Hoaks Vaksin Covid-19

NewMalangPos – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) merilis laporan hoaks terkait vaksin Covid-19. Setidaknya ada 80 informasi hoaks seputar vaksin dalam laporan terbaru yang dirilis pada 20 Januari 2021. Hoaks muncul dalam beberapa bentuk dan menyebar lewat beragam platform media sosial (medsos). Munculnya aneka hoaks dapat melemahkan upaya pemerintah menyukseskan program vaksinasi.

            Hoaks dapat membingungkan masyarakat dalam menemukan informasi yang kredibel. Informasi simpang siur dan kabur menyerbu masyarakat. Antara informasi yang benar dan yang keliru berpadu. Masyarakat terbelah. Ada yang pro vaksinasi, ada yang kontra. Mereka yang mendukung dan menolak vaksinasi lantas beradu argumen termasuk dengan narasi palsu.

            Informasi bohong yang viral tak sedikit dipercaya masyarakat justru sebagai yang benar. Situasi ini bisa meruntuhkan partisipasi masyarakat dalam program vaksinasi. Kalau keadaan ini terus berlanjut, bisa ambyar upaya pemerintah guna membangun kekebalan komunal (herb immunity) yang targetnya 70 persen populasi atau sekitar 181 juta penduduk Indonesia.

            Pada Senin (25/1), sebanyak 18.520 vaksin Sinovac tiba di Malang Raya. Ini kiriman perdana dari beberapa tahap yang direncanakan oleh pemerintah. Proses vaksinasi direncanakan akan dimulai pekan ini di Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang. Sementara vaksinasi segera dimulai, namun beragam hoaks yang melemahkan vaksinasi masih terus membombardir masyarakat, termasuk warga Malang Raya.

Lemahkan Kepercayaan Masyarakat

            Dari 80 item hoaks dalam laporan Kominfo, kebanyakan bernada melemahkan kepercayaan masyarakat pada vaksinasi. Misalnya, beredar informasi bahwa Danramil Kebomas Gresik meninggal akibat disuntik vaksin Covid-19. Informasi kematian ini sontak mengegerkan netizen. Tak sedikit yang percaya dan turut memviralkannya. Dalam sekejap, informasi bohong ini menyebar luas lewat media pertemanan WhatsApp (WA).

            Setelah ditelisik faktanya, ternyata Danramil Kebomas Gresik, Mayor Kav Gatot Supriyono belum pernah divaksin dan dia meninggal dengan indikasi terkena serangan jantung. Kematian Danramil jelas tak berkaitan dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Hoaks ini cukup berpengaruh karena berkaitan dengan progrom vaksinasi perdana yang sedang menjadi perhatian masyarakat.

            Banyak juga hoaks berupa aneka obat atau ramuan yang diklaim dapat menyembuhkan sakit dan membunuh virus. Sempat viral di medsos informasi yang berbunyi “Buat anggota group yang sudah di vaksin karena dapat undangan, mohon siapkan kelapa ijo,… jangan lupa. Bagi yang belum divaksin persiapkan diri, Insya Allah air kelapa ijo bisa jadi penawar efek racun vaksin”. Setelah diklarifikasi, informasi ini hoaks.

            Sejak Covid-19 melanda, banyak orang berusaha mencari beragam pengobatan sendiri. Cerita dan pengalaman sejumlah orang pernah melakukan pengobatan beberapa penyakit seperti di pas-paskan untuk obat Covid-19. Tak jarang orang hanya menggunakan ilmu otak atik gathuk. Tanpa didasari dengan pengetahuan dan ilmu yang cukup. Banyak orang selanjutnya menyampaikan informasi yang diyakininya tersebut di medsos padahal informasi tersebut tak teruji secara ilmiah.

