Hi-Tech dan Hi-Touch

NewMalangPos – Guru adalah garda depan dalam menentukan masa depan bangsa. Guru memiliki peranan penting dalam proses belajar dimanapun berada. Semenjak maraknya pandemi Covid-19 di dunia termasuk Indonesia, mengharuskan siswa belajar dari rumah untuk mencegah penyebaran wabah ini. Sistem imun yang rentan di rentang usia siswa membuat sekolah tidak mengambil risiko untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Hal ini jelaslah membawa dampak yang besar dalam dunia pendidikkan.

Terhitung semenjak bulan Maret hingga saat ini siswa sudah hampir 10 bulan melakukan pembelajaran dari rumah yang biasa kita kenal dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) atau Daring (Dalam Jaringan). Bukan tanpa kendala, pembelajaran yang dilakukan daring ini. Fasilitas gawai dan internet merupakan salah satu problem dalam pembelajaran daring. Kendati demikian, pemerintah sudah mengupayakan untuk menyediakan internet dan berbagai subsidi sehingga kebutuhan akan gawai dan internet dapat teratasi.

Menurut As’ari (2016) menjelaskan bahwa Permendikbud No. 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan, menyepakati ini dengan menetapkan bahwa lulusan setiap jenjang satuan pendidikan harus memiliki keterampilan berpikir dan bertindak kreatif, produktif, mandiri, kritis, kolaboratif, dan komunikatif. Keterampilan inilah yang bisa juga dikenal dengan kompetensi 4C’s (Creativity, Critical thingking, Collaborative dan Communicative). Kompetensi inilah yang seharusnya dilatihkan oleh guru kepada siswa untuk menyiapkan masa depannya.

Pembelajaran dari rumah, membuat jarak guru kepada siswa menjadi tantangan tersendiri. Interaksi yang biasanya dilakukan tanpa jarak, sekarang menjadi terbatas jarak. Pembelajaran tatap muka tetap harus dilakukan walaupun dalam jaringan melalui aplikasi zoom, google meet, Microsoft teams dan platform video conference lainnya.

Penugasan yang biasanya based on paper, saat ini menjadi paperless. Perubahan-perubahan ini dilakukan bukan tanpa kendala. Siswa dituntut untuk lebih mandiri saat belajar dari rumah dan tidak semua siswa berkesempatan mendapatkan pendampingan orang tua selama belajar dari rumah. Pendampingan orang tua dari rumah jelas sangat berbeda dengan pendampingan guru di sekolah, hal inilah yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa.

Gangguan lain adalah penugasan yang biasanya based on paper membuat interaksi siswa dengan gawai menjadi terbatas, yaitu untuk mencari informasi saja, kini menjadi berbeda 180 derajat. Siswa akan memiliki keleluasaan lebih untuk mengakses tugas dalam gawai yang juga terdapat fasilitas hiburan seperti game dan sosial media. Perhatian siswa selama proses belajar akan sangat mudah teralihkan dengan fasilitas hiburan tersebut. Hal ini mengakibatkan muncul problematika pada siswa, antara lain, tidak mengerjakan tugas tepat waktu, menurunnya kesadaran sosial dan aktivitas-aktivitasnya habis untuk kegiatan yang tidak bermanfaat.

Problematika di ataslah yang menjadi tantangan guru abad 21. Perubahan yang demikian cepatnya membuat guru sebagai garda terdepan mencerdaskan bangsa harus terus belajar dan berinovasi untuk menentukan proses belajar yang efisien dalam kondisi apapun supaya tujuan awal pembelajaran tetap bisa tercapai. Memahami karakteristik anak untuk memilih proses belajar yang sesuai adalah hal yang utama. Hal ini diupayakan untuk menentukkan arah pembelajaran sehingga walaupun berjarak, anak tetap bisa belajar dengan nyaman.

Sebagian besar siswa masa kini adalah anak-anak generasi Z (Gen Z). Menurut Ivanova & Smrikarov (2009), siswa dengan Gen Z ini adalah siswa yang terlahir dalam dunia digital (digital native), tidak bisa hidup tanpa teknologi digital, dan hidup dengan gadgets sudah tersedia serta mengelilinginya.

Dalam hal ini membuktikan bahwa anak tidak perlu terlalu diberi penjelasan berupa teori penggunaan gawai untuk belajar daring, karena mereka sudah sangat familiar dengan gawai yang ada. Sehingga pembelajaran daring melalui berbagai platform online bukanlah menjadi permasalahan utama karena siswa dapat dengan mudah mengakses materi atau penugasan lewat gawai masing-masing.

Era Hi-tech (High Technology) ini juga harus diimbangi oleh guru. Guru harus berinovasi dan bertransformasi dalam memanfaatkan berbagai platform yang ada untuk mendukung proses belajar. Pemanfaatan platform yang ada harus dimaksimalkan sehingga siswa tidak bosan dalam belajar. Inovasi guru dalam mengembangkan media pembelajaran dan assesmen yang efektif dan menarik akan sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.

Pembelajaran Jarak Jauh tidak hanya didukung dengan Hi-tech, melainkan juga dengan Hi-touch (High Touch). “Menyentuh” siswa dengan komunikasi yang melibatkan orang tua menjadi hal yang utama untuk menjaga motivasi belajar siswa. Dengan komunikasi lewat whatsapp maupun sosial media apapun sangat diperlukan untuk sekadar menanyakan kabar dan kondisi saat ini.

Guru memang tidak bisa mencurahkan perhatian secara langsung sama seperti saat pembelajaran dilakukan di sekolah. Tetapi, dengan membangun komunikasi yang baik inilah diharapkan siswa mendapatkan perhatian yang sama walaupun harus berjarak. Senantiasa saling mendoakan termasuk mendoakan siswa juga menjadi hal utama. Inilah yang memberikan nilai tambah, ikatan batin antara siswa dengan guru supaya ilmu yang didapatkan walaupun dengan daring tetap menjadi berkah dan manfaat untuk siswa.

Hi-tech dan High-touch adalah senjata utama untuk memberikan pelayanan pembelajaran daring yang efektif dan optimal. Diharapkan dengan hal tersebut siswa–siswa Indonesia memiliki keterampilan abad 21 yaitu menjadi lebih High-Creativity, High-Critical thinking, High-Collaborative dan High-Communicative Skill. Bekal inilah yang diharapkan masa depan generasi Indonesia maju yang tidak hanya cerdas intelektual tetapi juga anggun dalam karakter ada di genggaman generasi muda masa kini.(*)