Guru Sang Conten Creator

new malang pos
Sedyawati, S.Pd Guru SMP Negeri 6 Kota Malang

NewMalangPos – Kita sudah sering mendengar era revolusi industri 4.0. Menurut Prasetyo dan Trisyanti (2018), era revolusi telah dimulai sejak abad ke-18 dan ditandai dengan penemuan mesin uap yang memungkinkan proses produksi dilakukan secara masal. Era revolusi industri saat itu disebut dengan revolusi industry 1.0.

Memasuki abad ke-19, revolusi industri 2.0 mulai masuk dengan adanya listrik, dimana penemuan itu membantu menurunkan biaya produksi. Revolusi industri 3.0 masuk sekitar tahun 1970-an ditandai dengan tenaga komputerisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang membawa peradaban yang semakin maju.

Tahun 2010, revolusi industri 4.0 mulai masuk  dengan adanya rekayasa intelegensia dan internet of thing yang menjadikan kehidupan masayarakat lebih mudah dan efisien.

Prof. Klaus Martin Scwabb dalam bukunya the Fourth Industrial Revolution (2017) menyebutkan bahwa kita saat ini sedang berada pada awal sebuah revolusi yang secara mendasar mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain. Inovasi-inovasi baru muncul sangat mempengaruhi kehidupan, lapangan pekerjaan baru dan profesi-profesi baru yang selama ini tidak terbayangkan bermunculan.

Seperti peluang usaha di market place (shopee, jdid, dsb), penyedia layanan transportasi online (grab, gojek, dsb), content creator, digital public relation dan masih banyak lagi. Peran teknologi seakan menggantikan peran profesi yang sebelumnya telah ada.

Bagaimana dengan peran guru di era revolusi industri 4.0? Di zaman yang segalanya serba canggih dengan banyaknya penemuan baru dan aplikasi baru, memungkinkan anak dapat belajar dari mana saja, kapan saja dan dari siapa saja. Baik dari mesin pencari maupun dari aplikasi-aplikasi belajar yang akhir-akhir ini banyak bermunculan di gadget.

Ilmu pengetahuan baru bisa diakses dengan mudah melalui gadget anak. Segala macam tutorial yang mereka butuhkan dan menunjang kehidupan mereka dengan mudah didapatkan dari berbagai sumber dan media sosial di gadget mereka.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah peran guru dalam era revolusi industri ini bisa digantikan dengan teknologi? Jawabannya adalah saat kita sedang berada di tengah pandemi Covid-19, sejak pertengahan Maret 2020 hingga saat ini dan sudah berganti tahun 2021, kegiatan pembelajaran masih dilaksanakan secara daring dari rumah.

Pada umumnya pembelajaran daring sudah dapat berjalan, meskipun ada kekurangan dan kendala yang harus dihadapi, baik oleh guru, siswa maupun orang tua. Kehadiran guru tidak serta merta digantikan teknologi, justru teknologilah yang dapat diberdayakan guru dalam melaksanakan pembelajaran secara daring.

Banyak yang merasakan, pembelajaran daring ini terasa kurang tanpa kehadiran guru secara langsung. Menyadari bahwa peran guru sangat strategis, maka sebagai guru tidak perlu khawatir tentang perannya yang tidak bisa digantikan teknologi.

Oleh karena itu, hendaknya guru secara mandiri selalu membekali diri dengan pengetahuan baru, teknologi baru dan inovasi-inovasi baru. Guru harus selalu berkomitmen untuk meningkatkan kompetensinya dalam melayani siswa. Guru harus mampu mengintegrasikan teknologi pada kegiatan pembelajarannya.

Guru sebagai conten creator, harus selalu menciptakan inovasi-inovasi dalam pembuatan media pembelajaran yang menarik untuk siswanya. Vidio pembelajaran yang menarik tersebut kemudian diunggah di youtube, tentu akan menjadi sumber belajar yang menarik untuk siswanya. Mengingat siswa generasi Z sangat tertarik belajar dengan menggunakan gadget dan media pembelajaran audio visual yang bergerak.

Keterampilan yang harus dikuasai siswa dalam era revolusi industry 4.0 ini adalah keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif dan keterampilan dalam berkomunikasi. Berdasarkan hal itulah guru harus kreatif dalam merancang pembelajaran agar ranah berpikir kritis siswa, sisi kreatif siswa, ruang kolaborasi siswa dan keterampilan komunikasi siswa dapat dikembangkan secara maksimal.

Guru harus dapat berkolaborasi dengan orang tua, tidak hanya dalam menyelesaikan masalah-masalah anak saja, tetapi juga menjadikan orang tua sebagai sumber belajar anak. Potensi inilah yang harus digali guru, bahwa beragam profesi yang dimiliki orang tua siswa dapat dijadikan sumber inspirasi untuk anak dalam belajar. Salah satu peran itulah yang tidak bisa dilakukan teknologi.

Peran guru tidak hanya transfer of knowledge saja. Jika hanya itu teknologi pun bisa mengambil alih. Lebih dari itu guru, sebagai transformation of value, guru menanamkan nilai-nilai yang baik pada anak, memberikan pembelajaran yang bermakna pada anak, membekali anak dalam mempelajari keterampilan hidup sehari-hari di rumah dan guru berorientasi penuh pada anak. Hal itulah yang tidak bisa dilakukan oleh teknologi.

Berorientasi pada anak adalah nilai esensi penting bagi seorang guru. Pendidikan harus holistik dan seimbang, seimbang antara cipta, rasa dan karsa. Seimbang antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik pada diri anak. Keseimbangan itulah yang pada akhirnya akan membawa pada kesempurnaan budi pekerti dan kebijaksanaan.

Anak-anak yang tumbuh dalam kebijaksanaan akan menggunakan teknologi secara bijak pula. Sebaliknya anak yang tumbuh tanpa nilai-nilai dan kebijaksanaan dan hanya mementingkan kognitif saja akan menggunakan teknologi utuk hal-hal yang kurang baik.

Dalam bahasa Ki Hajar Dewantara, yang dilakukan guru adalah “Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta suatu hak, tapi untuk berhamba pada sang anak.”  Berhamba pada sang anak di sini adalah analogi bahwa pendidikan itu berorientasi penuh pada anak, sesuai dengan kodrat anak, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan anak dan demi keselamatan dan kebahagiaan anak. Peran inilah yang tidak bisa digantikan teknologi, kini dan ke depannya nanti.(*)