikiran manusia khususnya guru mampu menghasilkan gagasan temuan untuk menjadi ilmu baru. Hal ini juga sejalan dengan kehebatan imajinasi atau daya khayal guru yang mampu merencanakan sebuah konsep masa depan.
Kolaborasi dapat memberi banyak manfaat. Manfaat yang paling dominan ketika satu sama lain mampu mengevaluasi dan saling melengkapi kekurangan yang ada. Kolaborasi ini dapat diterapkan dengan sistem win-win solution.
Diskusi yang dilakukan dalam berkolaborasi bertalian pula dengan kompetensi sosial guru. Misalnya dalam peer-teaching antarguru untuk saling memberikan masukan satu sama lain sehingga diperoleh saran perbaikan dalam pembelajaran.
Oleh karena itu, kecerdasan guru tiada pernah tertandingi sebagaimana kecerdasan guru ini alamiah yang telah dianugerahkan oleh sang pencipta. Bagaimanapun, sebuah pemberian perlu dijaga dengan baik dan optimal. Kecerdasan buatan yang muncul sebagai revolusi industri ini juga hasil dari pikiran-pikiran kreatif kecerdasan alami manusia. Sehingga demikian, bila dibandingkan, antara keduanya tidak akan pernah memiliki kedudukan yang sejajar.
Justru kecerdasan buatan dapat saling berkolaborasi dengan kecerdasan alami untuk menjadi satu kesatuan yang sempurna. Dalam kemajuan IPTEK ke depan, pekerjaan guru seperti mengoreksi, presensi kehadiran siswa, memberi ulangan harian dan ujian, menjelaskan ilmu, membuat laporan administratif dan pekerjaan yang sifatnya sitemik lainnya dapat diserahkan untuk dirampungkan oleh perangkat teknologi. Guru dapat lebih menghemat tenaga dan bisa lebih fokus dalam pekerjaan non-sistemik untuk mencetak generasi emas yang lebih berkarakter dan berkualitas dengan kecerdasan alaminya yang tak bisa dilakukan robot.(*)