new malang pos
Nadia Anastasia Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM

NewMalangPos – Bahasa adalah cara utama untuk berkomunikasi sehingga menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Dengan bahasa tersebut, seseorang dapat menyampaikan tujuan sehingga informasi dan pesan yang ditransmisikan ke orang lain atau masyarakat dapat diungkapkan. Situasi masyarakat yang memiliki keanekaragaman budaya dengan jelas memengaruhi berbagai skema komunikasi yang terjadi di masyarakat.

Skema komunikasi yang mungkin muncul dalam bentuk istilah atau kata-kata dalam budaya tertentu yang dilakukan selama proses komunikasi di Indonesia. Kadang-kadang peran budaya sangat dominan dalam struktur komunikasi seseorang di masyarakat sehingga kondisi tertentu yang tidak dapat diekspresikan dan harus disampaikan dalam bahasa regional.

Fenomena bahasa terjadi karena kurangnya bahan bahasa di Indonesia yang dapat menggambarkan kondisi masyarakat dan pemerintah di Indonesia. Oleh karena itu, kondisi ini adalah salah satu penyebab munculnya berbagai istilah dan model komunikasi di Indonesia yang memiliki makna dan nilai-nilai filosofis yang dipengaruhi oleh orang Jawa.

Seiring dengan perkembangan waktu, kata dalam bahasa Jawa banyak diserap dalam bahasa Indonesia. Proses tersebut terjadi karena kurangnya kosa kata dalam bahasa Indonesia untuk membahasakan suatu benda atau kondisi. Sementara dalam bahasa Jawa, kata yang dapat digunakan untuk mengungkapkan atau membahasakan suatu benda tersebut tersedia sehingga penutur bahasa Indonesia yang berlatar budaya bahasa Jawa dengan mudah menggunakan kata tersebut.      Proses penyerapan dari bahasa Jawa bukan hanya karena kebutuhan kosa kata, melainkan karena faktor filosofi makna yang terdapat dalam bahasa Jawa. Perubahan makna kata yang terpengaruh oleh budaya bahasa Jawa biasanya terdapat dua perubahan, makna ameliorasi dan peyorasi.

Perubahan makna ameliorasi merupakan perubahan makna yang terjadi pada suatu kata menjadi lebih baik dari makna sebelumnya. Contoh kata perempuan menjadi wanita dan laki-laki menjadi pria. Perubahan makna peyorasi merupakan perubahan makna yang menjadi lebih buruk/ kasar dibanding kata sebelumnya. Contoh kata istri menjadi bini, hamil menjadi bunting, dan meninggal menjadi mati.

Salah satu filosofi hidup yang tidak asing didengar oleh masyarakat Jawa adalah filosofi hidup milik Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah sosok Wali Songo yang sangat melekat pada Muslim di Pulau Jawa. Karena kemampuannya untuk memasukkan pengaruh Islam dalam tradisi Jawa. Jawa terutama digunakan dalam bahasa sehari-hari untuk wilayah Jawa Timur.

Perbedaannya hanya dalam tata bahasa, Arti dari ekspresi Jawa seringkali tidak dipahami oleh bagian dari keturunan etnis Jawa di era modern saat ini. Jadi tidak salah jika ada ekspresi yang menyatakan “Wong Jowo Ora Njawani” yang memiliki arti dari orang Jawa yang tidak mengerti “Jawa” miliknya sendiri.

Salah satu filosofi ungkapan Sunan Kalijaga adalah “Suro diyo joyo jayaningrat, lebur dening pangastuti” yang memiliki arti segala sifat keras hati, picik, angkara murka, yang hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

Makna atau maksud yang terkandung dalam filosofi Sunan Kalijaga tersebut adalah, hati yang tidak peduli dengan penderitaan yang dialami oleh orang lain, yang bersumber dari kekerasan hati yang dikuasai oleh nafsu duniawi semata. Karena itu kita harus mengendalikan nafsu kita dengan bijak, sifat yang diharapkan adalah, agar kita dapat mempunyai perasaan empati.

Maka dari itu hendaknya kita harus memiliki pemikiran yang tidak sempit dan selalu melihat bahwa setiap orang yang kita temui dapat memberi banyak pelajaran hidup, atau hal-hal positif yang dapat diambil. Apalagi sifat angkara murka yang memiliki arti kebengisan dan ketamakan yang jelas menjadi sifat yang tidak patut ditiru dan hanya menjadi celaka diri.

Dalam bahasa Jawa, ekspresi atau istilah digunakan sebagai sarana menerima ide atau pesan untuk menerima dan mudah dipahami oleh penerima. Beberapa jenis istilah Jawa yang sering ditemui yang pertama adalah Sesanti, digunakan untuk membakar semangat, membangkitkan motivasi, meningkatkan kesadaran diri, membangun kekuatan bawah sadar dan hubungan persatuan dan solidaritas kelompok.

Berikutnya ada pula Pasemon, merupakan sindiran halus yang ditujukan kepada pejabat negara terhadap suatu kondisi pemerintahan dalam masyarakat Jawa dimana muncul karena sistem pranata sosial masyarakat Jawa penuh dengan hierarki sehingga memunculkan kelas kata dalam berbahasa. Kelas kata dalam berbahasa tersebut dikenal dengan unggah-ungguhing basa atau tata krama dalam berbahasa.

Pasemon digunakan untuk menyampaikan pendapat atau mengritik atasan, tetapi dengan bahasa yang halus karena kecerobohan dalam menyampaikan kritik sosial dapat membahayakan diri sendiri. Dalam bahasa Indonesia, sering kita kenal dengan istilah ironi.

Piwulang merupakan nasihat yang diberikan kepada seseorang dalam hal kebaikan. Ajaran keutamaan hidup yang diistilahkan dalam bahasa Jawa sebagai media untuk mengajarkan kebaikan kepada sesama di masyarakat. Peranan piwulang kautaman adalah sebagai upaya pembelajaran untuk mempertajam kemampuan seseorang untuk senantiasa melakukan perbuatan baik. Karena secara alamiah manusia sudah dibekali kemampuan untuk membedakan perbuatan benar-salah dan baik-buruk. Contohnya adi luhung yang berarti nilai yang luhur, aji mumpung yang berarti menyalahgunakan kesempatan untuk kepentingan pribadi dan sebagainya.

          Dalam perkembangan zaman, ternyata bahasa Jawa masih berperan penting dalam penyampaian ekspresi dan motivasi dalam diri masyarakat. Boleh saja budaya Jawa dengan banyak kosa kata yang asing untuk beberapa suku atau bahasa yang berbeda. Namun pada era modern saat ini sudah banyak terdapat kajian serta penerjemah bahasa dengan hasil analisisnya yang sudah tersebar di dunia maya.     Masyarakat dapat menemukan dan menambah ilmu mereka di berbagai platform web yang tersedia di media sosial dan juga Google. Dan tidak terlepas dari perkembangan informasinya yang berkembang dengan era modern. Filosofi tersebut juga tetap mempunyai makna hebat dalam kata-kata yang tertulis, dan tentunya dapat memotivasi masyarakat dalam memaknai kehidupan.(*)