Herd Immunity vs Adaptasi Alam

Indonesia berstatus sebagai negara berkembang sedang diuji dengan masifnya penyebaran virus Corona atau yang terkenal dengan istilah Covid-19. Pemerintah telah memberikan banyak kebijakan terhadap penanganan pandemi Covid-19. Sayangnya banyak dari masyarakat kita yang belum memahami betul makna dan tujuan yang tersirat dari kebijakan pemerintah. Kebijakan Social Distancing, kebijakan Physical Distancing, PSBB (Pembatasan Sosial Skala Besar), mengurangi kegiatan peribadatan, kegiatan masyarakat yang berisikokan berkumpulnya masyarakat dalam jumlah besar hingga larangan untuk mudik yang telah menjadi budaya masyarakat.

Masyarakat kita ada yang memahami namun lebih banyak yang tidak memahami secara detail permasalahan Covid-19 ini. Secara umum disampaikan Covid-19 ini menimbulkan penyakit menular dengan sistem droplet atau percikan air dari pasien yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu penyakit yang hampir sama dengan SARS (syndrome Accute Respiratory System) dimana pasien akan mengalami gagal napas diakibatkan infeksi virus ini.

Kebanyakan virus ini memiliki gejala seperti penyakit flu namun hasilnya lebih parah yang mengarah pada kematian individu yang jika memiliki sistem imunitas yang tidak memadai dan terlebih parah jika disertai dengan penyakit bawaan atau riwayat sakit seperti DM (Diabetes Mellitus), Hipertensi, Asma, ISPA dan lainnya.

Imunitas dewasa ini menjadi topik pembicaraan hangat di tengah masyarakat. Tidak hanya masyarakat pendidikan saja, namun seluruh lini kehidupan masyarakat. Kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya menjaga sistem kekebalan tubuh secara mandiri berangsur-angsur mengalami kenaikan. Banyak masyarakat yang pada akhirnya menjalani pola hidup sehat dengan memakan makanan bergizi serta bervitamin tinggi. Tidak kurang dari itu banyak masyarakat juga sering membaca bahkan sampai mempraktekkan berjemur di jam 10.00 hanya demi untuk mendapatkan sinar UV-B yang baik sebagai provitamin D3, dimana berfungsi sebagai aspek penting untuk meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah kanker, serta mencegah kasus penyakit autoimun. Bahkan untuk ibu hamil sangat dianjurkan karena dapat membuat bayi di kandungan nanti terhindar dari kasus penyakit autistic. Vitamin D ini didapat dengan secara cuma-cuma dan tidak menimbulkan kasus overdosis yang dapat kita rasakan yakni dari pancaran sinar matahari terkhusus dari sinar UV-B.

Belakangan pemerintah mengaungkan new normal sehingga dianggap menghasilkan acuan ilmiah menerapkan pilihan Herd Immunity. Herd Immunity adalah suatu bentuk kekebalan kelompok yakni yang mengacu pada situasi dimana cukup banyak orang dalam suatu populasi yang memiliki kekebalan terhadap infeksi sehingga dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

Kekebalan tubuh tersebut bisa berasal dari suatu vaksinasi atau dari orang yang menderita penyakit tersebut. Seberapa banyak orang yang dibutuhkan untuk menciptakan kondisi tersebut tergantung pada seberapa menularnya patogen Covid-19 ini. Kita contohkan saja seperti penyakit menular lainya yakni penyakit campak. Virus ini berhasil berhenti bahkan musnah setelah ditemukannya vaksin campak. Bahkan di Indonesia sendiri sudah menjadi bagian program posyandu yang diberikan mulai dari balita dengan disuntikkan atau kita kenal imunisasi.

Natalie Dean, seorang ahli biostatistik Universitas di Florida spesialis penyakit menular mengemukakan pendapat bahwa satu-satunya cara aman untuk mendapatkan Herd Immunity adalah dengan vaksin. Sedangkan untuk cara-cara lainya dianggap terlalu memiliki risiko tinggi terhadap angka kematian individu. Risiko tersebut dihasilkan dari minimnya informasi sejauh dan separah apa penyebaran Covid-19 ini jika dilihat dari demografi daerah-daerah yang telah terdampak. Setiap daerah memiliki demografi wilayah yang berbeda-beda.

Margaret Harrish selaku juru bicara WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa para peneliti virologi dan mikrobiologi sedang banyak menguji coba vaksin, sehingga para ilmuwan belum bisa memastikan apa saja yang bisa dilakukan oleh virus Covid-19 terhadap imunitas tubuh manusia. Termasuk di dalam nya kemungkinan seseorang yang sudah sembuh bisa menularkan penyakitnya dan jika hal ini terjadi, maka Herd Immunity tidak dapat bekerja bahkan akan menimbulkan banyak korban jiwa.

Setelah banyak kajian ilmiah yang dijalankan dengan menunggu sampai vaksin ditemukan layak sudah jika manusia harus kembali menghadapi ujian yang dinamakan “Adaptasi.” Manusia adalah makhluk adaptif. Misalnya saja, yang dikemukakan Talcott Parsons (1951)  tindakan manusia ditentukan niat, nilai, ide, norma-norma tertentu. Selain itu juga ditentukan oleh lingkungan. Ketika lingkungan berubah, tindakan juga bisa berubah. Artinya, manusia harus beradaptasi. Pendeknya, manusia dimampukan untuk beradaptasi seperti yang dikatakan Schneiders (1984). Malah Saravino (2005) menganggap, penyesuaian diri terhadap lingkungan diperlukan agar organisme bertahan hidup. Artinya, jika tidak ada adaptasi, itu justru akan membahayakan kehidupan. Setidaknya, akan mengurangi kemampuan organisme dalam bertahan hidup. Adaptasi diperlukan manusia untuk bertahan hidup dan melestarikan keturunannya untuk masa depan manusia itu sendiri.

Herd Immunity memiliki risiko akan menelan banyak korban jiwa, jika manusia tidak mampu beradaptasi dengan status prima kekebalan tubuh yang dimiliki oleh seseorang. Dengan membuat banyak orang terinfeksi, kemungkinan meningkatnya angka kematian juga akan tinggi. Misalnya jika diambil sampling data penduduk 70 persen dari total suatu populasi untuk sengaja diinfeksi, di antara populasi tersebut terdapat golongan muda, dewasa dan tua.

Dimana golongan tua lebih berisiko terpapar dan mengalami kematian, terlebih lagi jika disertai dengan Morbiditas penyakit bawaan seperti Diabetes Mellitus atau kanker paru-paru. Dilansir dari Science Allert  perkiraan kematian akibat infeksi Covid-19 sekitar 0,5-1 persen. Maka jika 70 persen dari seluruh populasi jatuh sakit, itu berarti bahwa antara 0,35-0,7 persen dari setiap orang di suatu negara yang menerapkan Herd Immunity akan mati.

Adaptasi adalah sebagai pilihan utama masyarakat untuk menghadapi tantangan pandemi virus Covid-19 ini. Satu-satunya syarat utama untuk berhasil bertahan dan beradaptasi adalah dari diri sendiri. Kelestarian manusia terletak pada seberapa tangkasnya kita meredam dan mengolah serta menyebarkan informasi. Jaga dan tingkatkan imunitas tubuh dengan baik juga akan mendukung adaptasi bertahan hidup manusia. Semoga lekas berlalu pandemi Covid-19 ini, dan kita kembali membangun peradaban kehidupan yang baru yang baik, kembali pada alam, dan kearifan alam.(*)