            Dalam laporan hoaks vaksin yang dirilis Kominfo juga bermunculan hoaks vaksin dalam bentuk video yang viral di YouTube. Beredar video yang memperlihatkan warga yang bergelimpangan setelah disuntik. Video tersebut disertai dengan narasi “Ratusan korban bergelimpangan menjadi korban usai disuntik vaksin. Hati-hati, usahakan menghindari suntikan vaksin. Jika ada yang bertanya atau meneror, tunjukkan video ini sebagai bukti”. Setelah dicek ternyata itu video lama dan tak berkaitan dengan vaksinasi.

            Hoaks yang juga cukup mengganggu adalah tentang orang yang telah divaksin akan langsung kebal dan tak perlu mematuhi protokol kesehatan lagi. Beredar pula hoaks bahwa bagi yang menolak vaksinasi maka nomor rekening dan ponsel akan diblokir pemerintah. Ada pula vaksin dapat memperbesar penis. Seorang dokter merekomendasi vaksin disuntikkan di alat kelamin pria. Semua informasi tersebut tentu menyesatkan.

            Presiden Jokowi juga tak luput jadi sasaran hoaks. Diinformasikan bahwa vaksin yang disuntikkan ke Jokowi vaksin buatan Eropa dan beda dengan vaksin yang tersebar di masyarakat. Juga beredar informasi vaksin yang disuntikkan ke Jokowi adalah vitamin B kompleks bukan vaksin Sinovac. Beredar pula hoaks cairan vaksin tak masuk ke tubuh Jokowi. Muncul pula hoaks yang menyatakan bahwa Jokowi kejang-kejang pasca divaksin.

Perlu Literasi Digital

            Banyaknya hoaks terkait vaksin ini sengaja diproduksi oleh mereka yang ingin mengagalkan ikhtiar mencari solusi atasi pandemi. Beredarnya berbagai kebohongan ini tak bisa dianggap remeh. Pemerintah perlu melakukan kontra narasi atas munculnya beragam narasi miring tentang vaksinasi. Segala informasi yang bengkok tentang vaksinasi harus segera diluruskan oleh pihak yang kredibel.

            Kalau upaya ini tak segera dilakukan maka dikhawatirkan perang narasi anti dan pro vaksin akan tak berimbang. Justru narasi yang benar akan terkalahkan oleh informasi palsu. Karena tak sedikit masyarakat yang dengan mudah mempercayai beragam informasi bohong hanya gara-gara informasi itu viral. Aneka narasi hoaks perlu terus dipantau dan segera di lawan dengan cek fakta yang sebenarnya.

            Seluruh dunia saat ini sedang perang melawan hoaks vaksin Covid-19. Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih, Joe Biden juga menyatakan perang terhadap hoaks vaksin. Biden punya cara unik memerangi hoaks dengan menggandeng dokter sekaligus pakar imunologi di AS, Dr. Anthony Fauci. Saat ini, apapun peristiwanya, selalu muncul hoaksnya. Bahkan kecelakaan pesawat dan bencana alam pun tak lepas jadi materi hoaks.

            Kedewasaan masyarakat dalam mencerna informasi juga menjadi benteng tangguh hadapi gempuran hoaks. Kemampuan melek media (media literacy), terutama literasi digital masyarakat perlu terus ditingkatkan. Masyarakat sebagai konsumen media perlu kritis dan berdaya ketika mengonsumsi informasi. James Potter (2019) dalam buku edisi terbarunya berjudul “Media Literacy” menekankan bahwa keperkasaan yang dimiliki media harus diimbangi dengan keberdayaan masyarakat.

            Program vaksinasi sejatinya bukan hanya urusan kesehatan. Sukses program ini juga sangat ditentukan oleh keberhasilan komunikasi publik oleh pemerintah. Jangan sampai karena buruknya komunikasi publik justru dimanfaatkan oleh para kreator hoaks dengan leluasa menjalankan aksinya. Untuk itu, selain berperang lawan virus Covid-19, kita semua sejatinya juga sedang melawan virus hoaks yang juga sangat berbahaya. (*)