new malang pos
Nancy Susando, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Batu

NewMalangPos – Berdasarkan Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) No 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah (BDR) Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19, BDR bertujuan memutus mata rantai Covid-19 semaksimal mungkin, dengan tetap berupaya memenuhi layanan pendidikan.

Pertimbangan utama pelaksanaan BDR terletak pada keselamatan dan kesehatan lahir batin peserta didik, pendidik, kepala sekolah, dan seluruh warga satuan pendidikan. Pemerintah berharap melalui BDR peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang bermakna, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum, serta berfokus pada kecakapan hidup, menyesuaikan usia, jenjang pendidikan, konteks budaya, karakter dan jenis kekhususan peserta didik.        Pelaksanaan BDR di sekolah dapat dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) atau luring (luar jaringan) atau bahkan dapat melalui penggabungan dari kedua pendekatan tersebut atau yang dikenal dengan istilah Blended Learning. BDR memunculkan permasalahan baru di kalangan masyarakat. Mengapa demikian?

Karena masyarakat sekian lama sudah merasa nyaman dengan pembelajaran tatap muka di sekolah, dalam waktu yang singkat harus belajar pembelajaran secara online. Dari yang menggunakan Gadget hanya untuk bermedsos, harus menggunakan beberapa aplikasi yang harus digunakan untuk pembelajaran.

Bagi masyarakat yang akrab dengan IT tidak masalah, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mempelajari aplikasi yang baru. Tetapi bagi mereka yang belum akrab dengan IT, mereka membutuhkan waktu lama untuk belajar aplikasi yang baru.

Status sosial dan ekonomi orang tua, latar belakang pendidikan dan kepedulian terhadap dunia pendidikan pun beragam. Hal tersebut menjadi dukungan tersendiri bagi peserta didik selama kegiatan BDR. Mereka yang orang tuanya mampu akan berupaya membelikan HP/ gadget untuk kegiatan belajar anaknya, atau dapat juga meski tidak dibelikan HP baru, mereka dapat menggunakan milik orang tua untuk belajar dengan kemampuan HP yang canggih.           Berbeda lagi dengan mereka yang menggunakan HP seadanya, yang penting dapat digunakan untuk whatsapp, menerima tugas, membuka file tugas, meski lama membukanya karena kemampuan HP yang terbatas, tidak dapat menginstal aplikasi zoom. Hal tersebut akan memberi dampak yang berbeda terhadap motivasi belajar peserta didik.

 Terkait dengan latar belakang pendidikan orang tua, mereka yang orang tuanya mampu mendampingi saat belajar, mampu menjelaskan ulang materi yang tidak dimengerti, akan termotivasi mengerjakan tugas tepat waktu. Berbeda dengan yang orang tuanya tidak mampu mendampingi karena harus bekerja dan tidak dapat menjelaskan apabila anak mereka tidak mengerti karena sebagai orang tua mereka juga tidak paham pelajaran anak.

Mereka akan terkendala dalam pengumpulan tugas. Orang tua yang memeriksa terlebih dahulu tugas anaknya sebelum dikumpulkan, akan berbeda hasil yang diperoleh dengan mereka yang tidak diperiksa oleh orang tua, dan mengumpulkan seadanya. Orang tua yang telaten, menandai tugas anaknya dan jadwal setiap harinya pasti tidak akan terlewat tugas yang dikumpulkan. Sebaliknya, jika terjadi pembiaran, akan banyak tugas yang terlewat.

BDR memang memunculkan permasalahan baru, tetapi alangkah baiknya jika kita tidak terfokus pada permasalahan yang terjadi melainkan pada solusi. Apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua yang bekerja, sebagai orang tua yang tidak bekerja yang kesulitan membantu anak belajar dari rumah, sebagai anak, sebagai pelajar yang sudah lelah dengan belajar dari rumah? Pada situasi yang seperti ini, masa pandemi, stres terjadi di kalangan orang tua dan anak.

Emotion-Focused Coping

Emotion-Focused Coping merupakan salah satu strategi pengelolaan stres yang bertujuan mengendalikan respon emosional akibat situasi yang menekan (stressfull). Emotion-Focused Coping sering digunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang seakan-akan tidak dapat diubah. Hal yang diperlukan adalah perubahan cara pandang seseorang terhadap permasalahan yang dihadapi, bertujuan mengurangi intensitas emosi yang dirasakan.

Mengubah cara pandang dengan cara meyakinkan diri bahwa bukan kita sendiri yang mengalami permasalahan, baik permasalahan keluarga, pekerjaan, tugas belajar anak di rumah. Semua orang yang memiliki anak usia sekolah mengalaminya, kita tidak sendiri. Berbagi dengan mereka yang berpengalaman mengatasi stres sehingga berhasil mengatasinya, akan sangat membantu kita untuk move on.

Berusaha menerima keadaan dengan segala kekurangan yang kita miliki, bersyukur bahwa anak-anak tetap dapat sekolah. Kita dapat memotivasi diri dari dalam, dengan membahasakan bahwa tugas tidak harus benar, bahwa belajar sebagai suatu proses, sehingga apabila ada kesalahan itu wajar.

Menyikapi dengan lapang bahwa masing-masing anak diberikan kecerdasan yang berbeda, sehingga mereka juga tidak harus berada pada kategori sangat baik atau baik di semua mata pelajaran. Kemampuan kita mengubah cara pandang, akan mengurangi ketegangan di otak kita ketika banyak tuntutan yang tidak mudah untuk dipenuhi.

Melibatkan diri dalam aktivitas olahraga di lingkungan sekitar kita dengan protokoler kesehatan ketat akan meredakan ketegangan pikiran kita. Selain refreshing. Keuntungan lainnya tubuh kita menjadi sehat dan tidak mudah sakit. Tubuh yang sehat dapat membuat kita lebih mudah berpikiran positif, lebih tenang dalam menghadapi situasi yang menekan.

Melakukan aktivitas yang disukai, menonton film, acara favorit, mendengarkan musik, memasak, bernyanyi, berkebun, mengembangkan kreativitas, mengembangkan hobi. Melakukan kegiatan yang disukai, membuat suasana hati gembira. Suasana hati yang gembira meredakan stres. Selain pikiran kita rileks, kreativitas kita berkembang, melalui aktivitas yang disukai kita dapat menghasilkan karya. Karya yang kita hasilkan dapat dijual dan menghasilkan uang.

Mengatur waktu dengan baik membantu kita untuk memiliki perencanaan yang terarah. Mengatur waktu kegiatan sehari-hari membuat kita dapat mengantisipasi apabila ada kegiatan atau sesuatu yang di luar prediksi. Selain kegiatan yang menjadi tanggung jawab kita dapat terselesaikan, kegiatan yang tidak diprediksi pun dapat ditata sesuai kemampuan kita.(*)